Bercengkrama Dalam Cinta | Chapter 2

  • Whatsapp
Bercengkrama dalam Cinta

AKU berjalan setengah berlari saat mendengar sayup-sayup lantunan azan dari musala al-Muhtadin.

“Mir, tunggu! Pelan -pelan jalannya!” teriak Agus yang tertinggal beberapa langkah dariku. Aku merasa jalanku tidak terlalu cepat, tapi dianya saja yang terlalu lambat, mungkin karena tubuhnya terlalu gendut.

Muat Lebih

“Ini udah paling pelan, Gus. Kamu agak cepetan dikit dong! Entar dimarahin Haji Abdullah kalau terlambat lagi.”

Aku  tetap berjalan tanpa melihatnya. Agus  berlari mengejarku, napasnya ngos-ngosan begitu sampai disampingku. Aku tak tega melihatnya, dan aku pun memperlambat jalanku.

“Kalau begini terus, bisa kurus aku, Mir.”

“Ya bagus dong, kamu gak perlu susah-susah diet.”

“Tapi aku gak mau kurus, nanti aku dimarahi orangtuaku.”

“Karena?”

“Karena kata ibu, aku gak boleh kurus.”

“Sebab?”

“Sebab kalau kurus, orangtuaku takut dianggap tidak becus ngurus anak, atau takut dianggap tidak bisa memberi makan anaknya.”

“Hahaha, bisa saja orangtuamu itu, Gus.”

Aku mempercepat jalanku lagi. Dan Agus terus mengikutiku sambil ngoceh-ngoceh tak karuan.

***

Haji Abdullah adalah guru ngajiku. Tubuhnya kurus dan kulitnya hitam. Kumisnya tebal hingga menutupi bibir atasnya, tapi jenggotnya dicukur habis.

Beliau adalah satu-satunya penghafal Qur’an di kampung ini. Kata orang- orang, dulu, ketika ibu masih hidup, ibu juga seorang penghafal Alquran.

Sebenarnya ada lagi yang hafal Alquran, tapi tak seorang pun tau, yaitu Ayah. Ya, Ayah. Aku yakin ayahku itu seorang penghafal Qur’an.

Hampir setiap malam, aku selalu terbangun ketika terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat-ayat Alquran di saat orang-orang terlelap dalam tidur.

Kudatangi sumber suara itu, di sudut ruangan yang hanya diterangi lampu lima watt, kuperhatikan ayah membaca Alquran tanpa memegang mushaf dan air matanya bercucuran hingga membasahi jenggotnya.

Mungkin banyak, atau setidaknya ada, orang-orang seperti ayah, yang tidak ingin kehebatannya diketahui orang banyak. Aku tidak berkata bahwa orang seperti ayah adalah orang yang paling baik. Tidak. Ada saat dimana orang itu harus menampakkan kehebatannya untuk menjadi contoh, seperti Haji Abdullah.

Haji Abdullah sangat asyik cara mengajarnya, itulah yang membuatku selalu semangat ngaji, di sisi lain aku juga tak begitu betah tinggal di rumah karena harus selalu pura-pura baik pada ibu tiriku itu.

Jadi tempat di luar rumah adalah tempat yang indah. Jika ada orang yang berkata ‘Rumahku adalah surgaku.’ Maka bagiku, ‘Surgaku adalah yang ada di luar rumahku.’

Selain cara mengajar Haji Abdullah yang asyik dan tidak kebetahanku di rumah, ada lagi yang membuatku selalu semangat ngaji, yaitu Ayu. Ya, Ayu. Ayu adalah anak dari Haji Abdullah, parasnya cantik, kulitnya putih, matanya lebar, hidungnya mancung dan bibirnya merah, dari bibirnya itu selalu tersemburat senyum yang begitu menawan.

Aku tak pernah bisa melewatkan waktu sekejap pun dari memerhatikannya. Sepertinya aku jatuh cinta.

Aku benar-benar jatuh cinta. Dan cintaku cinta pandangan pertama. Bagiku tak ada cinta pada pandangan pertama. Kata orang jawa itu, Witing trisno jalaran songko kulino, tumbuhnya cinta itu karena seringnya memer-hatikan.

Aku tidak tahu anak-anak lain, apakah mereka juga ada yang sepertiku. Aku sering memerhatikan Ayu seperti pria dewasa yang memerhatikan wanita sebayanya. Bayangan Ayu sering mampir dan bertengger di pikiranku menjelang tidur dan selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahku.

Tapi aku masih anak-anak. Anak-anak ya anak-anak. Kata orang- orang dewasa, anak-anak itu tidak boleh jatuh cinta.

Boleh, tapi cintanya itu harus ditujukan pada orangtua dan guru, bukan pada lawan jenisnya. Cinta pada lawan jenis hanya milik orang dewasa.

Aku belum dewasa. Umurku baru 7 tahun, tentu saja usia ini terlalu dini untuk persoalan cinta. Aku hanya bisa menyimpan rapat-rapat cinta ini. Dan pada saatnya nanti, saat sudah dewasa, barulah aku mengung-kapkannya.

Ada satu hal yang aku tidak suka dari Haji Abdullah, yaitu bau mulutnya. Beliau terus-menerus berpuasa, akibatnya bau mulutnya sangat menyengat, karena tidak pernah sikat gigi saat puasa. Karena itulah, aku selalu mengambil jarak agak jauh darinya saat mengaji dan kulihat teman-teman yang lain pun demikian.

“Mir.”

“Ya, Gus.”

“Kamu ngerasa gak? Bau mulutnya pak Haji itu seperti bangkai. Apa dia habis makan bangkai ya?”

“Husst, jangan ngomong sembarangan.”

“Tapi emang gitu kok, Mir. Kamu kan biasanya berani nginget-ngingetin. Ingetin lah dia, kasihan kan murid-muridnya pada tersiksa karena bau mulutnya itu.”

“Mmmm gimana ya?”

“Ayo dong….”

“Oke deh.”

Akhirnya Haji Abdullah kupancing dengan sebuah pertanyaan.

“Pak, apa hukum sikat gigi bagi orang sedang berpuasa?”

“Rasulullah saw, bersabda, ‘sungguh, bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah itu lebih wangi daripada minyak misik’. Jadi gak boleh sikat gigi saat puasa,” jawabnya. Tentu saja aku tidak puas dengan jawaban itu. Hadis itu sangat tidak nyambung dengan larangan menyikat gigi.

“Menurutku, hadis itu sama sekali tidak dimaksudkan melarang seseorang untuk sikat gigi. Memang, bau mulut orang puasa itu menjadi tidak sedap karena tidak ada makanan yang masuk, tapi ini di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Dan itu lebih wangi dari harum misik. Padahal itu baunya gak enak, apalagi jika baunya enak, tentu harumnya itu di sisi Allah lebih harum daripada harumnya harum yang melebihi misik. Allah itu indah dan menyukai keindahan. Masalahnya adalah hidup ini tidak sendirian, dan bau mulut, itu sangat mengganggu kenyamanan orang lain,” Jawabku dalam hati. Aku tidak berani mengungkapkannya secara langsung, takut guru ngajiku itu tersinggung. Bisa-bisa aku tak bisa dapat anaknya lagi.

Aku mencari yang lebih halus. Aku pun bertanya lagi, “Pak Haji, lalu bagaimana dengan perkataan sahabat Nabi yang mengatakan, ‘Aku pernah melihat Nabi saw. bersiwak beberapa kali hingga tidak dapat kuhitung jumlahnya, meskipun saat itu beliau sedang berpuasa.’ Itu kan berarti tidak ada larangan untuk menyikat gigi saat puasa.”

“Saya belum pernah mengetahui hadis itu. Yang saya pelajari di pondok pesantren dulu ya itu yang saya amalkan,” jawabnya. Iya, hanya itu. Dan aku tidak mungkin mem-bantahnya lagi. Tapi aku tak pernah setuju.

“Apa dia tidak bisa mencium bau mulutnya sendiri ya?” bisik Agus di telingaku.

***

“Shadaqallahul ‘adzim…” Seperti biasanya, setelah selesai shadaqallahul ‘adzim, Haji Abdullah akan menyampaikan kultum.

“Baiklah anak-anak, pelajaran yang sudah Bapak berikan, kalian harus selalu ingat, gak boleh lupa. Kenapa? Karena membaca Alquran dengan tajwid yang benar itu hukumnya wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak sekali orang yang membaca Alquran, sementara Alquran melaknatnya.’ Maksud dari hadis ini adalah orang yang membaca Alquran tapi salah salah, tidak pake tajwid.”

“Mir, aku kan jelek kalau membaca, apakah Alquran akan melaknatku seterusnya?” bisik Agus di telingaku. Sebenarnya Agus itu anak yang kritis, tapi ia sangat pemalu, ia tak pernah bertanya sendiri dan selalu menyuruhku menanyakan apa yang terganjal di pikirannya itu.

Aku menganggukkan kepala, aku tau maksud Agus. Kuacungkan tangan dan bertanya,

“Maaf Pak, Haji. Apakah ada keterangan yang menunjukkan bahwa orang yang dilaknat oleh Alquran adalah orang yang tidak bagus tajwidnya?”

“Karena di surat al-Muzammil juga dijelaskan, Warattilil Qur’ana tartila, bacalah Alquran itu dengan tartil!” jawab Haji Abdullah.

“Tapi, Bi, kita kan bukan orang arab, apakah tetap harus membacanya dengan tajwid layaknya orang arab?” sahut Ayu, yang ternyata ada di pihakku. Hatiku sangat berbunga-bunga dan aku pun semakin menjadi-jadi.

“Dan bukankah tartil dalam ayat itu sendiri ulama berbeda-beda dalam menafsirkannya. Ada yang mengartikannya dengan tajwid, ada yang mengartikannya dengan memperindah?” sambungku.

Haji Abdullah memiringkan kepalanya, mencari jawaban, dan saat mau membuka mulutnya, aku langsung menambahi,

“Maaf pak Haji, bukankah lebih tepat jika ancaman laknat dalam hadis itu ditujukan bagi orang-orang yang selalu membaca Alquran tapi dia tidak mengindahkan isinya. Selalu membaca Alquran, tapi kelakuannya tidak Qur’ani, tidak seperti yang diajarkan dalam Alquran?”

Kulihat Ayu memandangku sambil tersenyum. Nampaknya ia kagum denganku. Aku merasakan kepalaku semakin membesar dan darahku seperti berhenti mengalir, tapi detak jantungku semakin cepat gerakannya.

Sementara Haji Abdullah masih sedikit terlihat kebingungan, namun kebingungannya tak lagi terlihat ketika berkata,

“Ya, diartikan begitu juga bisa. Namun intinya, yang penting, kita gak boleh berhenti belajar, dan terus-menerus memperbaiki bacaan kita. Baiklah, kita akhiri pengajian ini dengan membaca al-Fatihah. Al-Faaatihah!”

***

Astaghfirullah. Aku terkejut saat melihat jam dinding yang tergantung di dinding kamarku sudah menunjuk angka setengah tujuh. Aku terlalu nyaman dengan tidur pagiku. Sebenarnya ayah sudah berkali-kali berpesan agar aku tidak tidur setelah subuh.

Tapi aku tak bisa, aku merasa tidak ada waktu yang lebih nikmat untuk tidur selain waktu setelah subuh. Kubuka jendela kamarku dan kulihat rumput hijau yang sedang asyik bernyanyi dan menari.

Kulihat Ayah sedang menikmati pagi dengan membaca koran dan secangkir kopi pahit kesukaannya. Kata Ayah, minum kopi tanpa gula di pagi hari itu dapat menyerdaskan otak. Entah dokter mana yang menyarankan seperti itu.

Sementara ibu tiriku sibuk membersihkan pelataran rumah setelah menyiapkan sarapan pagi. Ibu tiriku memang rajin. Tapi tetap saja dia bukan ibu kandungku. aku tetap membencinya meskipun aku tak pernah lagi menampakkan kebencianku sejak Ayah menegurku.

“Ayo, Mir, sarapan!” Ibu tiriku memanggil. Dengan langkah yang berat aku menuju meja makan.

“Kok masih belum mandi, Mir? Masa kalah sama adikmu Farah.” Itulah yang aku tidak suka dari Ayah, selalu membanding-bandingkan aku dengan Farah. Dan hal ini justru tidak membuatku semakin semangat, tapi semakin malas.

Aku menyelesaikan sarapanku tepat pukul tujuh. Padahal sekolahku masuk pukul tujuh pas, tapi aku belum mandi dan belum mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran nanti.

“Kenapa terlambat?” tanya guruku yang selalu datang sebelumku.

“Maaf saya terlambat, Pak. Saya sakit perut, saya takut mencret di kelas, tadi saya muter-muter nyari obat, tapi ternyata warungnya…..”

“Cukup! duduk!” potongnya setengah membentak, seperti tak mau mendengar penjelasan dariku yang sudah berulang-ulang itu.

Aku menuju ke tempat dudukku. Aku duduk satu bangku sama Agus, dan rupanya, pelajaran baru dimulai Agus sudah tertidur pulas. Pak guru marah-marah tak jelas. Aku sama sekali tak menghiraukannya.

“Baiklah, silakan kumpulkan PR kalian.”

Semua anak mengeluarkan buku tugasnya. Aku tak pernah ingat kalau ada PR, aku selalu ingat ketika pak guru sudah menagih PRnya di kelas.

Kubuka buku tulisku, aku terkejut dengan buku tulisku sendiri. Selama ini aku gak sadar ternyata aku selalu menulis nama Ayu di buku tulisku, sehingga hampir setiap lembaran dipenuhi dengan tulisan nama Ayu. Ayu Muthmainnah. Dengan berbagai model dan jenis tulisan.

Ah, dasar kau Ayu. Merenggut masa kanak-kanakku dan menjadikanku dewasa sebelum waktunya.

“Mana PR-mu?”

“Maaf, Pak. PR-nya ketinggalan di rumah.”

“PR-mu selalu ketinggalan. Untung saja kemaluanmu tidak pernah ketinggalan.”

***

Sebelumnya: Bercengkrama dalam Cinta | Chapter 1

Awan hitam di langit menggumpal membentuk wajah iblis yang sangat menakutkan, suara gluduk dan halilintar berpadu membentuk musik yang mengajak orang untuk menari, angin puting beliung tak henti- hentinya menari dengan lincahnya.

Semua itu tidak menghalangiku untuk pergi mengaji. Ya, ngaji, bukan yang lain. Kalau pun nanti bertemu dengan si dia, itu merupakan bonus. Aku sendirian. Agus sedang ada acara keluarga di tetangga desa. Di tengah perjalanan menuju musala al-Muhtadin, hujan turun sangat

lebat dan aku lupa membawa payung, sehingga pakaian dan turutan-ku basah kuyup semua. Sampai di musala al-Muhtadin, ternyata tak ada satu pun anak yang datang.

Ada suara yang memanggilku. Suara yang sangat aku kenal. Ya, suara Ayu.

“Amir…”

Namaku keluar dari bibirnya yang indah itu. Aku tidak menoleh agar dia mengulanginya lagi.

“Amir…” Ulangnya. Aku belum menoleh.

“Amir…”

Kali ini suaranya berbeda. Kupalingkan wajahku ke sumber suara. Ternyata suara Haji Abdullah.

“Sini, Mir.. masuk saja.”

“Maaf pak Haji, baju saya basah semua.”

“Iya, makanya, masuk! nanti kamu malah masuk angin lagi. Sini!”

Aku berlari ke rumahnya.

Ayu memberiku handuk dan menyuruhku untuk mandi, juga menyiapkan pakaian ganti. Dan itu pakaian Ayu, tapi pakaian yang bisa dipakai untuk laki-laki. Hmmm, nyaman sekali memakainya.

“Kamu memang anak yang rajin, Mir. Teman-temanmu saja pada gak masuk padahal Cuma hujan kecil saja padahal cuma hujan kecil gini saja, tapi kamu masuk.”

Terdengar suara halilintar semakin menggelegar.

“Hujan kecil? Segini hujan kecil? Hujan yang disertai angin kencang dan halilintar kau bilang hujan kecil? Ini hujan besar pak. Lihatlah aku, meskipun hujan besar, aku tetap datang untuk mengaji. Jadi, memujiku dengan rajin saja tidak cukup, harus dengan sangat sangat sangat rajin. Dan asal pak Haji tau aja,jangankan hujan air, hujan batu pun aku tetap datang. Selama masih ada Ayu di rumah ini, hahaha” jawabku, tentu saja dalam hati. Sementara bibirku masih terkatup dan tidak mengeluarkan suara apapun.

Aku berharap hujan tak kunjung reda. Biarlah sampai besok pagi, biar aku bisa tidur di rumah ini. Aku masih sangat betah. Aku merasakan kenyamanan yang luar biasa.

Hujan memang belum reda. Tapi aku tetap harus pulang. Ayah datang membawa dua payung untuk menjemputku. Dasar Ayah, tidak tau orang lain untung.

“Sudahlah pak Marwan, biar Amir nginep di sini saja,”

“Wah, nanti malah merepotkan, pak Haji. Terima kasih ya pak Haji?”

“Iya, sama-sama.”

Aku pulang bersama ayahku menerjang derasnya hujan dan kencangnya angin. Suara katak bersahutan membentuk irama mengiringi langkah kakiku. Air hujan tampak indah seperti gemerlap bintang yang berjatuhan. Bintang -bintang tertawa cekikikan di balik a wan hitam yang menggumpal itu.

Sesampai di rumah, tubuhku menggigil, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Ibu tiriku membuatkanku susu hangat untuk menghangatkan tubuh, tapi aku menolaknya, aku memalingkan wajah darinya, bahkan aku tak mau memandangnya sama sekali.

Lalu ia memijitku dari belakang, tapi jemarinya yang lembut itu kurasakan seperti cakaran setan dan aku pun memberontaknya. Kulihat ada guratan kecewa di wajahnya, aku sebenarnya kasihan, tapi di sisi lain aku juga jengkel. Aku tidak ingin punya ibu tiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *