Cinta Kepada Orang yang Berbeda Keyakinan

  • Whatsapp
Berbeda keyakinan

Agama adalah cinta. Siapa yang tidak memiliki cinta, maka seakan-akan ia tidak beragama. Agama Allah adalah agama yang dibangun atas dasar kasih sayang.

Bahkan ia disebut-disebut sebagai risalah kasih sayang untuk alam semesta. Alam semesta, yakni semua yang selain Pencipta.

Muat Lebih

Di antara apa yang dimaksud dari “alam semesta” adalah manusia. Sungguh, mudah sekali bagi seseorang untuk mencintai Tuhannya, karena Tuhan adalah kesempurnaan.

Tetapi, teramat sulit mencintai manusia, karena manusia adalah ketidaksempurnaan. Karena itu, belum dapat dikatakan mencintai Tuhan, jika ia belum mampu mencintai ciptaan-Nya.

Manusia terdiri dari mukmin dan non mukmin. Sesama mukmin, kita diperintahkan untuk saling mencintai karena keimanan dan kemanusiaan.

Kepada selain mukmin, kita juga diperintahkan untuk saling menyayangi atas dasar kemanusiaan.

Allah tidak pernah melarang orang-orang mukmin untuk berbuat baik pada mereka yang tidak mengganggu kenyamanan hidup orang-orang beriman.

“Allah tidak melarang kalian (menjalin hubungan baik) dengan orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama, dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian, (dan Allah juga tidak melarang kalian) berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. Al-Mumtaẖanah: 8)

Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah, ketika itu ada sekelompok orang yang  telah masuk Islam dan memiliki kerabat yang belum bersedia memeluk Islam, mereka bertanya, “Apakah kami boleh memperlakukan mereka dengan baik?”

Lalu turunlah ayat ini: Allah tidak melarang kalian (menjalin hubungan baik), yakni berbuat baik pada mereka, sebagaimana mereka berbuat baik pada kalian.

Bahkan kalian boleh berbuat lebih baik dari sikap baik mereka pada kalian. Tidak ada larangan berbuat baik dengan orang-orang yang, selama mereka tidak memerangi kalian karena agama.

Bahkan apabila orang tua kalian memaksa kalian agar menyekutukan Allah, kalian tetap harus berbuat baik padanya, yakni dengan penolakan yang sopan, dengan tutur kata yang santun.

Dan kalian juga boleh berbuat baik pada mereka, selama mereka menghormati agama yang kalian anut, tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian, (dan Allah juga tidak melarang kalian) berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka.

Saat kalian membalas keburukan pada mereka pun, kalian harus tetap berlaku adil. Dalam ayat yang lain, Allah juga mengimbau, agar apabila kalian berperang, kalian tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas, apalagi sampai melukai keluarga mereka: orang-orang yang telah renta, perempuan, dan anak-anak. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berdakwah kepada Firaun, Allah memerintahkan agar mereka berdakwah dengan tutur kata yang lembut dan tidak menyakiti.

Firman-Nya, “Berangkatlah kalian kepada Firaun (untuk berdakwah), sesungguhnya ia benar-benar telah melampaui batas. Lalu, berbicaralah padanya dengan kata-kata yang lembut (dan tidak menyakiti), agar ia sadar dan takut.” (Q.S. Thaha: 44)

Dari ayat ini, bahkan sementara ulama kemudian menyimpulkan, bahwa Firaun beriman pada akhir hayatnya.

Sebab, kata “La’alla/agar”, jika difirmankan oleh Allah, maka ia pasti dan harus terjadi. Pendapat ini juga menggunakan ayat lain sebagai bukti bahwa Firaun adalah orang yang beriman sebelum kematiannya. Yaitu, “Sehingga ketika ia mengetahui akan terjadinya penenggelaman, ia berkata, Aku beriman bahwa tidak ada tuhan selain (Allah) yang diimani oleh (Musa, Harun, dan) Bani Israil. Dan aku termasuk orang-orang yang Islam.” (Q.S. Yunus: 90)

Para ulama juga mengimbau, agar orang mukmin tidak menyombongkan diri, lalu memandang dengan sebelah mata kepada orang-orang yang tidak beriman.

Karena, boleh jadi, yang hari ini beriman, di akhir hayatnya malah berkafir. Yang hari ini kafir, boleh jadi nanti akan beriman.

Di sebuah pasar di Madinah, ada pengemis Yahudi yang tiada berfungsi penglihatannya. Dia selalu berkata pada orang yang mendekatinya, bahwa Muhammad adalah pembohong dan penyihir. Ia selalu menghina dan mencacinya.

Sementara itu, setiap pagi Rasulullah saw. selalu membawakannya makanan dan menyuapkannya, tanpa berbicara apapun, juga tanpa memberitahu siapa dirinya.

Begitu seterusnya, hingga Rasulullah saw. meninggal dunia. Tidak ada lagi orang yang biasa memberi makan pengemis Yahudi itu.

Hingga pada suatu hari, Sayyidina Abu Bakar mendatangi rumah Rasulullah saw. dan bertanya kepada Sayyidah Aisyah, putrinya, sekaligus istri Rasulullah saw. Ia bertanya, “Sunah apakah yang belum saya lakukan?”

Aisyah menjawab, “Semuanya telah kaulakukan. Kecuali satu. Setiap pagi, Rasulullah saw. selalu memberi makan pada pengemis buta yang berada di pasar.”

Keesokan harinya, Abu Bakar datang pada pengemis buta itu, dan menyuapinya makanan. Pengemis itu berkata, “Anda bukanlah orang yang biasa memberi saya makan. Yang memberi saya makan, biasanya mengunyahkan dulu makanannya, baru kemudian disuapkan padaku.

Di mana orang yang biasa memberiku makan?”

“Nabi Muhammad telah wafat.”

“Apakah yang biasa memberiku makan adalah Muhammad?”

“Ya.”

“Setiap hari aku menghinanya, mencacinya, mengolok-oloknya. Setiap hari pula ia berbuat baik padaku.”

Pengemis buta itu kemudian mengucapkan kalimat Syahadat di hadapan Abu Bakar.

Nabi Ibrahim as. sejak kecil telah berada di lingkungan orang-orang kafir. Barangkali itulah yang menjadi penyebab beliau sedikit anti pada mereka.

Ketika ia berdoa, orang-orang yang kafir tidak disertakan dalam doanya. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Tuhan Pemeliharaku, jadikanlah negeri ini (negeri yang) aman sentosa dan anugerahilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.” Lalu Allah berkomentar, “Dia berfirman, ‘Orang-orang kafir juga.’ Aku senangkan dia sedikit, kemudian Aku paksa dia (menuju) ke azab neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (Q.S. Al-Baqarah: 126)

Suatu hari, Nabi Ibrahim pernah didatangi oleh seorang tamu yang beragama Majusi. Lalu Ibrahim berkata, “Aku tidak akan menerimamu sebagai tamu, hingga kamu bersedia meninggalkan agamamu itu.” Maka orang Majusi itu pun pergi.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, mengapa engkau menolak orang itu sebagai tamu sampai ia mau keluar dari agama Majusinya? Apa susahnya memberi tumpangan orang Majusi semalam saja? Kami bahkan memberinya makanan dan minuman selama tujuh puluh tahun, padahal ia kafir pada Kami.”

Maka berpagi-pagi Ibrahim mencari orang Majusi itu. Begitu bertemu, Ibrahim meminta maaf.

“Apa yang membuatmu kemarin mengusirku, dan hari ini mencariku?” Orang Majusi itu bertanya keheranan.

Ibrahim kemudian menceritakan tentang apa yang diwahyukan Allah padanya. Orang Majusi itu tidak kuasa menahan rasa harunya dengan menitikkan air mata.

“Apakah Tuhan memperlakukanku sebaik itu padahal aku telah ingkar pada-Nya?” Ia pun meraih tangan Ibrahim dan mengucapkan kalimat Syahadat.

Hidup ini sangat kompleks. Jalan menuju Tuhan sangat luas. Yang dapat menyatukan hanyalah hati.

Itulah yang dilihat dan dinilai oleh Tuhan. Dia tidak pernah peduli dengan bentuk fisikmu maupun ritual keagamaanmu.

Karena bukan itu yang menjadi ukuran seseorang beriman. Tapi apakah hatimu suci atau tidak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *