Beranda Cerita Bernostalgia Masa Kecil Sejenak

Bernostalgia Masa Kecil Sejenak

Bernostalgia Masa Kecil Sejenak

Bernostalgia Masa Kecil Sejenak | Saya benar-benar bahagia dan bisa tertawa sendiri jika mengingat masa kecil saya. Bagaimanapun juga, itu adalah kenangan dan ingatan yang tidak gampang untuk disingkirkan.

Menjadi dewasa itu tidak enak. Pasti ada saja permasalahan yang akan kita hadapi. Bahkan, ketika permasalahan satu belum selesai, ada lagi permasalahan yang lain.

Kalau tidak kuat, akhirnya mencari jalan pintas dengan caranya masing-masing. Seperti minum bensin, gantung diri, menjatuhkan diri dari ketinggian, dan lain-lain.

Menjadi dewasa itu tidak enak. Ketika kita ingin melakukan sesuatu harus mempertimbangkan dulu baru setelah itu melakukan. Mana yang sekiranya menguntungkan, dan mana yang tidak.

Untuk permasalahan kebahagiaan seseorang, itu tergantung sudut pandang masing-masing. Terkadang orang yang kita lihat bahagia karena ketenarannya pun belum tentu juga dia bahagia.

Dulu saya punya teman yang namanya Samudi di trenggalek. Samudi adalah pria yang dicintai banyak orang dan memiliki begitu banyak penggemar. Kalau kemana-mana, ia disapa dan terkadang dimintai berfoto bareng.

Sedangkan saya tidak pernah disapa kalau kemana-mana, apalagi dimintai berfoto bareng. Untungnya, saya tidak terlalu suka bertegur sapa di jalanan, apalagi pas naik motor. Selain itu menggangu ketertiban lalu lintas dan berbahaya bagi pengendara, saya lebih menyukai bernyanyi atau berpidato saat bermotor.

Untungnya, tekhnologi masa kini menyediakan phonsel berkamera deppan yang bisa kita jadikan untuk memfoto muka kita sendiri, atau menyuntingnya lalu menggabungkannya dengan foto orang lain.

Saya pikir, dia benar-benar bahagia. Ternyata bahagia memang sudut pandang masing-masing orang.

Itu kalau kita sudah dewasa, berbeda saat kita masih sd atau mi.

Saya sungguh bahagia ketika melakukan sesuatu yang saya sukai, walaupun itu sangat melelahkan. Anak kecil tidak pernah berfikir “nanti kalau saya lelah terus sakit bagaimana?”, “nanti kalau saya dimarahi ibu saya gimana?”.

Saya tidak pernah berfikir demikian sewaktu masih sd. Yang saya fikirkan hanyalah “senang saat bermain”, pulang sore? ahh,, itu sudah biasa.

Tulis Komentar