Beranda Cerita Aku Prioritas Kan?

Aku Prioritas Kan?

Prioritas

“Kamu itu cuma milik aku. Nggak boleh deket-deket sama cowok lain selain aku,”

Nayla memejamkan matanya. Mencoba memahami apa yang baru saja Agus ucapkan.

“Kak,” Nayla mendongakkan kepalanya. Menatap Agus dalam.

Tangan Agus mengusap pipi Nayla dengan lembut. Kemudian mengangguk.

“Kamu cuma punya aku, Nay.”

Dan, Nayla hanya bisa mengangguk. Mengiyakan perkataan Agus. Dia tak bisa menolak, kan? Nayla bisa apa selain terus patuh dan menurut terhadap Agus?

“Maaf, tadi udah biarin kamu sendirian. Harusnya aku tadi nggak nyibuk sama Nadia,” gumam Agus merasa bersalah.

Setelah tadi mendengar penjelasan Nayla di telefon, Agus sadar jika ini kesalahannya. Dia terlalu sibuk dengan Nadia tadi, sampai-sampai tak memerhatikan Nayla.

“Udah nggak usah dibahas, Kak. Aku mau istirahat,”

Gadis itu duduk di kasur empuknya. Melepas sepatu dan langsung berbaring. Kepalanya masih sedikit pusing untuk sekarang ini, dia ingin tidur sebentar.

“Ya udah kamu tidur aja. Kakak mau masak, laper.”

***

“Kak, aku prioritas kan?”

Nayla bertanya dengan mata yang terus terfokus pada ponsel di tangannya.

Agus tersenyum lalu mengangguk.

“Iya lah.” Tangannya terulur untuk mengelus rambut Nayla.

“Jadi aku boleh minta sesuatu sama Kakak?” tanya Nayla. Kini dia mendongak menatap Agus yang lebih tinggi darinya.

“Iya. Kamu mau sesuatu? Atau pengen makan apa gitu?”

Dengan senyuman manis khasnya, Agus bertanya kepada Nayla yang masih menatapnya dalam.

“Nggak pengen, Kak. Aku mau kakak di sini aja, nemenin aku.”

Entah mengapa sejak tadi Nayla begitu manja terhadap Agus. Agus tak mempermasalahkan itu semua, justru dia merasa senang. Karena dia bisa membuat Nayla bahagia.

“Ya udah. Aku di sini, nemenin kamu. Sampe kapan pun kamu pengen,” balas Agus.

“Sampe mama pulang ya, Kak? Iqbal suka rese kalo pulang sekolah,” gumam Nayla dengan wajah tertekuk. Iqbal, adik semata wayangnya itu selalu mengganggunya saat mama papanya tidak di rumah. Walaupun begitu, Iqbal begitu menyayangi kakaknya.

“Iya ya. Mau nonton film?” tawar Agus. Karena sedari tadi mereka hanya duduk di ruang tamu tanpa melakukan apapun. Hanya duduk berdua dengan Nayla yang bersandar di pundak Agus.

Nayla menggeleng, membuat Agus menautkan alisnya bingung. Lalu, mereka akan melakukan apa?

“Pinjem hape, Kak!” Nayla membuka telapak tangannya di depan Agus, meminta ponsel Agus untuk diserahkan kepada Nayla.

“Mau buat apa?” tanya Agus. Meski begitu, tangannya merogoh ponsel di saku celananya. Lalu memberikannya kepada Nayla, gadis yang begitu disayanginya.

Dengan senang hati Nayla menerima pemberian Agus. Mengetikkan sandi ponsel Agus yang sudah dihapalnya luar kepala.

“Pengen aja gitu ngusik hidup kakak. Pengen tahu aja kakak ngapain aja, sama siapa aja.” balas Nayla sekenaknya. Agus hanya tersenyum, senyum tulus yang ditujukan kepada Nayla. Dia tak mempersalahkan atau keberatan dengan apa yang Nayla ucapkan. Dia merasa tak ada yang harus ditutupinya dari Nayla. Karena dari kecil mereka terbiasa saling terbuka.

Tangannya merangkul bahu Nayla, lalu mengecup pelipis gadis itu kilat. Dia suka aroma Nayla, dia suka tingkah Nayla, dia suka senyum Nayla, dia suka rengekan Nayla, dia suka saat Nayla merajuk, dan dia suka apa pun tentang Nayla. Apa pun itu, karena Agus suka Nayla.

Agus memandangi wajah serius Nayla, wajah yang selalu mengganggu pikirannya. Wajah yang selalu saja membuat Agus jatuh cinta saat menatapnya. Agus tersenyum, dia teringat masa kecilnya dengan Nayla. Dari dulu sampai sekarang mereka selalu bersama. Dan Agus bahagia dengan itu semua.

Untuknya, Nayla adalah segalanya.

Menurutnya, Nayla itu beda. Tak seperti gadis-gadis yang pernah dia dekati sebelumnya. Nayla itu baik, dia lembut, dia ramah, suka senyum, Nayla itu bisa membuat Agus luluh hanya dengan tatapannya. Agus bahagia memiliki Nayla, begitupun sebaliknya.

“Kamu di sini, kakak mau ambil minum sama camilan dulu.”

Nayla hanya mengangguk saat Agus berkata seperti itu. Dia sudah tenggelam dengan dunianya sendiri. Jika sudah bersama ponsel milik Agus, Nayla sudah tak bisa diganggu lagi. Gadis itu suka sekali mengobrak-abrik isi ponsel Agus.

“Kak Agus kebiasaan, suka motoin aku kalo tidur.”

Senyum kecil terbit dari bibir Nayla saat melihat isi galeri Agus yang penuh akan foto-fotonya saat tidur. Entah mengapa, hal sesederhana itu membuat hati Nayla berbunga-bunga.

Namun, senyuman itu tak bertahan dengan lama saat dia juga melihat beberapa foto Nadia di ponsel Agus. Walaupun jumlahnya kalah banyak dengan foto Nayla, namun tetap saja Nayla tak rela. Ibarat sudah melayang ke angkasa, lalu dijatuhkan ke dasar samudera. Rasanya sakit.

“Nay, gulanya ditaruh mana sama mama? Di tempat biasanya nggak ada.”

Nayla tersentak saat mendengar teriakan Agus dari arah dapur. Sejurus kemudian dia berlari menyusul Agus ke dapur, meninggalkan ponsel Agus di sofa begitu saja.

“Di dalem lemari yang kaca, Kak. Banyak semut kata mama, jadi diumpetin.”

Agus tersenyum kecil mendengar perkataan Nayla. Gadis itu benar-benar lucu dan menggemaskan. Membuat Agus tambah sayang.

“Tinggi banget bunda naruhnya, emang kamu sampe kalo mau ngambil?” tanya Agus sambil meraih gula di lemari yang lumayan tinggi.

Mendengar itu Nayla mengerucutkan bibirnya. Iya, dia memang tak setinggi Agus. Tapi dia masih bisa menjangkau lemari itu, walaupun dengan naik kursi sih.

“Tauh ah, Kak. Aku sebel sama Kakak!” Nayla membalikkan badannya, meninggakkan Agus sendiri di dapur.

“Yee malah ngambek, dasar cewek!” gumam Agus tersenyum. Mengahdapi tingkah Nayla haruslah ekstra sabar.

“Kok bikinnya cuma satu sih, Kak? Kan aku juga mau.”

Agus yang baru saja duduk di sofa dan meletakkan jus alpukatnya menatap Nayla.

“Ya kamu nggak bilang. Jadinya Kakak kan bikin satu aja,” balas Agus tak terima saat disalahkan oleh Nayla.

“Harusnya Kakak peka dong, aku kan juga haus!” ucap Nayla kesal. Agus menghembuskan napas kasar, Nayla kumat nyebelinnya. Gadis itu kalo lagi nggak mood emang nyebelin, bikin emosi.

“Nggak papa sayang, satu aja biar romantis. Kamu minum bekas Kakak, kan kesannya kita kaya ciuman. Tapi nggak langsung,” gurau Agus tanpa rasa bersalah. Nayla melotot ke arah Agus.

“Kok jorok sih, Kak?”

“Canda, sayang.”

“Kak,”

Nayla memanggil Agus pelan.

“Apa?”

“Aku prioritas, kan?” tanya Nayla sekali lagi.

“Iya, sayang. Kamu prioritas, kamu mau minta apa lagi sama Kakak?” tanya Agus dengan penuh kelembutan.

“Beliin sate ya, Kak? Aku belum makan dari siang, sekarang pengen makan sate.” kata Nayla. Agus tersenyum dan mengangguk.

“Sekarang pejamkan matamu.”

“Mau Ngapain?” Tanya Nayla.

“Sudah pejamkan saja”

Nayla memejamkan matanya. Secepat kilat agus langsung mengelumut bibir mungil Nayla, Nayla pun hanya terdiam sambil tersenyum tipis.

“Ya udah, ayo!” ajak argus setelah mencium bibir Nayla.

“Kakak yang beliin, aku di rumah.”

“Ya udah, iya. Tapi kamu nggak papa di rumah sendiri?”

Nayla mengangguk.

“Nggak papa, Kak. Udah sana berangkat!”

“Sendiko dawuh ndoro putri,”

***

Sumber gambar: pixabay.com

Tulis Komentar