Cerita Inspiratif Santri | Berkorban Kurban

  • Whatsapp
Berkurban Kurban

Kurban bukan hanya tentang penyembelihan raja kaya. Bukan hanya tentang berbagi. Apalagi sebatas malu dan gengsi. Tetapi, ada yang lebih prinsip dari segenap tujuan yang ada. Berkurban adalah tentang kembali pada kedekatan seorang hamba terhadap Tuhannya.

Ritual persembahan benda-benda yang bersifat fisik ini bahkan telah ada sejak zaman manusia pertama. Adam. Dua putranya, pernah berkurban dari masing-masing hasil bisnisnya.

Muat Lebih

Qabil dengan hasil panennya, dan Habil dengan binatang ternaknya. Hanya satu di antara mereka yang pengurbanannya diterima.

Habil. Bukan karena binatang ternaknya, tetapi karena keikhlasan dan kesadarannya, bahwa esensi berkurban adalah untuk mendekatkan diri pada Tuhannya.

Bukan untuk memenuhi hawa nafsunya, sebagaimana yang dilakukan saudaranya. Yang pengurbanannya hanya sebatas berkorban, bukan benar-benar berkurban.

Ia hanya ingin menikahi Ikrima, wanita cantik kelahiran surga, saudara kembarnya sendiri. Itu sebabnya, saat persembahannya tertolak, dan telah benderang bahwa ia tidak akan mendapat Ikrima, Qabil membentangkan tangannya, membunuh saudara kandungnya.

Jangan pula menduga bahwa perintah penyembelihan Sayyidina Ismail melalui mimpi Sayyidina Ibrahim itu adalah perintah berkorban.

Bukan. Itu perintah mencintai Tuhan. Dan tentu saja bukan agar Ibrahim bisa berbagi daging putranya kepada para tetangga sebagaimana pada hari biasa ia membagi domba.

Juga bukan agar nanti di Hari Kiamat Ismail akan jadi tunggangannya. Enggak. Buktinya, Ismail tidak benar-benar tersembelih. Yang tersembelih adalah domba.

Sebelum itu semua. Saat Ibrahim menceritakan mimpinya bahwa ia telah-sedang menyembelih putranya. Ismail bukan berkata, “Lakukan apa yang Bapak inginkan.” Tetapi, “Lakukan apa yang diperintahkan pada Bapak.” Sebab, Ismail tidak mau dijadikan korban.

Ia hanya bersedia menjadi kurban. Pun, ia bersedia menjadi kurban bukan karena Ibrahim adalah bapaknya, bahkan bukan karena Ibrahim seorang nabi.

Tetapi, ia bersedia karena itu perintah dari Tuhannya. Dan, walau masih dini, Ismail tahu, mimpi nabi adalah wahyu.

Kendati Sayyidina Ibrahim tahu dengan tingkat pengetahuan yang pasti, bahwa mimpi itu merupakan perintah Tuhan, beliau tetap tidak grusa-grusu. Beliau tidak langsung ambil pedang dan menebas leher putranya. Tidak.

Ibrahim sangat mengedepankan musyawarah. Karena musyawarah juga perintah Tuhan. Semua yang dilakukan hanya untuk Tuhan semata.

Ia memang mencintai anaknya, tetapi cinta Ibrahim pada Tuhannya, melebihi dari segala yang ada.

Dalam berkurban di hari raya Kurban, walau itu baik, harusnya dimusyawarahkan dulu pada keluarganya.

Baca Yang Ini Juga: Mengapa Kok Wanita?

Jangan hanya lantaran binatang yang dikurbankannya kelak menjadi kendaraan menuju surga, lalu ia meninggalkan istri dan anaknya nelangsa dalam kubangan derita.

Istrinya dikorbankannya hingga tak bergincu dan tak pula berbedak. Sementara anaknya dikorbankan hingga nunggak SPP sekolahnya, tidak bisa beli buku tulis, buku pelajaran, dan buku bacaan.

Atau tidak dibelikan sepatu lagi, padahal telah remuk sepatu untuknya sekolah.

“DUHAI Ananda, dalam mimpi, aku melihat diriku sedang menyembelihmu. Maka renungkanlah, dan apa pendapatmu tentangnya?”

“Duhai Ayahanda, laksanakan apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan menjumpaiku sebagai bagian dari orang-orang yang bersabar (dalam mematuhi perintah-Nya).”

Cerita tentang penyembelihan Ismail sudah saya tahu sejak kecil. Di sekolah, di TPQ, dan setiap tahun pada khutbah-khutbah Idul Kurban, selalu dibahas.

Pernah, entah waktu itu berapa usia saya, Bapak menggoda saya. “Nuk, mabengi Bapak ngipi dikongkon nyembelih sampean. Piye menurutmu?”

Saya tersenyum. “Monggo njenengan jumenengaken noponopo ingkang dipun titahaken. Insyaallah kulo sabar mawon,” jawab saya, “nanging, njenengan kedah pensiun riyen dados kiai. Kedah gantos jabatan dados nabi.”

Kemudian kami tertawa bersama. Itu adalah kali pertama saya mengembalikan ucapan Bapak.

Berikutnya, kami sering berdiskusi, yang sebenarnya lebih mengarah pada berdebat, pada hal-hal yang berat.

Kadang, kalau Bapak kalah debat, atau tidak bisa menjawab pertanyaan saya, dia berkata, “Kamu semakin kritis.

Bapak senang sekali. Tidak sia-sia Bapak memondokkanmu. Selain kritis, kamu juga bertambah tampan.” Dan, seketika perdebatan terhenti. Pujian, walau dari bapak sendiri, selalu membuat saya tersipu dan tersapu.

Hari Raya Kurban adalah hari rayanya perut santri. Jika selama ini hanya mampu masak tahu, tempe, ikan asin, dan sambal terasi.

Setiap hari. Kadang-kadang mi instan. Tetapi, di Hari Raya Kurban, kami bisa makan makanan yang lain.

Daging. Kalau sudah dapat daging, biasanya kami memasrahkan Kasmudi untuk memasak. Sehari dua kali, hingga seminggu ke depan, dengan bumbu yang sama, dia bisa mengolah masakannya dengan rasa dan nama yang berbeda-beda.

Para santri gembira. Tetapi tidak dengan Mastur. Mastur menjumpai saya dengan gerutuan. “Semua ini memang salah Kakek dan Nenek.

Mengapa mereka mewariskan rumah mewah, paling mewah di antara rumah para tetangga, tetapi tidak mewarisi uang. Atau, mungkin mewarisi, tetapi Ayah dan Bunda yang …”

“Serius kamu manggil ayah-bunda?” potong saya. “Dapuranmu, Tur … Tur ….”

“Ini ceritanya mau dilanjutin, nggak?”

“Nggak juga nggak apa-apa, sih.”

“Oke. Tetapi aku tetap mau melanjutkan. Sampai mana tadi?”

“Yo embuh.”

Lalu Mastur melanjutkan ceritanya. Dia dan keluarganya, kerapkali mendapat sindiran sinis dari masyarakat gara-gara keluarganya tidak pernah berkurban di Hari Raya Kurban.

Padahal tetangga samping rumahnya, yang rumahnya jauh lebih jelek dari rumah Mastur, nyaris tiap tahun berkurban.

“Akhirnya, Bunda sampai harus jual kalung untuk beli kambing. Aku sih nggak masalah, dan nggak peduli walau itu satu-satunya harta (yang masuk itungan) berharga orang tuaku selain motor Ayah yang sudah-baru separuh terbeli.

Cuman, mengapa aku minta uang buat beli buku selalu ditunda-tunda? Yang, penundaan itu sebenarnya hanya alasan yang bermuara pada tidak mau atau tidak mampu ngasih.”

“Terus, masalahmu apa?”

“Sumpah, ini orang nggak ada mafaatnya sama sekali, ya?”

Sejenak saya terdiam. Saya tahu kegelisahannya. Dan saya yakin, dia bukan satu-satunya yang memiliki kegelisahan serupa.

Saya ingin membela pemikirannya, hanya, saya tidak ingin pendapat saya kemudian dianggap sebagai membatasi „berkurban‟ hanya boleh dan dianjurkan bagi orang yang mampu, atau memiliki harta lebihan setelah tercukupi segala kebutuhan.

“Berkurban itu syariat, Tur. Apa yang telah disyariatkan dalam agama, mestinya kita tidak perlu ditanyatanya lagi.

Kalaupun kita menemukan alasan disyariatkannya, tentu itu hanya sebagian kecil dari apa yang lebih agung dari itu, yang telah dipersiapkan Gusti Allah sebagai ganjarannya.”

“Ya. Aku tahu itu, Kang. Tetapi, aku tetap tidak bisa menerima jika kurban harus menjadi korban.

Menurutku, kurban bukan hanya tentang penyembelihan raja kaya. Bukan hanya tentang berbagi. Apalagi sebatas malu dan gengsi.

Tetapi, ada yang lebih prinsip dari segenap tujuan yang ada. Berkurban adalah tentang kembali pada kedekatan seorang hamba terhadap Tuhannya. Bukan begitu?”

“Sek, sek. Kok, aku seperti pernah menjumpai kalimat yang barusan kamu katakan itu ya?”

“Sori, aku meminjam kalimatmu di paragraf pertama bab ini.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *