Beranda Cerita Bercengkrama dalam Cinta | Chapter 3

Bercengkrama dalam Cinta | Chapter 3

Bercengkrama dalam Cinta

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang Ramadan kami membersihkan seluruh isi rumah dan pelatarannya hingga bersih benar -benar bersih, tidak boleh ada debu sedikit pun. Cat dinding juga diubah warna setiap akan memasuki Ramadan.

“Ayah, kenapa kita membersihkan rumah hanya sebelum Ramadan?” tanyaku.

“Kita membersihkan setiap hari,” jawabnya. “Tapi karena Ramadan adalah bulan yang paling istimewa, maka kita bersih-bersihnya juga yang istimewa. Kalau setiap hari hanya disapu dan dipel, kali ini juga diganti cat dindingnya.”

“Memangnya apa istimewanya, Yah?”

“Kita akan mendapat seabrek rezeki.”

“Berarti kita akan makan yang enak-enak dong, Yah?

“Makan enak-enak maupun tidak enak, kita tetap mendapat rezeki. Seandainya nanti kita tidak memperoleh sesuap makanan pun, kita tetap mendapat rezeki. Allah mampu memberi rezeki tanpa memberi. Allah mampu menghibur hati kita tanpa bernyanyi. Allah mampu melihat tanpa memandang.”

“Saya belum paham, Ayah?”

“Begini. Kita memasuki bulan Ramadan. Di bulan ini kita diwajibkan puasa. Kita harus sadar bahwa kewajiban puasa itu merupakan rahmat dari Allah untuk manusia, karena ia rahmat, berarti ia rezeki. Banyak orang yang salah memahami rezeki, mereka memahami rezeki hanya sebatas makanan, uang, atau harta benda.

Padahal rezeki tidak hanya itu. Misalnya, tadi pagi waktu kita bangun tidur, itu kan hal yang luar biasa kita bisa bangun dan tidak berlanjut pada kematian.

Gak ada orang yang bisa mengontrol diri untuk tidak berlanjut pada kematian. Eh, ternyata kita masih bisa bangun, mata kita masih bisa melihat, telinga kita masih bisa mendengar, mulut kita masih bisa bicara, tangan kita masih bisa digerakkan, kaki kita masih bisa dibuat untuk jalan, pokoknnya semuanya masih beres. Onderdil tubuh dan jiwa masih sehat wal afiat. Alangkah besarnya rezeki Allah.”

“Berarti kita mendapat rezeki itu setiap saat?”

“Betul sekali, setiap saat kita dihujani rezeki. Rezeki Allah begitu banyak, sehingga kita tak dapat menghitungnya. Mana mungkin kita bisa menghitung? Matahari terus terbit, tanah terus mau menumbuhkan tanaman.

Pokoknya, semua sunnatullah yang ada di muka bumi ini adalah rezeki Allah yang menyertai kita sejak sebelum lahir hingga seusai kematian. Bahkan, kalau orangnya baik, nanti di akhirat, dia akan terus-menerus mendapatkan rezeki.”

“Kalau uang dan harta itu termasuk rezeki bukan?”

“Mmm, uang dan harta. Ya, uang dan harta juga bisa dikategorikan rezeki. Tapi kalau tidak hati- hati, bisa juga jadi musibah. Jadi kalau sewaktu-waktu kita mendapat uang, belum tentu itu rezeki, bisa saja itu merupakan musibah.”

Azan dzuhur berkumandang, obrolanku dengan Ayah harus berhenti, padahal masih banyak yang ingin kutanyakan. Ayah memang kadang terkesan sok alim, kalau sudah dengar azan gak pernah mau melakukan apapun selain bersiap-siap untuk jamaah.

“Ayah, nanti habis dzuhur, Amir boleh nanya lagi gak?”

“Ya boleh lah, tanyakan semuanya, mumpung ayah masih hidup.”

“Ayah akan selalu hidup. Ayah gak boleh mati.”

“Hidup dan mati itu Allah yang nentuin, bukan manusia.”

“Tapi orang yang bunuh diri itu kan manusianya sendiri yang menentukan.”

“Ada kok orang yang mau bunuh diri tapi gak mati-mati, dia pas mau minum racun ternyata kliru es campur. Ada yang mau gantung diri ternyata talinya kepanjangan. Hahaha, ya sudah ayo berjamaah dulu.”

“Ayah… Ayah… kenapa orang pintar sepertimu itu kebanyakan terlalu tawadhu’, padahal kesombongan orang sepertimu itu sangat dibutuhkan. Aku bosan dengan khatib-khatib Jumat yang pembahasannya itu-itu saja, khotbahnya lama banget, tapi jamaahnya tidak mendapat apa-apa, khatib-khatib itu hanya cocok buat pengantar tidur. Buktinya, setiap Jumatan, lebih banyak yang tidur daripada yang menyimak khutbah.”

***

“Ayah?” Akhirnya aku membuka mulut setelah beberapa lama bergeming sambil memikirkan sesuatu.

“Iya, sayang?”

“Boleh tanya?”

“Lebih dari boleh.”

“Menurut Ayah, sejatinya puasa itu apa sih?”

“Menurutmu?” Ayah kembali bertanya.

“Puasa itu tidak makan, tidak minum, dan tidak bersebadan dari terbit hingga terbenamnya matahari. Betul gak, Yah?”

“Ya, betul. Tapi bukan itu sejatinya puasa. Puasa itu sejatinya adalah menahan nafsu. Rasulullah, sehabis pulang dari perang, beliau berkata pada sahabat-sahabatnya, ‘Kita kembali dari perang kecil menuju perang besar, yaitu memerangi hawa nafsu.’ Sayangnya, kita itu sering merasa musuh kita itu tidak pernah bertambah, sehingga kita juga tidak pernah mengembangkan strategi dan taktik berperang.”

“Makan bukannya termasuk nafsu, Yah?”

“Ya, makan itu termasuk nafsu, tapi sering kali kalau kita mendengar tentang nafsu makan, maka asosiasi kita itu pada makan, bukan pada nafsunya. Makanya, kalau orang-orang belanja ke pasar, yang dibeli adalah pesanan-pesanan nafsu, bukan makanan yang dibutuhkan. Orang-orang yang berpuasa, biasanya menginginkan dan mengumpulkan berbagai jenis makanan dan ketika waktu berbuka puasa tiba, mereka baru sadar, ternyata perut sama sekali tidak membutuhkan makanan sebanyak itu.

Baca: Bercengkrama dalam Cinta Chapter 1

“Jadi, seseorang itu harus bisa memilih, ini dorongan nafsu atau kebutuhan makan. Sehingga, puasa itu bukan lagi karena pertempuran melawan ‘tidak boleh makan’, melainkan untuk melawan nafsu itu sendiri yang menuntut pengadaan lebih dari sekadar makanan.. itulah sejatinya puasa, dan itu pula sejatinya makan.”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Ayah.

***

Suara jangkrik dan kodok di sekitar rumah ikut serta mengumandangkan takbir, mengagungkan nama Tuhan, bersahutan dengan takbir- takbir di musala-musala.

Hari raya kali ini sangat meriah, karena NU dan Muhammadiyah akan berhari raya di hari yang sama, meskipun mulai puasanya tidak sama.

Memang begitulah serunya di Indonesia, sejak aku kecil sampai sekarang sudah lulus SD, jarang sekali keduanya memulai puasa dan merayakan hari raya bersama-sama.

Aku sedang asyik mengumandangkan takbir keliling bersama teman-temanku dan orang-orang dewasa.

Aku berada paling depan dengan membawa dua obor dan paling lantang mengumandangkan takbir.

Suaraku memang sangat lantang, tapi merdu. Itu kata orang-orang. Aku sih merasa biasa aja.

Ayah masih sibuk membolak-balik lembaran demi lembaran kitab-kitab klasiknya mencari bahan untuk khothbah.

Ini adalah pertama kali ayah berkhotbah. Memang, sering sekali Ayah disuruh untuk mengisi khotbah di hari Jumat, tapi Ayah selalu menolak. Entah karena apa, kali ini Ayah bersedia untuk mengisi khotbah besok di hari raya Idul Fitri.

Ibu tiriku sedang sibuk mempersiapkan aneka makanan untuk menyambut tamu-tamu besok. Ibu tiriku memang pintar masak, aku sebenarnya ingin sekali mencicipinya, tapi aku sudah terlanjur benci. Malu dong. Ternyata kebencian itu kadang menyengsarakan diri sendiri.

Tapi biarlah. Itu sudah prinsipku. Aku akan tetap berpegang teguh pada prinsipku, yaitu akan selalu memusuhi ibu tiri.

Takbiran berlangsung hingga menjelang fajar. Aku dan adikku, Farah, sudah mengenakan pakaian baru yang dibelikan Ayah dua hari yang lalu di Pasar Kliwon.

“Kalian cocok sekali mengenakan pakaian itu? Kamu tambah ganteng dan kamu tambah cantik,” komentar Ayah melihat kami bergantian mengenakan pakaian baru, “tapi ini belum subuh loh?”

“Iya, Ayah. Ini kan hari istimewa. Jadi harus diistimewakan.”

Ayah tersenyum mendengar jawabanku. Kemudian matanya memandangku dengan penuh kasih, lalu berkata lirih,

“Namun yang terpenting itu bukanlah pakaiannya saja yang baru. Tapi hatinya juga harus baru. Hari ini adalah hari raya Idul Fitri, artinya kembali pada fitri, kembali pada kesucian, seperti bayi yang baru lahir. Tidak boleh ada kesedihan, tidak boleh ada rasa khawatir, karena tidak ada bayi yang sedih dan tidak ada bayi yang khawatir. Harus selalu semangat. Semangat yang baru. Okey?”

“Okey, tapi?”

“Tapi apa?”

“Tapi kenapa bayi juga menangis?”

“Tangisan bayi itu tangisan yang murni, tangisan yang suci, bukan tangisan yang disebabkan oleh kesedihan akan kenangan-kenang masa lalu, bukan pula tangisannya itu disebabkan karena kekhawatiran akan masa depan. Jadi, tangisan bayi itu fitrah. Itulah makna dari ilaihi rajiun. Kepada-Nya kita kembali. Kembali ke rahmat-Nya. Kembali ke fitri.

“Bukannya innalillahi wa inna ilaihi rajiun itu buat orang mati, Yah?”

“Ya, benar. Karena kematian itulah sebenarnya kelahiran.”

“Kelahiran?”

“Ya, kelahiran. Seperti kelahiran bayi dari rahim ibundanya.”

“Kalau kematian adalah kelahiran, apakah orang yang mati itu akan menangis dan tertawa seperti bayi?”

Ayah megubah posisi duduknya, membetulkan keca-matanya yang tidak akan jatuh. “Ayah belum tahu. Nanti kalau ayah sudah tau, kamu tak kasih tau.”

***

Mentari mulai menampakkan sedikit cahayanya, memberi kehangatan dan kesejukan. Kabut-kabut yang asik menari-nari di awang-awang mulai buyar.

Orang-orang berduyun-duyun menuju Masjid Jami’ untuk melaksanakan salat ‘ied. Demikian pula kami sekeluarga.

Saat akan berangkat, tiba-tiba Farah menangis histeris. Matanya memerah dan air matanya bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Kami tidak mengerti sama sekali penyebabnya, tangisan itu datang secara tiba- tiba.

“Lebih baik, Mas berangkat dulu aja sama Amir. Nanti kalau Farah sudah berhenti menangis, kami akan ke sana,” tutur Ibu.

Ayah menghentikan langkahnya, kembali ke arah Ibu, mendekatinya, kemudian mengecup keningnya. Lalu berkata sangat pelan, seperti berbisik:

“Minal ‘aidin wal faizin ya, Dik. Maafin semua kesalahan-kesalahan saya!”

“Iya Mas, sama-sama. Meskipun sebenarnya tidak ada yang perlu dimaafkan. Mas gak pernah punya salah sama saya. Sudah berangkat sana Mas! Ditunggu sama jamaah. Mas kan yang bertugas khothbah. Khotbah yang pertama kali lagi.”

Mereka bersalaman dan berpelukan. Aku yang dari tadi melihat adegan itu sebenarnya cemburu. Apakah dulu Ayah juga melakukan hal seromantis itu pada ibu kandungku.

Aku berjalan di samping ayah. Aku merasa ada yang aneh dengan ayah. Ayah terlihat gembira sekali, wajahnya sangat ceria dan berseri-seri, bibirnya tak henti-hentinya menyemburatkan senyuman.

Aku yakin kegembiraananya itu bukan karena ayah ditugaskan menjadi khatib, karena selama ini Ayah selalu menolak saat ditawari menjadi khatib, ayah tak pernah mau berbicara di depan umum. Lalu ada apa dengan ayah?

Sebelum kaki kanannya menginjak keramik masjid, wajahnya mendekat ke wajahku, lalu berkata pelan, seperti ingin tidak ada orang yang mendengarnya.

“Hari ini adalah hari yang paling bahagia. Hari Ayah bertemu dengan kekasih Ayah.” Ayah tersenyum lagi. Aku masih tidak mengerti arti senyuman itu.

Salat ‘ied dimulai. Haji Abdullah bertugas sebagai Imam. Haji Abdullah selalu yang bertugas menjadi imam Idul Fitri. Tapi tak ada seorang pun yang bosan dengan bacaan Qurannya. Haji Abdullah sangat pandai meniru lagu imam-imam timur tengah.

Ayah menaiki mimbar. Tema yang dibawakannya tidak beda dengan tema yang dibawakan khathib- khatib di tahun-tahun sebelumnya.

Namun khotbah Ayah lebih edukatif. Hanya saja, aku merasa ada yang aneh dengan Ayah. Khotbah yang disampaikan sangat indah.

Tapi matanya itu loh, seperti mencari-cari seseorang. Air mukanya seperti orang gelisah dalam penantian.

Hal itu berlangsung hingga khotbah pertama selesai. Sebelum Ayah duduk di antara dua khotbah, ayah sempat sedikit cekikikan. Aku yang berada di barisan paling depan itu, mendengar sangat jelas. Ini sangat mengherankan.

Orang-orang menunggu khothbah ke dua. Namun ayah tak kunjung berdiri. Hingga beberapa menit dan orang-orang mulai resah.

Haji Abdullah maju ke depan, menengok Ayah di balik mimbar. Haji Abdullah menggoyang-goyangkan pundak Ayah dan Ayah pun tersungkur. Ia pegang leher Ayah mengecek denyut nadi.

Denyut nadinya berhenti. Ia lalu meletakkan telinganya di dada Ayah, mengecek apakah jantungnya masih berdetak.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” gumamnya. Haji Abdullah memberi isyarat kepada beberapa orang agar mengangkat tubuh Ayah.

Aku  seperti  mati  kutu.  Tubuhku  sulit  digerakkan.

Mulutku juga seperti terkunci. Namun air mataku meleleh.

Farah sejak tadi pagi tidak henti-hentinya menangis. Mungkin dia sudah tahu apa yang akan terjadi pada ayah. Ibu tiriku ikut menangis, mengguncang perlahan tubuh Ayah,

“Mas, kenapa kau begitu cepat meninggalkanku Mas…”

Ayah tersenyum, dan orang-orang menangis.

Aku masih mematung di dalam masjid shaf paling depan, mataku tertuju pada satu arah. Aku seperti melihat sesuatu yang aneh, yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Makhluk itulah yang tadi perlahan dan sangat hati-hati memisahkan ruh Ayah dari jasadnya yang kemudian dibawanya ke langit.

Aku ingin sekali memberontak dan berteriak, aku ingin protes. Aku ingin melawan makhluk aneh itu, tapi tak kuasa.

Kenapa Ayah mengatakan hari ini adalah hari paling bahagia? Apakah Ayah bahagia meninggalkan kami semua? Ayah jahat…”

“Amir..”

“Ayah?” aku melihat ayah. Aku tidak sedang mimpi.

Aku melihat dalam bentuk aslinya.

“Bangkitlah, Nak. Kita tidak akan pernah berpisah, kita akan selalu bersama. Ayah hanya pindah rumah saja. Ayah akan sering mengunjungimu.”

“Kenapa kita tidak pindah rumah bareng-bareng, Yah?

Tiba-tiba aku merasakan ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh ke arah orang yang menepuk pundakku. Ternyata Haji Abdullah. Masjid sudah penuh dengan para jamaah, jumlah jamaah tidak kalah banyak dengan salat ‘ied tadi pagi.

“Ayo, Mir, Ayahmu sudah mau disalatkan.”

Aku bangkit dari duduk, masuk barisan shaff.

Setelah salat, paman Ramli memberikan sambutan serta meminta penyaksian atas kebaikan ayah, kemudian meminta pembebasan masalah hak adami dan utang.

“Bagi yang masih punya masalah utang piutang dan kira-kira tidak bisa di ikhlaskan, maka hutangnya Almarhum di tanggung oleh …” Kalimatnya terhenti. Mungkin dia bingung, siapa yang akan menanggung hutangnya.

Aku langsung mengangkat tangan, dan berkata lantang, “SAYA.” Aku tidak sadar, ternyata orang yang ada di belakangku semuanya juga mengangkat tangan dan siap menanggung hutang-hutang Ayah.

Saat proses pemakaman, aku seperti melihat Ayah juga ikut memakamkan. Aku dekati Ayah dan bertanya, “Apakah Ayah bahagia?”

“Ya, seperti yang Ayah katakan dulu. Orang mati itu seperti bayi yang lahir. Ayah akan bertemu dengan Allah. Ayah akan melihat wajah-Nya. Wajah yang didambakan oleh semua manusia.”

“Pulanglah! Dua malaikat sudah menunggu untuk memberikan padaku pertanyaan- pertanyaan.”

“Baik, Ayah.”

Orang-orang tak henti-hentinya menghiburku dengan berkata,

“Yang sabar ya, Mir. Semuanya itu sudah ditentukan oleh Allah.”

Mereka tidak bicara seperti itu pun aku memang harus sabar. Lalu mau ngapain lagi? Sabar atau tidak, Ayahku tidak akan hidup lagi.

Baca: Bercengkrama dalam Cinta Chapter 2

Tapi berbeda dengan yang dikatakan oleh Kiai Mansyur, kiai Ayah saat mondok di Semarang, yang beliau katakan membuat hatiku sangat tenang. Yang beliau katakan pernah kudengar dari Ayah saat membahas tentang keyatiman Nabi.

“Syukurilah kematian ayahmu itu. Tuhan sudah tau mana yang terbaik buat hamba-Nya. Bukan tanpa alasan Tuhan melakukan semua itu. Boleh jadi, Tuhan menjadikanmu sebagai anak yatim agar kau semakin dewasa.

Kiai Mansyur kemudian mengajakku untuk ikut bersamanya tinggal di pesantren yang beliau asuh. Aku mendiskusikan kepada Ibu dan beliau mengizinkan. Aku pun bersiap-siap.

Saat aku membereskan persiapanku, aku menemukan secarik kertas yang ditulis Ayah untukku. Untuk anakku, Amir.

Ayah ingin berpesan kepadamu seperti yang dipesankan oleh Rasulullah kepada Ibnu Abbas ketika Ibnu Abbas masih dalam usia remaja.1 Tokoh ini menceritakan:

1. Ibnu Abbas adalah Abdullah, putra paman Nabi, al-Abbas bin Abdul Muthallib. Beliau lahir tiga tahun sebelum hijrah Nabi dan wafat dalam usia 71 tahun. Peristiwa yang diceritakannya ini terjadi saat beliau belum melampaui usia 13 tahun.

“Suatu ketika aku berjalan di belakang Nabi, lalu beliau bersabda: Hai anak muda! Aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:

1. Peliharalah (agama) Allah niscaya Dia akan memeliharamu, yakni pelihara agama-Nya dengan
melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, niscaya Dia memeliharamu di dunia dengan memberimu kecukupan dan melindungimu dari gangguan, sebagaimana Dia juga akan memberimu bimbingan dan kemampuan guna melaksanakan tuntunan agama sehingga dapat meraih surganya.

2. Peliharalah (agama) Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya selalu di hadapanmu, yakni memberimu ketenangan, kekuatan, serta menjadikan untukmu perisai yang melindungimu.

3. Kalau engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, yakni jika menghendaki hal-hal yang tidak berada dalam jangkauan kemampuan manusia, maka jangan meminta-nya kecuali kepada Allah.

4. Jika engkau meminta pertolongan, maka mohonlah kepada Allah, yakni jika engkau bermaksud meminta bantuan makhluk, maka mintalah terlebih dahulu kepada Allah agar Yang Mahakuasa itu mendorong yang engkau mintai serta mempermudah bagian memenuhi permintaanmu.

Pesan ini bertujuan mencegah seseorang mengandalkan pihak lain dalam segala hal, karena ini dapat mengantar kepada kehinaan yangbersangkutan. Islam tidak mungkin melarang seseorang meminta bantuan pihak lain dan bekerja sama dengannya, karena kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. “Allah memberi pertolongan kepada seseorang selama ia menolong saudaranya,” demikian sabda Nabi.

5. Ketahuilah bahwa seandainya semua makhluk berkumpul untuk memberimu sedikit manfaat mereka tidak dapat memberimu, kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan kepadamu sedikit mudharrat pun maka merka tidak dapat menimpakan sesuatu kepadamu kecuali yang telah ditetapkan Allah atasmu.

Pena telah terangkat (tidak ada lagi sesuatu yang baru bagi Allah karena semua telah diketahui-Nya) dan lembaran-lembaran telah kering.

Maksudnya, dalam hidup ini ada yang dinamai “Sunnatullah” (hukum-hukum Allah) yang berlaku di alam raya dan masyarakat.

Itu adalah sistem yang ditetapkan Allah dalam kehidupan ini dan berlaku umum. Siapa atau apa pun kegiatan yang terjadi, maka itu tidak keluar dari sistem yang telah ditetapkan-Nya itu.

Namun, ini bukan berarti bahwa seseorang cukup berpandangan tangan tanpa usaha. Pesan Nabi ini, antara lain, bertujuan menjadikan seseorang tidak larut dalam kesedihan jika mengalami bencana, tidak juga bergembira melampaui batas jika mendapat kebahagiaan.

Pesan ini juga mengingatkan agar seseorang tidak menganggap bahwa bantuan makhluk dapat bermanfaat tanpa izin Allah.

Itu adalah Hadis yang diriwayatkan at-Tirmidzi, sedang dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasul berpesan kepada Ibnu Abbas bahwa:

1. Peliharalah agama Allah niscaya engkau selalu akan menemukan-Nya di hadapanmu (untuk membantu dan membelamu).

Kenalilah Allah ketika engkau sejahtera (dengan mengingat bermacam-macam nikmat-Nya dan mensyukurinya), niscaya Dia akan mengingatmu ketika engkau dalam kesulitan (dengan menganugerahkan kepadamu bantuan dan aneka nikmat-Nya) ketika engkau dalam kesulitan.

2. Ketahuilah bahwa apa yang meleset darimu, maka tidak mungkin akan menimpamu dan apa yang menimpamu tidak mungkin akan meleset darimu. (Maksudnya, jangan tenggelam dalam pengandaian dengan berkata: “Seandainya begini atau begitu,” karena apa yang terjadi sudah terjadi. Tetapi tariklah pelajaran dari apa yang telah terjadi.

3. Ketahuilah bahwa kemenangan dicapai dengan ketabahan/kesabaran, yakni jika ingin sukses, maka harus siap: “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”

4. Ini karena adanya Sunnatullah (Sistem) yang dimaksud di atas. Namun harus disadari bahwa Allah tidak terikat oleh sesuatu, walau Dia dapat mengikat dirinya, sehingga pasti memenuhi janji-Nya yang menguntungkan makhluk, karena itu di samping Sunnatullah, ada juga yang dinamai Inayatullah, yakni pertolongan Allah yang dapat menyimpang dari Sunnatullah itu, bila Dia berkehendak.

5. Kelapangan hadir setelah puncaknya krisis. Ini mengajarkan kita agar seseorang jangan pernah putus asa, karena jika krisis telah mencapai puncaknya, pasti akan lahir sesuatu yang baru dan mengakhiri krisis itu. Ini salah satu makna Firman Allah, “Dia yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati.” Juga, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ini berarti setiap kesulitan pasti disertai atau disusul oleh kemudahan. Karena itu, cari dan temukanlah peluang di celah tantangan.

Bahkan Alquran dalam surah Alam Nasyrah mengisyaratkan bahwa: di celah setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Karena itu melangkahlah dengan optimisme disertai tekad yang kuat untuk menanggulangi setiap kesulitan sambil memohon bantuan kepada Allah. Jangan pernah pesimistis!.

Tulis Komentar