Beranda Cerita Cerpen Santri – Anak-anak Belantara Kota

Cerpen Santri – Anak-anak Belantara Kota

Belantara kota

Dari tempat ini, kita bisa melihat fajar maupun senja. Sepanjang siang dan malam selalu terdengar keriuhan orang, namun aroma sepi yang menenangkan justru semerbak. Barangkali, karena orang-orang hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan kita dengan sunyi.

Bersama, kita suka menepi. Duduk bersila di atap gedung tua lima lantai, bekas proyek yang lama terbengkalai.

Seperti saat ini. Kita rangkai mimpi-mimpi yang ditertawakan banyak orang. Menggantungnya di awan sore untuk kita kagumi. Mereka, mimpi-mimpi itu, serupa garis perak di pinggiran mega.

“Pantaskah kita bermimpi begitu tinggi, sementara kita hanya debu yang menempel pada bungkus permen yang dibuang sembarangan? Tergilas, terbang, terinjak.” Tanyaku dengan mata tersihir, mengikuti lembayung yang perlahan jatuh ke barat.

Bersembunyi, di balik gedung-gedung tinggi yang berbaris rapat. Kita, anak-anak belantara kota. Dua pengembara yang memutuskan untuk bergembira bersama.

Di tengah peradaban yang marah dan orang-orang yang terlalu lelah. Mereka menyebut kita begundal, liar, dan tidak tahu aturan. Sementara kita menganggap mereka hanya puritan yang membosankan.

“Bagaimana? Perlukah kita bermimpi?” Aku bertanya lagi karena kamu tetap hening.

“Perlu,” jawabmu singkat.

“Bolehkah terlalu tinggi?”

“Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi. Kita bahkan tak mampu membaca beda antara nyata dan ilusi. Lagipula … mimpi, satu-satunya hiburan gratis yang bisa kita miliki.”

“Apa mimpi terbesarmu?”

“Masuk surga,” jawabmu datar.

“What?!” Aku tertawa, mengataimu delusional. Menyuruhmu bercermin untuk mencermati diri sendiri.

“Kamu serius mau mendatangi surga dengan tampilan seperti itu? Rambut rancung berminyak, piercing hidung dan telinga, rajahan gambar anarki berserakan di kaki dan tangan. Ditampung neraka saja, harusnya kamu sudah lega.”

“Kamu tahu apa soal surga neraka?”

“Maksudmu apa?” Aku menoleh, hendak memakimu atas pertanyaan sok keren itu.
Namun, kosong.

Aku hanya berhadapan dengan udara dan pasir yang tertiup angin. Hanya ada fotomu di halaman surat kabar yang terkulai di sebelahku. Berita minggu lalu, ketika kamu dan kereta itu betubrukan dan merayakan hukum momentum. Aku senyap. Gerimis, dari mataku. Badai, dalam hatiku.

Langit sedang tak menentu. Kadang mendung, kadang merona. Pendar yang memancing halusinasi. Seolah kamu ada. Seolah kamu masih merona, seperti langit jingga.

Aku lupa, awal mula kita memutuskan menjadi teman. Aku hanya ingat, kamu dan aku berdendang dalam hujan, melingkup rasa-rasa yang tidak pernah mencoba menjadi cinta. Semenjak kamu ada, tempat ini serupa neraka yang berubah menjadi surga ketika senja.

Setidaknya, sebelum kamu berpindah menuju tempat di luar nalar.

Kini … tak ada lagi surga dan kata bahagia. Tepat di depan bangunan rongsok ini, neraka bersemayam dan memendam dendam-dendam.

Aku, perempuan muram. Menyimpan cinta yang kupeluk sendirian, diam-diam, pada malam-malam yang kelam. Cinta yang kini menjadi gendam, terhadap bisikan setan.

“Apakah kamu merindukanku, Cakrawala?”

Kakiku gemetar, berjalan gentar, perlahan menaiki pagar. Matahari masih bersinar, tapi dingin menusuk tulang. Nanar, mataku menatap keramaian stasiun kereta di barat daya. Membaca peristiwa.
Rel kereta. Kamu. Berhamburan.

Aku akan ke bawah sana. Sebentar lagi. Ketika langit memerah seperti darah yang tumpah ruah.

Aku akan menuju kamu, Cakrawala. Tentu saja, tanpa perlu menuruni tangga. Aku akan melompat lebih tinggi, dari tempat yang tinggi, menuju alam tertinggi.
Tunggu aku, kamerad.

Tulis Komentar