Bercengkrama Dalam Cinta | Chapter 5

  • Whatsapp
Bercengkrama dalam cinta 5
Bercengkrama dalam cinta Chapter 5

TAK terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah setahun aku berada di Pesantren Tarbiyatut Thullab. Malam ini tidak seperti biasanya, benar-benar menyiksa, udara yang sangat dingin membuatku menggigil. Aku mengenakan jaket tebal dan sarung yang kulilitkan ke leher. Aku duduk meringkuk di pojok kamar ditemani kopi panas.

Aku tidak bisa tidur dan tidak ngantuk sama sekali. Ini seperti yang kurasakan saat pertama kali mondok. Aku melihat sekelilingku, beberapa sudah tertidur sejak selesai salat isya tadi, ada yang sibuk mengerjakan PR, ada yang tangannya masih memegang buku, tapi matanya sudah terpejam dan ada pula yang sedang asik curhat.

Muat Lebih

“Oe… nglamun mulu…” Afif dan Humaidi mengagetkan-ku.

“Kalau mau ngagetin bilang-bilang dulu dong…”

“Ya ampun, Amiiir, di mana-mana juga kalau namanya ngagetin ya gak bilang-bilang dulu.”

“Ini pada mau ngapain, meriah banget?”

“Keluar yuk?”

“Ke mana?”

“Ya keluar.”

“Iya, ke mana?”

“Udah ikut aja.”

***

Afif adalah anak yang berperawakan tinggi, kurus, kulitnya putih, hidungnya mancung, dan rambut depannya panjang mencapai dagu, tapi pinggirannya di potong tipis.

Dia anak seorang pengusaha konveksi di Babat. Aku dan Afif sejak pertama pertama mondok sudah akrab, sudah seperti saudara sendiri. Kalau Humaidi, anaknya tinggi dan kurus, sekilas terlihat seperti tiang listrik, tapi jika diperhatikan lagi lebih mirip antena televisi, dan jika lebih dalam memerhatikannya, lebih mirip dengan orang-orangan sawah. Ia pindahan dari pesantren Gresik, tapi asalnya dari Babat, tetangga Afif.

***

Kami memanjat pagar, karena gerbang pesantren masih dijaga ketat oleh keamanan yang bertugas. Keluar malam termasuk pelanggaran berat, sanksinya adalah dibotak.

Pagar tidak terlalu tinggi, kami dengan mudah memanjatnya. Hanya saja di balik pagar ada sungai kecil. Jika tidak hati-hati akan kecemplung.

Aku mengikuti arah mereka berjalan, hingga sampai sebuah warung. Kami memesan mie telur dan susu jahe.

Mereka merokok dan menawarkanku. Aku tidak mau. Aku tahu merokok bukan hanya tidak baik untuk kesehatan, tapi juga menyebabkan boros.

Ayah tidak pernah merokok. Dan aku juga benci rokok dan orang yang merokok. Bahkan dulu aku sering mencibir mereka-mereka yang merokok. Tapi tidak Afif, aku tidak berani. Dia sangat baik padaku.

“Kamu itu cewek apa cowok?” katanya setelah menyemburkan asap rokok dari mulutnya.

“Ya cowok lah, mau lihat?” Aku membuka sarungku.

Tentu saja aku tidak memperlihatkan barang berhargaku.

“Masa cowok gak merokok?”

“Emange ada persyaratan jadi cowok itu harus merokok. Setauku syarat jadi cowok itu yang penting punya manuk.”

“Maksudku cowok yang macho,”

“Oh, gitu… tapi kemarin di perempatan, aku melihat ada cowok setengah cewek, alias bencong.” Kami tertawa bersamaan.

“Kamu memang pintar ngomong, Mir,” tutupnya mengakui kekalahannya.

Setahuku, malam hari itu bagian dari keagungan Tuhan. Di malam hari, biasanya, dalam kesunyian, sinyal dengan Tuhan itu lebih kuat. Biasanya, seseorang dapat memperoleh perenungan-perenungan yang positif, kein-safan, dan kearifan ilahiah.

Tapi tidak sepenunya demikian, karena di malam hari pula, sinyal yang menyambung pada setan sangat kuat.

Seperti malam ini, orang-orang di sekelilingku, asyik membicarakan tentang kejelekan-kejelekan orang lain, merencanakan kejahatan terhadap seseorang, mempersoalkan nomor judi yang baru saja keluar dan juga membicarakan tentang lekak-lekuk tubuh perempuan.

Mungkin juga mereka menikmati lamunannya dengan tubuh perempuan penjaga warung.

Penjaga warung yang biasanya, yang agak tua, sudah berhenti kerja dan sekarang diganti dengan tiga perempuan. Itulah yang membuat warung ini semakin rame.

Perempuan pertama berusia sekitar 35 tahun, rambutnya pirang, dan bergincu tebal merah menyala. Perempuan kedua berusia sekitar 25 tahunan, rambutnya hitam legam, kulitnya kuning langsat, berbadan pendek dan sedikit gemuk.

Perempuan ketiga mengaku baru berusia 18 tahun, rambutnya ikal, kulitnya putih, tubuhnya langsing tapi buah dadanya besar. Aku sempat berpikir kenapa bisa sebesar itu. Tapi aku segera menepis pikiran itu. Tidak baik.

Apalagi aku masih mengenakan sarung khas santri. Memang, bapak-bapak yang sedang asyik bercengkerama dengan dua wanita itu juga banyak yang memakai sarung, tapi cara memakainya berbeda. Cara memakaiku lebih rapi.

Perempuan ketiga mendekati kami, duduk berceng-kerama bersama kami. Ngobrol ngalor ngidul hingga ke permasalahan seks.

Kami membicarakan dengan sangat vulgar. Aku sangat menikmati pembicaraan ini, aku tidak takut, dia hanya penjaga warung. Bukan lonte.

Tak terasa obrolan itu berlangsung hingga fajar tiba. Fajar ini masih sama seperti fajar-fajar sebelumnya.

Kami bergegas kembali ke pondok. Seperti biasanya, santri-santri mulai menggeliat dari mimpi indahnya, suara santri yang membaca Alquran di musala sama brengengeng-nya dengan ngorok-nya santri yang masih tidur.

Juga suara berisik santri-santri yang berebut kamar mandi karena antre, meskipun ada juga yang saking ngantuknya hingga tertidur di depan kamar mandi.

Begitulah malam-malam berikutnya hingga empat tahun. Selama tiga tahun ini, hanya sekali kami kepergok sama keamanan pondok, yaitu kang Anam.

Kang Anam adalah pengurus paling senior di pondok, dia mondok sudah hampir 30 tahun. Tidak ada yang ia kerjakan selain muter-muter cari santri yang melanggar peraturan-peraturan pondok.

Pengurus yang lain pernah bertanya padanya, “Kenapa gak nikah-nikah, Kang?”

“Ya emang belum ketemu jodohnya, Kang. Jodoh kan ada di tangan Tuhan.”

“Iya ada di tangan Tuhan, tapi kalau dirimu tidak mengambilnya ya gak dapet-dapet.”

“Terus aku harus bagaimana?”

“Ya cari lah..”

“Di mana?”

“Ya terserah, di pasar kek, di tempat sampah kek, yang penting ada usaha mencari, nanti lama-lama Tuhan akan iba.”

Pengurus keamanan yang berbadan kekar itu memang sering keluar untuk mencari anak-anak yang keluar malam. Saat itu kami kepergok sedang merokok.

“Hai, kamu santri Tarbiyatut Thullab kan?” tanyanya.

“Bukan, saya santri dari Sedayu.”

“Bohong, aku pernah melihatmu.”

Aku mendekatinya dan berbisik di telinganya. “Kang, jangan mempermalukan pondok kita dengan kelakuanmu ini. Kang Anam tenang aja, nanti kami akan menyerahkan diri ke kantor pondok. Sekarang tinggalkanlah kami dulu!”

“Baiklah.”

***

Mataku mulai mengantuk dan aku harus subuh berjamaah. Aku punya prinsip. Senakal-nakalnya aku. Waktunya salat harus salat.

Mataku terasa berat sekali, pelan-pelan aku pejamkan mataku. Beberapa saat kemudian aku merasakan pukulan yang sangat keras, bukan pukulan yang asing, aku sering merasakannya. Ini adalah pukulan Kang Anam.

Entah kenapa, aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Aku sudah salat berjamaah. Lalu membaca wirid dan aku hanya tertidur, itu pun masih dalam posisi duduk. Terus dipukul. Ini parah. Aku tidak terima.

Beginikah Islam? Ayahku pembohong, katanya Islam agama yang penyayang. Ternyata Islam agama yang keras. Aku langsung bangkit berdiri di tengah kerumunan jamaah, aku sempat melihat Kiai Mansyur memandangku.

Tapi aku tidak peduli. Aku berdiri dan aku katakan sangat lantang kata yang tidak pernah aku katakan sebelumnya. “AASSU..” Badanku berputar pelan dan jari telunjukku menunjuk ke semua arah, “DENGAR SEMUANYA, MULAI HARI INI AKU KELUAR DARI ISLAM. ISLAM ITU AGAMA KEKERASAN. ISLAM ITU ASU.”

Aku tidak mendengar seorang pun berbicara, namun tidak seorang pun mengantuk. Anak-anak yang berada di sekelilingku agak menjauh.

Semua pandangan terpusat padaku. Wajah para pengurus merah padam menunjukkan kemarahannya.

Aku tidak berani memandang wajah Kiai Mansyur, aku hanya memandangnya sebentar. Wajahnya tetap teduh. Aneh.

Bruk… plak… dugg… aku merasakan pukulan yang sangat keras dari belakangku, aku merasakan beberapa kaki menendangku, kepalaku di injak.

Kemudian aku diseret ke depan masjid. Sayup -sayup aku melihat para santri menyaksikanku seperti menyaksikan pertunjukan.

Aku tak berdaya. Mana Kiai Mansyur? Sekuat tenaga mataku mencari-cari keberadaannya. Aku tidak menemukannya. Mungkin dia tak peduli.

Aku masih merasakan pukulan-pukulan itu, seseorang memukulku sangat keras dengan kayu. Kemudian disusul lemparan-lemparan batu.

Dua buah batu mengenai jidatku hingga berdarah. Aku tidak sadarkan diri beberapa saat.

Ketika aku sadar, aku dapati diriku berada di rumah Kiai Mansyur. Pakaianku sudah ganti, seseorang menggantinya saat aku pingsan. Luka-lukaku juga sudah diperban. aku masih merasakan beberapa bagian tubuhku sakit.

Aku tidak menggerakkan badanku, hanya mataku yang kugerakkan. Aku melihat beberapa pengurus tertunduk lesu. Aku melihat wajah Kiai Mansyur masih sangat teduh. Aura kebijaksanaanya terlihat sangat jelas.

Pengurus-pengurus itu menundukkan kepalanya. Kiai Mansyur mengisap rokoknya sangat dalam, lalu menghem-buskannya. setelah semua asap yang ada di mulutnya habis, beliau berkata lembut, namun tegas.

“Hanya manusia yang diciptakan dengan kedua tangan Allah, makhluk yang lain diciptakan hanya dengan satu tangan. Apa dua tangan itu? Yaitu Jalaliyah dan Jamaliyah. Semua makhluk diciptakan dengan Jalaliyah-Nya.

Dan manusia diciptakan dengan Jalaliyah, juga Jamaliyah. Itulah kenapa manusia menjadi Ahsani taqwim. Tuhan sendiri itu lebih dominan pada sifat Jamaliyahnya, yakni sifat kefemini-man-Nya dari pada Jalaliyah-Nya, yakni kemaskulinan-Nya.

Allah lebih bersifat “keibuan” daripada “kebapakan”. Alquran itu berulang-ulang menyebut sifat Jamaliyah-Nya, dan sedikit sekali menyebut sifat Jalaliyah-Nya.

Dalam basmalah, yang disebut adalah sifat Jamaliyah-Nya, bismillahirrahmanirrahim, Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang. Bukan bismillahiljabbarilmutakabbir, bukan Tuhan Maha Perkasa dan Sombong. Nah, itulah sebenarnya Islam. Islam itu mengajarkan kedamaian, bukan kekerasan.”

Satu di antara para pengurus itu ada yang mendongakkan kepala, protes, “Tapi Kiai Mansyur, apa yang dilakukan Amir itu sudah keterlaluan. Dia harus dikeluarkan dari pesantren ini.”

“Kang, pesantren ini didirikan untuk dandani akhlak, bagaimana orang yang nakal bisa jadi baik. Kalau sedikit-sedikit dikeluarin, apa kamu bisa jamin dia akan menjadi lebih baik?”

“Tapi dia akan menjadi penyakit Kiai Mansyur, nanti akan nular ke semua santri.”

Kiai Mansyur tidak langsung menjawab, beliau mengisap rokoknya lagi. Kemudian menghembuskan ke awang-awang.

“Kalau penyakit masih bisa diobati kenapa harus diamputasi?”

Semua pengurus terdiam.

“Sekarang, saya gak mau ada pukul-pukul lagi. Di pesantren ini harus kita tumbuhkan kesadaran. Kalau pesantren dididik dengan kekerasan, maka nanti keluar dari pesantren mereka akan merasa keluar dari penjara, sehingga bebas ngapa-ngapain. Saya ingin tak ada lagi kekerasan di pesantren ini. Setuju?”

“Nggeh Kiai Mansyur,” jawab mereka serempak.

“Kejadian ini, serahkan saja pada saya. Okey?”

***

Setelah kejadian itu. Kiai Mansyur menghukumku. Aku di kurung di dalam rumah beliau pada sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku. Aku tidak boleh keluar kecuali saat jamaah dan sekolah. Makananku diantarkan seseorang dan kamar mandi sudah ada di dalam. Ini sangat membosan-kan. Aku sangat tersiksa.

Sebuah ruangan yang cukup pengap, tidak ada fentilasi kecuali lubang kecil di pojok ruangan. Di dalamnya penuh dengan buku-buku.

Ada empat rak buku. Rak pertama berisi buku- buku sastra. Rak kedua berisi buku- buku ilmiah. Rak ketiga berisi buku -buku tafsir. Rak keempat berisi buku bermacam- macam, termasuk hadis, fikih, filsafat, politik, majalah, koran, dan lain-lain.

Tempat ini seperti neraka. Apa kesalahanku sebegitu besar sehingga Kiai Mansyur mengurungku dalam tempat seperti ini. Tempat yang pengap dan membosankan. Ini bagaikan di neraka.

Kuputar otak mencari cara untuk keluar dari sini. ya, setelah sekolah adalah saat yang tepat untuk kabur.

“Fif?”

“Hai , Mir.”

“Mana Humaidi?”

“Ada di kamar. Ada apa?”

“Aku ingin keluar sama kalian.”

“Sebentar, aku panggilkan dulu Humaidi.”

“Oke.”

Setengah lari Afif menuju kamar. Dan kembali bersama

Afif.

“Ada apa, Mir?” tanyanya.

“Keluar yuk?”

“Kemana?”

“Yang penting keluar.”

“Baiklah.”

Kami keluar melompati pagar. Menuju warung kopi langganan.

Sebungkus rokok dan segelas kopi tersedia di depan kami. Kusruput kopi pelan-pelan, lalu kunyalakan rokokku.

“Gimana, Mir di rumah pak Kiai?” tanya Afif.

“Iya, seru gak?” tambah Humaidi.

Aku yang ditanya hanya diam, asyik mengeluar masukkan asap rokok.

“Kamu itu ditanya kok diam saja.”

“Fif, Hum, yang namanya dikurung itu apa ada yang enak?”

“Ya gak tau, kan saya gak pernah.”

“Rasanya itu, seperti dalam neraka.”

“Neraka?”

“Ya, neraka, penuh dengan siksaan.”

***

“Amir!”

Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku.

Suara itu seperti sudah sangat akrab dengan telingaku.

Kuhadapkan wajahku ke arah sumber suara. dan… “Kiai?”

Afif dan Humaidi juga ikut menghadap ke sumber suara.

“Kiai Mansyur?” Mereka lari teribirit-birit.

Bagaimana mungkin Kiai bisa di sini ya, apa mungkin Kiai juga sedang ngopi. Tidak mungkin. Mungkin benar apa yang dikatakan santri- santri senior bahwa Kiai Mansyur itu mempunyai karamah. Karamah adalah sesuatu yang luar biasa yang dimiliki oleh orang-orang saleh.

Pernah suatu ketika ada santri yang berniat melihat dangdutan. Santri itu tau, Kiai Mansyur sedang i’tikaf di musala dan membaca wirid-wirid.

Santri itu pun keluar dengan pede-nya, dangdutan yang ada di kampung sebelah itu mau tidak mau harus melewati kali umbel, dan mereka sangat terkejut Kiai Mansyur tiba-tiba muncul di atas jembatan kali umbel itu.

“Lapo leh? Arep nang ndi?” kata Kiai Mansyur. Santri itu pun lari terbirit-birit, dan begitu sampai di pondok, mereka dapati Kiai Mansyur masih duduk anteng di musala.

***

Kupincingkan mataku mengelilingi buku-buku itu. Buku-buku yang ada lebih banyak berbahasa arab. Aku mulai mengambil satu buku dari rak sastra, yaitu novel Saman karya Ayu Utami.

Aku mengambilnya karena nama pengarangnya Ayu. Ah, nama ini, nama yang telah membuatku gila. tiba -tiba bayangan wajah Ayu hadir di kelopak mataku.

Ayu, Ayu, apa kabar kau di sana? Lama sekali kita tidak bertemu, apa kau semakin cantik? Pasti. Pasti kau semakin cantik.. tunggulah sayang, nanti kalau sudah saatnya, akan kupersunting dirimu dan kujadikan istri. Sehingga kita hidup bahagia selama-lamanya.

Kumulai baca novel ini dengan basmalah, aku selalu memulai sesuatu dengan basmalah. Itulah yang selalu diajarkan ayah dulu.

Ia mengutip sabda Nabi, “Semua perkara itu mempunyai kebaikan, jika tidak dimulai dengan basmalah, maka perkara itu menjadi cacat, atau tidak sempurna.” Orang yang membaca basmalah sebelum memulai sesuatu, kata Ayah, ia akan memperoleh sesuatu itu dan juga memperoleh pahala nanti di akhirat.

Orang yang tidak membaca basmalah sebelum memulai sesuatu, maka dia hanya mendapat sesuatu itu, tapi tidak mendapat pahala di akhirat nanti.
“Maksudnya, Ayah?”

“Contohnya gini, kalau kita makan, terus kita baca basmalah, maka kita juga dapat makanan yang kita makan saat itu dan kita juga dapat pahala di akhirat. Nah, orang yang tidak membaca basmalah sebelum makan, maka dia hanya dapat merasakan makanan yang sedang dia makan itu, tapi di akhirat tidak lagi mendapat apa-apa.”

Kubuka lembar demi lembar, dan sepertinya aku sudah mulai menikmati untuk membaca. Ternyata membaca itu enak, membaca itu seru.

“Jadi sekarang kamu sudah tidak merasa di situ seperti neraka lagi?” tanya Afif dan Humaidi di kelas.

“Sekarang neraka itu terasa enak.”

“Neraka terasa enak?” Mereka ndomblo mendengar pernyataanku.

“Ya, aku merasa buku-buku yang ada di ruangan itu bagaikan bidadari-bidari yang telanjang dan menari-nari erotis.”

“Memangnya berapa buku yang sudah kau baca?”

“Emmm berapa ya?” Aku meletakkan jari telunjukku di atas hidung, seperti orang yang sedang mengingat-ingat. “Kalau ndak salah, buku yang sudah kubaca adalah sebanyak… satu.”

Mereka tertawa terpingkal-pingkal, ledakan tertawanya itu seperti meledek.

“Jangan salah, satu juga hitungan.”

“Memangnya, buku apa yang kau baca?”

“Novel Saman karya Ayu Utami.”

“Tari Saman?”

“Bukan. Saman itu nama orang. Dia adalah tokoh utama dalam novel itu.”

“Ceritain dong!” rengek mereka.

“Baiklah, jadi, si Saman dalam novel itu digambarkan sebagai orang yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Nama asli Saman adalah Athanasius Wisanggeni. Wis, begitulah orang-orang memanggil.

Ia beragama katolik dan ia mengabdikan dirinya sebagai seorang pastur. Wis sangat menginginkan ditugaskan di Perabumulih, suatu tempat masa kecilnya dimana ia dilahirkan, juga tempat yang menyimpan banyak misteri di dalamnya. Akan tetapi, Wis tidak diizinkan jika hanya berlibur di sana. Wis ditugaskan sebagai Pator paroko

Parid yang melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan, Palembang. Sebelum sampai di tempat itu, ia berkesempatan mengunjungi bekas rumahnya dahulu 10 tahun silam.

Setelah beberapa kali ia berkunjung ke bekas rumahnya itu, ia akhirnya diizinkan tinggal di tempat itu oleh pemilik rumah yang baru.

Ketika tinggal di tempat itu, Wis kembali dihantui oleh suara gaib. Wis juga kembali merasakan hawa-hawa aneh seperti masa kecilnya. Ia juga bisa mendengar suara adik-adiknya serta bercakap dengan bahasa masing- masing yang tidak bisa dimengerti olehnya.

“Konon katanya, ibunya menjalin hubungan dengan jin maka tidak aneh jika Wis dihantui olwh suara- suara gaib seperti itu.

Tiba- tiba Wis mendengar suara gadis minta tolong dan iapun berlari ke sumber suara sampai di sebuah sumur di tengah hutan. Setelah itu Wis berteriak minta tolong pada warga sekitar. Setelah warga berdatangan, ternyata tak seorang pun berani masuk menolong si gadis. Wis memberanikan diri melakukan itu.

Ia dan si gadis akhirnya selamat. Gadis yang ditolong Wis bernama Upi. Upi adalah gadis yang kejiwaannya sedikit terganggu.

Sehingga tidak mengerti bahasa manusia. ketika Wis mengembalikan Upi kepada orangtuanya, baru ia tahu bahwa Upi diasingkan oleh ibunya di rumah pemasungan yang sangat kecil, tidak lebih baik dari kandang kambing.

Merasa tidak tega, dan sedikit demi sedidikit muncul rasa sayang dihatinya, Wis meminta izin kepada orangtuanya terlebih dahulu. Wis membuatkan rumah pasung baru untuk Upi yang lebih besar dan sedikit lebih nyaman.

Wis juga membuat tempat pengelolahan karet sederhana untuk wilayag Lubukrantau itu dan mebuat pembangkit listrik di sana.

“Di sisi lain, ada gadis yang masih belia bernama Laila, ia menyukai seseorang yang sudah mempunyai istri, yaitu Sihar.

Cintanya pada Sihar yang begitu dalam membuat Laila ingin pergi ke New York bersama Sihar. Karena di New York enak, bebas melakukan semua hal yang ia mau tanpa menikah terlebih dahulu.

“Suatu ketika kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet itu.

Sebuah keputusan dari pemerintah memerintahkan perkebunan tersebut beralih ke tangan sebuah perusahaan swasta. Hal tersebut tentunya sangat merugikan warga.

Wis mencoba mengumpulkan warga desa untuk mencari sebuah kesepakatan, hanya Wis beserta keluarga Upi sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, mereka mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian membakar seluruh rumah warga dan menculik Wis di sebuah penjara pengasingan.

“Di situ Wis disiksa mati-matian dan disuruh mengakui apa yang tidak ia lakukan. Akhirnya ia terpaksa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengristenkan para petani Lubukrantau, membuat surga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar.

Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu.

Ia dibawa ke rumah sakit dan kemudian dirawat oleh suster- suster gereja di kediaman mereka. Ia mengganti kartu identitasnya sampai peristiwa itu selesai di pengadilan dua tahun kemudian. Akhirnya, ia memilih nama ‘Saman’ sebagai pengganti nama ‘Wis’ tanpa alasan khusus.”

Azan Zuhur berkumandang dari musala pesantren.

“Nanti terusin ya ceritanya.”

“Nggak ah, males.”

“Tapi kan belum selesai, Mir.”

“Bodo amat, emang gue pikirin… oh iya, di novel itu ada cerita mesumnya juga loh..”

“Gimana ceritanya?”

“Nggak ah, entar malah kalian ngaceng.”

Hahaha, aku tertawa sendiri, sementara ada guratan kecewa di wajah mereka.

***

Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu ruangan yang kutempati ini.

“Siapa?” sahutku.

“Ini mau ngantar makanan,” jawabnya, suaranya lembut keluar dari bibir seorang perempuan. Pasti cantik anaknya.

Aku membuka pintu perlahan. Ternyata benar, yang mengantar makanan kali ini adalah seorang santriwati yang sangat cantik, aku sempat melihat wajahnya yang anggun dan memesona, tapi kemudian ia tundukkan wajahnya hingga tertutup oleh jilbab putihnya. Aku terima makanan itu lalu ia kembali ke belakang.

Beberapa langkah ia berjalan aku memanggilnya, “Hai..” ia pun menoleh aku melihat lagi wajahnya, lalu kukatakan padanya, “Terima kasih ya?”

Ia hanya membalas dengan anggukan.

Suara azan Ashar berkumandang dari Musala pesantren. Kiai Mansyur membukakan pintu kamarku dan mengajak jamaah.

Begitulah, aku hanya diizinkan keluar tempat ini untuk berjamaah dan sekolah. Itu pun musala dan kelasnya sangat dekat dengan ruangan yang aku tempati ini.

Ruangannya berada di dalam rumah Kiai Mansyur, jarak antara rumah dan musala hanya sekitar sepuluh meter. Ruang kelas berada di atas musala.

Setelah jamaah Ashar, ada pengajian kitab Tafsir Jalalain yang diajarkan langsung oleh Kiai Mansyur. Tafsir Jalalain adalah sebuah kitab tafsir Alquran yang sangat terkenal dan paling banyak diajarkan di pesantren-pesantren dan juga banyak dijadikan rujukan karena dianggap mudah dipahami dan terdiri hanya satu jilid.

Kitab ini awalnya disusun oleh Syekh Jalaluddin al-Mahalli pada tahun 1459, dan kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Syekh Jalaluddin as-Suyuthi pada tahun 1505.

Jalaluddin al-Mahalli mengawali penulisan tafsir sejak dari awal surah al-Kahf sampai dengan akhir surah an-Naas, setelah itu ia menafsirkan surah al-Fatihah sampai selesai.

Al-Mahalli kemudian wafat sebelum sempat melanjutkan-nya. Jalaluddin as- Suyuthi kemudian melanjutkannya dan memulai dari surah al-Baqarah sampai dengan surah al- Isra’.

Kemudian ia meletakkan tafsir surah al-Fatihah pada bagian akhir urutan tafsir dari al-Mahalli yang sebelumnya. Namun, masih terdapat perbedaan pendapat mengenai kadar kerja masing-masing penafsir tersebut.

Usai pengajian, aku pun kembali ke tempatku di penjara ini. Aku semakin menikmati tempat ini, padahal aku baru membaca satu novel, tapi itu sudah cukup membuatku jatuh cinta pada membaca.

Aku mengambil satu buku lagi, kali ini buku kumpulan cerpen berjudul Jangan main-main (dengan kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu. Lagi-lagi yang kuambil adalah yang pengarangnya ada Ayu- nya.

Kumpulan cerpen ini terdiri dari 11 cerpen. Aku baru membaca tiga cerpen tapi suara azan Maghrib sudah berkumandang. Seperti biasa, Kiai Mansyur membukakan pintu dan mengajakku untuk berjamaah. Setelah Maghrib adalah pengajian kitab Ta’lim muta’allim sampai jam delapan.

Kemudian jamaah Isya, lalu setelahnya baru aku bisa kembali ke neraka mewahku. Aku mengambil kembali kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) yang belum selesai kubaca. Aku meneruskan membacanya, kali ini pada cerpen bagian ketiga yaitu Menyusu Ayah.

Djenar Maesa Ayu dalam kumpulan cerpen ini sangat vulgar dalam menceritakannya. Seperti yang kubaca saat ini, di sana tertulis:

“Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.”

Awalnya aku berpikir bahwa ini adalah cerita porno. Tapi setelah kupikir-pikir, porno itu tergantung pada otak masing-masing kepala. Kalau orang itu otaknya kotor, maka suara perempuan pun dianggap porno, sehingga suara perempuan dikategorikan menjadi aurat. Perempuan tidak boleh menyanyi, tidak boleh azan, bahkan tidak boleh melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Lagi pula mana mungkin Kiai Mansyur mengoleksi buku seperti ini jika tidak ada manfaat di dalamnya. Mungkin, dengan ini, pembaca bisa tahu betapa kerasnya hidup yang kita lalui ini.

Baru saja aku menyelesaikan membaca satu cerpen seseorang mengetuk pintu.

“Siapa?”

“Ini mau ngantar makanan.”

Suara itu. Itu suara santriwati yang tadi siang. Aku bergegas berdiri dan membukakan pintu. Kali ini ia memakai jilbab merah muda, wajahnya terlihat semakin cantik di malam hari. Aku tidak langsung menerima makanannya. Aku ingin menanyakan namanya.
“Siapa namamu?” tanyaku.

“Nayla,” Jawabnya.

Ha? Nayla? Seperti nama tokoh yang ada pada cerpen yang baru saja kubaca. Pikiranku langsung melayang, aku membayangkan Nayla memerankan seperti yang ada dalam cerita itu, dan aku sebagai ayahnya.

“Mir?” sapa Kiai Mansyur membuyarkan lamunanku.

Aku sudah tidak mendapati Nayla berdiri di depanku.

Justru yang berdiri di depanku adalah Kiai Mansyur.

Makanan itu sudah ditaruh di atas lantai.

“Loh, kok Nayla jadi laki-laki?”

“Walah, kamu udah kenalan toh sama Nayla?”

“Iya, Kiai, sepertinya saya jatuh cinta.”

“Huss. Dia itu keponakan saya. Dia kemari untuk mengundang saya dan besok mau melangsungkan akad nikah.”

“Hah? Akad nikah?” Aku kaget, tapi tidak kaget banget.

“Kamu mau ikut?”

“Nggak ah, nanti saya malah menangis darah.”

Kami tertawa.

“Ya udah, Kiai, saya masuk dulu.”

Aku segera masuk dan membawa makanannya.

Aku tidak langsung makan. aku ingin menyelesaikan buku yang sedang kubaca. Begitu selesai aku baru makan. setelah itu aku membaca buku-buku lain dan tak terasa hingga azan subuh berkumandang. Begitulah seterusnya yang kulakukan, akibatnya aku di kelas selalu mengantuk.

Dalam waktu tiga lima bulan aku sudah menghabiskan semua buku sastra yang berbahasa indonesia. Barulah aku membaca buku ilmiah.

Aku sangat suka dengan buku-buku yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. M. Quraish Shihab adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Alquran.

Beliau adalah ulama Sunni, tapi karena demikian tolerannya dalam berpendapat, banyak orang yang menduga beliau adalah Syiah. Dalam empat bulan aku menyelesaikan semua buku-bukunya, tinggal satu yang belum, yaitu Tafsir al-Mishbah.

Kupicingkan mataku mengelilingi buku yang berjilid-jilid itu. Tafsir al-Mishbah sangat menarik, karena warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah swt.

Setelah kubaca-baca ternyata Kiai Mansyur ketika mengajar kitab Tafsir Jalalain, beliau menerangkannya menggunakan Tafsir al-Mishbah, mungkin karena Tafsir Jalalain terlalu singkat.

Seperti ketika menafsirkan huruf-huruf yang memulai surat, dalam Tafsir Jalalain hanya dikatakan “Allah lebih tahu maksud dari alif lam mim’, tapi dalam tafsir al- Mishbah disuguhkan begitu banyak pendapat tentang makna alif lam mim.

Aku menyelesaikan membaca Tafsir al-Mishbah ini dalam waktu tiga bulan. Dulu, aku memandang Qur’an itu begitu keras dan membayangkan Tuhan begitu kejam, dan setelah membaca buku-buku Quraish Shihab itu, aku merasakan Alquran itu begitu lembut, Islam itu penuh kasih sayang, dan Tuhan itu Mahabaik dan Maha Jarang Marah.

***

“Mir…” Suara Kiai Mansyur memanggilku dari balik kamarku.

“Iya Kiai Mansyur.” Aku berdiri dan membuka pintu.

“Ayo duduk dulu.” Kami duduk berhadapan. Aku tundukkan kepalaku. Kiai Mansyur meraih rokok yang ada di sakunya lalu menyulutnya.

“Bagaimana? Ini sudah satu tahun kamu dalam hukuman. Kamu boleh keluar dari penjara ini.”

“Tapi Kiai?”

“Tapi kenapa?”

“Tapi saya belum selesai membaca semuanya.”

“Kamu sudah membaca berapa buku?”

“Saya sudah membaca semua karya sastra yang berbahasa indonesia dan semua karya M. Quraish Shihab.”

“Bagus sekali. Karya sastra itu memang sangat penting untuk dibaca. Dengan karya sastra, seseorang bisa mengambil banyak pelajaran dari kehidupan orang lain. Dan buku Quraish Shihab itu, sangat bagus. Saya sangat mengagumi beliau.

Nanti kapan-kapan kalau kamu ke Jakarta, mampir aja ke sana. Di rumah pak Quraish itu ada kajian tafsir setiap malem senin minggu pertama awal bulan, dan malam kamisnya di masjid al-Barkah di depan rumah beliau.”

“Nggeh, Kiai.”

“Kalau yang buku arab sudah kamu baca?”

“Belum Kiai.”

“Loh, kenapa?”

“Saya memang paham ketika membaca kitab yang berbahasa Arab, tapi saya tidak bisa seleluasa baca kitab yang berbahasa indonesia, kadang di beberapa kata, saya juga tidak tau kosakatanya.”
“Gini loh, Mir. Islam itu memang untuk semua orang di dunia.

Tapi Islam itu lahirnya di Arab, Alquran juga berbahasa Arab. Jadi, siapa yang ingin benar-benar paham tentang Islam, orang harus bisa bahasa Arab, karena sumber kitab-kitab agama itu dari bahasa Arab. Kalau kamu tadi bilang sudah paham dengan bahasa Arab, itu bagus sekali, tinggal kamu membiasakannya, kata orang bijak itu, kullu syai’ minal biyasa.

Semuanya itu bergantung pada kebiasaan. Kalau kamu sudah biasa, nanti baca kitab yang berbahasa Arab akan sama mudahnya dengan membaca kitab yang berbahasa Indonesia.

“Nggeh Kiai, akan saya coba.”

“Jangan dicoba, tapi dibaca!”

“Nggeh Kiai.”

“Jangan nggeh nggeh doang!”

“Insya Allah dijalani.”

“Tapi hukumanmu udah selesai loh?”

“Mohon untuk di tambah, Kiai.”

Kiai Mansyur tertawa terpingkal-pingkal.

“Oke-oke, baiklah. Hukumanmu saya tambah.”

“Terima kasih Kiai.”

“Gak perlu terima kasih.”

“Sebenarnya saya ingin membawakan dan mempersembahkan bulan dan bintang untuk Kiai, tapi apalah daya ketika tangan tak sampai, saya hanya bisa mempersembahkan ucapan terima kasih.”

“Hahaha, kamu itu bisa aja.”

Sejak saat itu, aku mulai akrab dengan teks-teks Arab gundul. Aku pun melahap semua kitab- kitab yang ada di perpustakaan pribadi Kiai Mansyur kecuali kitab-kitab yang terlalu besar dan berjilid-jilid, karena aku tidak lama di sini, dan aku harus pindah ke tempat lain.

***

“Baiklah Amir, saya kira belajarmu di sini sudah cukup. Dan kamu harus pindah dari sini.”

“Apakah Kiai mengusir saya?”

“Sama sekali tidak berniat seperti itu. Tapi itu memang harus kamu lalui. Dunia ini luas, dan jangan sampai kau hanya berkutat pada lingkaran yang sangat kecil ini.”

“Lalu saya harus pindah ke mana, Kiai?”

“Ya terserah kamu, mintalah bimbingan pada Allah. Dia akan membimbingmu, Insya Allah.”
“Insya Allah, Kiai.”

“Pesanku, teruslah membaca dan membaca. membaca apa saja, buku, koran, majalah, pokoknya apa saja yang bisa dibaca. Dan yang paling penting adalah membaca kehidupan.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *