Beranda Pendidikan Bah Kacang Lupa Kulitnya, Bah-Bah kono

Bah Kacang Lupa Kulitnya, Bah-Bah kono

Bah kacang lupa kulitnya

Sejujurnya, sampah di dalam ruang yang berbenak saya sungguhlah banyak. Saya sendiri sampai bingung harus membuangnya di mana.

Saya juga linglung harus mulai dari mana dulu, membuang sampah-sampah ini. Entahlah apa yang merasukiku. Aku tak tahu.

Baru-baru ini, Saya gedek-gedek. Nggumun pada diri sendiri.

Wong Aku itu ya punya smartphone, Mengapa tidak Saya buang saja disitu.”Lek ra wong pekok gak ada yang seperti ini”.

Ya sudahlah, jadinya saya mencoba merangkai sampah-samapah yang absurd ini, ke dalam wujud tulisan.

Meskipun beberapa bulan terakhir ini Saya vakum dalam kacamata tulisan, semoga sampah saya kali ini bisa membuat anda tahu apa yang anda tidak tahu. Dan tidak membuat anda vakum.

Nah, kita mesti tahu, kalau menuntut ilmu adalah perkara yang sangat wajib. Iya, kan?

Sebab, ilmu sendiri merupakan salah satu perkara yang di mana tanpanya dunia yang kita pijak ini ambyar, rusak, dan morat-marit.

Maka dari itu, nggolek ilmu merupakan hal yang sangat wajib dilakukan oleh setiap insan manusia di bumi ini. Bayangkan saja kalau ada orang yang tidak punya ilmu?

Melakukan ini oke, melakukan itu oke. Begini tidak dosa, begitu tidak dosa. Begini ora opo-opo, begitu opo maneh.

Rumangsamu itu semua tidak ada pelanggerannya, tidak ada ilmunya? “Yho ada lah. Edan apa kalau tidak ada”.

Jangan jauh jauah dari itu ya,  apapun hal yang kita lakukan  sendiri saja itu juga butuh ilmu. “Lho kok bisa?” Yho bisa lah.

Jal, bayangkan dirimu mau menggunakan motor, tapi dirimu tidak tahu montor itu apa?

Kopling itu fungsinya apa?

Setartter itu untuk apa?

Terus kalau sudah berjalan kita harus bagaimana?

Tentu dirimu tidak bisa menggunakan motor kalau kita ngga mengetahui motor itu apa.

Tahu pak motor iku tunggangan!” Kalau sekilas itu saja, bisa-bisa istri tetangga itu yo tunggangan.

Maka dari itu, mencari ilmu wajib, sangatlah wajib. Entah bagi siapa saja. Cilik gedhe, tua maupun muda tetaplah diwajibkan mencari ilmu. Samapai akhir menutup mata.

Tapi pembahasan kita bukan masalah itu. Itu hanya sebagai pemanis atau kata pengantar saja.

Melainkan pembahasan kita kali ini adalah bagaimana prosedur seseorang itu mencari sebuah ilmu.

“Apa ada masalah?”

Jika di benak pikiran anda terlintas pikiran yang begitu. Berarti anda kurang memerhatikan pendidikan di negeri ini.

Di Indonesia, banyak cendekiawan, umbrukan orang-orang yang ber-intelektual tinggi. Dan  banyak sekali wong pinter.

Tapi ketahuilah, juga masih banyak dari semua itu yang keblinger.

Bahkan, samapai saat ini, di Indonesia masih krisis manusia yang berbudi pekerti, yang ber-etika luhur, dan masih miskin orang yang bisa memanusiawikan manusiawi.

Bukanya saya sok-sok sokan. Bukanya saya ita-itu, kemlinthi, keminther tur minteri. Tidak !

Saya mengatakan sedemikian rupa, sebab saya sendiri melihat secara langsung, jelas dengan kepala mata saya sendiri.

Permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita saat ini terletak dalam prosedur, ataupun proses, konsep dan kegiatan. Di mana seseorang atau murid menuprih sebuah ilmu.

Sebelumnya, ketahui dulu. Ilmu merupakan perkara yang suci. Perkara yang turun langsung dari Pangeran. Perkara yang harus kita cari dengan cara yang tidak semena-mena. Tidak sak karepe dewe.

Sebab menuprih ilmu juga butuh etika, butuh adab, butuh tata kerama, butuh sopan santun, butuh keikhlasan dan masih butuh banyak hal lain, yang di mana jika kita bahas mendalam lagi tidak ada habis-habisnya. Ora onok enteke.

Tapi apa faktanya? apa kenyataanya?

Di luar sana masih banyak murid ataupun seseorang yang belum mengetahui, ataupun tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Pasalnya, sekarang masih banyak murid-murid yang nakal, yang mbeling, yang sak karepe dewe terhadap proses kegiatan belajar mengajar.

Atau juga dapat disebut proses di mana ilmu ditransfer dari guru ke murid. Termasuk juga Saya sendiri. Itu semua masih berlaku dan masih sering sekali terjadi.

Salah satunya adalah krisisnya kesadaran, di mana murid tidak menyadari kalau dirinya sebagai murid.

Atau menyadari posisinya sekarang menjadi murid, Maqomnya sekarang menjadi seorang murid. Dan sebaliknya.

Hal tersebut sangatlah tidak karu-karuan banyaknya. Samapai-sampai terjadi kasus-kasus yang seakan-akan menampar keras dunia kependidika kita.

Sekarang, di telinga tidaklah asing lagi kalau banyak kasus pembunuhan seorang murid terhadap guru. Atau guru yang melecehkan muridnya.

BACA Juga: Manfaat dan Pentingnya Website Untuk Lembaga Pendidikan

Hal tersebut sangatlah tidak masuk akal sekali, kan?

Bisa-bisanya murid memukul guru yang tidak berdosa, sampai-sampai ia meninggal.

Atau guru yang melecehkan muridnya. Sebab iya tegoda dengan kesemlohaian muridnya. Dan tidak kuat ngempet. Padahal guru tersebut merupakan salah satu kunci di mana ilmu itu bisa bermanfaat dan bisa barokah.

Guru merupakan cermin, yang digugu dan ditiru oleh banyak orang.

Itu semua terjadi disebabkan miskinnya etika dan adab dalam proses belajar mengajar.

Lha wong guru yang seharusnya di hormati, di ta’dzimi. Malah di pateni. Haduh, haduh.

Okelah, sebab dari itu kajian-kajian etika, adab, tata krama, unggah-ungguh dalam ranah proses mencari ilmu patut sekali kita hidangkan kembali.

Agar apa?

Agar hakikat sebuah ilmu, sebuah belajar dan sebuah bibinahu itu kembali lagi.

Juga suapaya, orang-orang yang berkecimpung dalam ranah kependidikan tahu kalau etika itu sangatlah penting.

Bisa-bisa jika di jar-jarne lebih lanjut. Pendidikan di negeri ini hancur berantakan.

Bagaimana tidak? Wong muridnya saja tidak menyadari kalau dia murid.

Sekolah tidak sekolah, biasa saja. Padahal waktunya sekolah.

Masuk kelas tapi tidak masuk kelas, ya biasa saja. Padahal waktunya masuk kelas.

Masuk kelas tapi tidak mengikuti belajar ya biasa-biasa saja. Malah-malah ada yang membunuh gurunya sendiri.

Hal yang seperti itu sangat lucu lah ya!. Masa sebegitunya pendidikan kita?

Tapi, saat ini hal tersebut bukanlah hal lucu lagi. Melainkan hal yang sudah biasa. Wes tau.

Itu sebabnya dampak dari kurangnya kesadaran di mana posisi kita saat ini murid, dimana kurangnya murid merasa menjadi murid. Dan sebaliknya.

Seakan-akan itu semua bagai kacang lupa pada kulitnya. Maksud dari kulit di sini adalah lupa pada sragamnya. Pada kedudukanya ia sebagai apa.

Hal yang seperti ini harus kita bongkar, kita ubah ke hal-hal yang setidaknya lewih baik lagilah dari pada kemarin-kemarin.

Ya, Kalau tidak segera kita rubah dan kita sikapi. Tetap sajalah tiada perubahan.

Belajar tidak belajar karepmu. Masuk kelas tidak masuk kelas, ya karepmu. Guru dihormati dan tidak dihormati ya sak karepmu, Bah-bah kono ora ngusurusi.

Dan jika kita berada pada taraf bah-bah kono. Berarti Negeri kita paceklik kesadaran  Dalam ber-etika. Khususnya pada ranah pendidikan.(Ans)

Tulis Komentar