Beranda Islami Cinta dan Pacaran

Cinta dan Pacaran

Cinta dan pacaran
By: M Nuchid

“Jika engkau tidak memiliki rasa cinta dan tidak mengerti arti cinta, maka jadilah saja batu karang yang kokoh kering kerontang.” Demikianlah ungkap seorang pujangga cinta. Sebab, manusia tercipta dengan cinta, dan fitrah manusia adalah mencintai dan dicintai.

Karena fitrah, maka agama tidak pernah melarang siapapun untuk mencintai lawan jenisnya.

Cinta adalah napas kehidupan. Siapa yang tidak mencintai dan tidak dicintai, sejatinya ia telah mati. Kematiannya adalah kehidupan tanpa cinta

Yang menumbuhkan rasa cinta adalah Zat Yang Maha Pecinta, maka tidak mungkin Dia melarang hamba-Nya untuk mencinta. Dialah Yang Maha membolakbalikkan hati. Menancapkan cinta dan mencerabutnya.

Karena itu, banyak sekali ulamaulama yang dalam ceramah maupun karya tulisnya, membahas tentang cinta, yang bukan saja cinta kepada Allah, tapi juga cinta kepada sesama manusia.

Tidak jarang pula, ulama yang terkenal kolot dalam beragama, tapi sangat romantis dalam memaparkan cinta.

Allah mengizinkan manusia untuk saling mencintai, selama yang bersangkutan tidak keluar dari koridor yang telah digariskan-Nya. Jika cinta sudah keluar dari batasanbatasan yang semestinya, maka sesungguhnya ia tidak dapat lagi dinamai dengan cinta.

Pacaran tidaklah terlarang. Yakni pacaran dalam arti saling mengenal untuk menuju pernikahan. Hal ini biasa dilakukan antara lain dengan melihat wajah dan telapak tangan, bukan menyentuhnya. Atau, dengan saling kirim surat, Email, atau dengan cara saling stalking media sosialnya.

Namun, jika pacaran yang dimaksud adalah sebagaimana pacaran yang dipahami dewasa ini, yakni cinta yang melampaui batas moral dan aturan agama, maka ia menjadi terlarang.

Banyak anak muda yang menduga cinta semacam ini mampu meraih kebahagiaan. Padahal sejatinya ia tidak lebih dari mendatangi penderitaan. Bukan saja dalam bentuk ketidaknyamanan hidup, tapi juga dalam bentuk siksa di Hari Kemudian.

Agama menyebutkan bahwa ditusukkannya jarum besi ke kepala, lebih baik ketimbang cinta yang demikian itu.

Membeli kucing dalam karung memang tidak dikehendaki oleh agama. Itu sebabnya, agama memberi solusi melalui taaruf sebelum pernikahan.

Barangkali inilah yang disebut-sebut sebagai “pacaran Islami”. Pacaran untuk mendapat alasan kenapa yang bersangkutan harus menjalin sebuah ikatan agung bernama pernikahan, lalu mempertahankannya.

Pacaran yang bukan hanya dilakukan oleh dua muda-mudi. Pacaran yang dilaksanakan oleh dua keluarga.

Pacaran yang bukan termasuk dalam firman-Nya, “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya ia merupakan perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isrā‟: 32)

Pacaran yang bukan termasuk dalam sabda Rasulullah saw., “Dan janganlah ada di antara kalian yang berdua-duaan di tempat sepi dengan seorang wanita. Karena sesungguhnya setan akan menjadi orang ketiga di antara mereka.

Pacaran dalam Islam bukanlah untuk membangun cinta. Bukankah telah banyak sekali kita saksikan, orang yang telah membangun cinta dalam sebuah hubungan sebelum pernikahan, tidak lama usia pernikahannya.

Juga, telah banyak sekali kita saksikan, yang pada mula-mula menikah tidak saling mencintai, tapi rumah tangganya langgeng hingga keduanya sama-sama menua, bahkan salah satu atau keduanya sampai menemui ajalnya.

Karena cinta adalah urusan hati. Pengendalinya adalah Zat Yang Maha Pengendali hati. Cinta yang paling mulia adalah cinta kepada Allah.

Cinta kepada manusia menjadi mulia jika cinta itu tumbuh karena Allah. Cinta antar sesama manusia yang karena Allah adalah cinta yang tetap menjaga kesucian cinta, yang akan menjadi naungan saat tiada naungan selain naungan-Nya.

Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Siapa yang dimabuk cinta dan memelihara kesuciannya lalu wafat, maka dia mati dalam keadaan syahid.”

Tulis Komentar