Fathnan ID
Available for Project

Bahasa Khas Orang Trenggalek vs Tuban

Penulis:
3 menit baca

Kalau dengar kata Trenggalek, apa yang langsung melintas di kepala? Genteng Nglayur yang legendaris, pantai selatan yang ombaknya suka nantang adrenalin, atau sepiring nasi tiwul anget yang ampuh bikin diet cuma jadi wacana?

Bagi yang belum tahu, Trenggalek itu daerah pesisir selatan Jawa Timur yang konturnya luar biasa dramatis. Sekitar 83 persen wilayahnya adalah pegunungan, alias cuma sisanya yang rata dan manusiawi buat ditinggali. Jadi wajar kalau jalan-jalan ke sini rasanya mirip uji nyali rem motor.

“Loh, kok sampean ngerti tenan Mas? Sampean kan asline wong Tuban to?” celetuk Kasmudi suatu sore sambil nyeruput kopi.

“Lha ya jelas ngerti, Mud. Aku wes terdampar ning Trenggalek telung tahun punjul, Bro!” jawab saya mantap.

Meskipun gaungnya kadang kalah mentereng dibanding kota besar tetangga, Trenggalek itu punya magnet tersendiri. Salah satu yang paling gampang bikin kepala perantau kayak saya pusing tujuh keliling di awal—tapi ujung-ujungnya malah ngakak adalah dialek lokalnya.

Sebagai arek Tuban yang terbiasa dengan gaya bahasa pesisir utara yang blak-blakan, telinga saya sempat mengalami kejutan budaya begitu mendengar kosakata khas warga Trenggalek berikut ini:

Nyapo

Kata ini frekuensi kemunculannya tinggi banget, mirip iklan di YouTube yang nggak bisa di-skip. Kalau di Tuban, kami biasanya pakai kata tanya “kenek opo” (kenapa). Begitu dengar nyapo pertama kali, rasanya singkat, padat, dan langsung nancep ke inti masalah tanpa basa-basi.

Mendah

Nah, kata satu ini di luar Trenggalek dijamin langsung bikin orang mikir keras. Mendah dipakai untuk menunjukkan rasa heran atau ketidakpercayaan yang mendalam. Padanan akuratnya di Tuban ya “mosok” (masa sih).

“Mendah, ngono ye?” (Mosok, masa iya gitu sih?)

Nyatuke

Waktu awal-awal tinggal di Trenggalek, kata ini sukses bikin saya ketawa sendirian di warung. Entah kenapa pelafalannya kedengaran menggelikan di kuping perantau. Ternyata, nyatuke itu sepadan dengan kata “nyatane” (faktanya/kenyataannya) kalau di kamus bahasa Tuban.

“Nyatuke ngono kok e…” (Kenyataannya emang gitu kok…)

Panggah

Buat wong Tuban asli, kata ini asing pol. Tapi di Trenggalek, kata panggah ini sangat multifungsi untuk menggambarkan sesuatu yang “tetep” alias konsisten tanpa perubahan.

“Uripmu… panggah ngono ae to Kang. Jan, ora enek perubahane blas!” (Hidupmu kok panggah gitu terus to, Bro. Nggak ada kemajuan sama sekali!)

Ora Kere

Ini dia juara bertahan kategori kosakata paling rawan memicu salah paham. Di Tuban, ora kere itu artinya ya harfiah: “tidak miskin” alias banyak duit. Tapi di Trenggalek, ora kere itu ungkapan penolakan mentah-mentah! Kalau dialihbahasakan ke gaya Tuban, padanannya adalah “plaor” (emoh, males banget, ogah).

“Jon, we ngko tak kon ngganteni ceramahku neng masjid yo?”
“Ora kere!” (Ogah banget, males!)

Bayangkan kalau Anda belum tahu artinya, terus ngajak orang Trenggalek kerja sama tapi dia jawab “ora kere” bisa-bisa Anda mikir dia lagi pamer saldo rekening.

Ritek

Kata ini sering nyempil sebagai imbuhan penegas kalimat, mirip-mirip ungkapan “yowis” kalau di Tuban. Misalnya pas orang Trenggalek ngomong “Ora ritek!”, itu semakna dengan “Ora atek ngono yowis, Mas” (Nggak usah gitu ya udah). Singkat, efisien, khas orang yang nggak mau ribet.

Sebenarnya masih banyak kosakata unik lain yang bikin saya geleng-geleng kepala. Misalnya kata “mangkleke”, yang fungsinya mirip kata umpatan khas persaudaraan arek Tuban: “kakekane”—biasa keluar saat nongkrong santai bareng teman akrab buat melepas unek-unek.

Tulisan ini jelas bukan buat mengotak-ngotakkan atau mendebatkan dialek mana yang paling keren. Justru, perbedaan unik kayak gini yang bikin Indonesia itu seru: beda kabupaten sedikit saja, kamus gaulnya sudah ganti total.

Kira-kira dari deretan bahasa Trenggalek di atas, mana yang menurut Anda paling bikin gagal paham?