Home Opini Akibat terlalu Terbiasa

Akibat terlalu Terbiasa

Akibat terlalu Terbiasa

Akibat terlalu Terbiasa Ghibah | Kebiasaan merupakan prilaku manusia yang diluar kepala. Tetapi, kadang kita tidak menyadarinya. Kebiasaan itu, ada dua, kebiasaan baik dan buruk. Dan, kedua kebiasaan tersebut ada pada diri manusia.

Pernahkah Anda membaca do’a sebelum makan?. Sebenarnya kebiasaan tersebut sangatlah baik, tetapi karena kadang kita masih belum terbiasa jadi ya nggak membaca do’a dulu sebelum makan.

Tapi nggak apa-apa, karena itu tidak membahayakan orang lain. Ada loh,, kebiasaan yang membahayakan orang lain, bahkan juga pada dirinya sendiri, yaitu kebiasaan “ghibah”.

Kebiasaan ghibah ini sangatlah buruk. Buruk untuk orang lain, juga pada dirinya sendiri.

“Ah, masa sih kang?. Lalu, apa sih ghibah itu sampai-sampai seburuk itu?” Tanya Supardi sembari menylumat rokok kreteknya sambil memesan kopi.

“Di, kamu pernah nggak cari perhatian pada seseorang?”

“Pernah, kang. Emangnya kenapa?”

“Lalu, kamu pernah nggak menjatuhkan nama baik seseorang di depan orang lain demi mencari perhatian?”

“Pernah juga”

“Lah, itu namanya ghibah di Supardi.”

“Lalu, buruknya dimana kang?”

“Kamu ini mahasiswa komunikasi, tapi kok goblok sih!!. Yang namanya menjatuhkan nama baik seseorang itu ya buruk, apa lagi di depan umum.”

“Owh, itu toh. Biasa aja kang, nggak usah ngegas, Bangsat!!!.”

“Ghibah itu sangat buruk, Di. Sampai-sampai Alquran menyebutnya sebagai memakan bangkai saudaranya sendiri.”

“Tapi kang, saya kan sudah terbiasa?”

“Jadi, kamu lebih mementingkan kebiasaan daripada menghentikan menyakiti orang lain?. Kebiasaan tersebut tidak hanya akan menyakiti orang lain saja, Di. Tetapi, juga akan berbahaya pada dirimu sendiri. Kalau Allah saja tidak membuka aib orang tersebut, mengapa kamu membukanya di depan orang?”

“Tapi saya tidak berniat menyakiti, kang. Saya hanya ingin mencari perhatian, selebihnya saya tidak menyadari apa yang telah saya katakan pada orang-orang.”

“Itu namanya akibat terlalu terbiasa, Di. Ingat!! Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui keburukan orang tersebut, itu artinya Allah menutupi aibnya. Maka, jangan tampakkan aibnya di depan orang lain.”

“Iya, kang. Kalau begini, saya jadi tahu apa itu ghibah.”

“Ingat ya Di, hanya dalam enam keadaan seseorang diizinkan bergibah. Yaitu pengaduan kepada pihak berwajib, membantu mengubah kejahatan, meminta fatwa, memperingatkan seseorang dari bahaya, menyebut ciri-ciri seseorang yang tanpanya tidak bisa dikenal, dan menggibahi orang yang terang-terangan melanggar aturan agama. Diluar itu, jangan sampai melakukannya. Orang yang menutupi aib saudaranya, akan ditutupi aibnya di hari Kiamat. Orang yang mengumbar keburukan saudaranya, maka Allah akan membeberkan keburukannya.”

“Sepertinya, besok saya harus ngopi kesini lagi, kang”

“Iya, kamu harus ngopi kesini lagi!!”

Baca Juga: Penikmat Nostalgia

Tulis Komentar