Beranda Pendidikan Kajian Cinta dan Perselingkuhan dalam Islam

Kajian Cinta dan Perselingkuhan dalam Islam

cheating

Tidak dapat disangkal bahwa antara agama satu dengan yang lainnya pasti memiliki perbedaan, terutama dalam prinsip-prinsip akidahnya. Tapi di saat yang sama, semua agama memiliki sisi-sisi yang sama, terutama dalam hukum sosial. Di antara yang sama itu adalah tentang penunaian janji. Tidak satu pun agama di muka bumi ini yang merestui pengkhianatan.

Dalam Islam, amanat tertinggi adalah amanat keimanan. Setelah itu, amanat pada sesamanya, dirinya, dan lingkungannya. Amanat adalah sesuatu yang sangat berat. Langit, bumi, dan gunung-gunung telah ditawari oleh Tuhan untuk mengemban amanat.

Tapi mereka semua menolak untuk memikulnya. Namun, manusia dengan kebodohan dan kedunguan serta kezalimannya, yang lemah itu, justru begitu percaya diri hendak memikulnya.

Dalam cinta suci yang terbalut dalam pernikahan terdapat amanat. Amanat itu bahkan disebut sebagai Mītsāqan Ghalīdzan/ikatan amanat yang teramat berat. Firman-Nya, “Dan bagaimana kalian akan mengambilnya kembali, padahal kalian telah bergaul satu sama lain (sebagai suami istri). Dan mereka (istri-istri kalian) telah mengambil Mītsāqan Ghalīdzan/ikatan (amanat) yang teramat agung (berupa pernikahan) dari kalian.” (Q.S. Al-Nisā’: 21)

Jika mengkhianati hewan dengan seakan-akan hendak memberinya makanan tapi tidak benar-benar memberinya saja teramat dimurkai oleh agama, lalu bagaimana dengan pengkhianatan terhadap pasangan yang telah terikat oleh amanat yang teramat agung itu?

Orang-orang menamainya sebagai perselingkuhan. Selingkuh adalah memiliki hubungan khusus kepada lawan jenis yang bukan pasangannya. Selingkuh hati adalah memiliki rasa cinta kepada yang bukan kekasihnya.

Di antara penyebab orang jatuh cinta adalah karena merasa nyaman terhadap orang yang dicintai. Perasaan nyaman ini dapat diperoleh melalui sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh yang bersangkutan.

Terkadang, seorang suami lebih memilih perempuan lain yang tidak lebih cantik dari istrinya. Atau seorang istri lebih memilih lelaki lain yang bahkan tidak lebih kaya dari suaminya.

Namun begitu, jika manusia sudah mengikatkan diri dalam sebuah ikatan yang bernama pernikahan, harusnya mereka tidak hanya mengandalkan cinta hanya dalam arti kenyamanan. Cinta bukan saja menuntut tanggung jawab, tapi juga kesetiaan.

Tidak masuk akal juga, jika seseorang berselingkuh hanya lantaran pasangannya dianggap tidak sempurna. Ingatlah, bahwa tiada gading yang tak retak, tiada mawar yang tak berduri.

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan, demikian pula dengan pasangan kalian. Jangan duga, orang yang kalian jadikan selingkuhan, adalah orang yang lebih sempurna dari pasangan kalian. Sebab perselingkuhan penuh dengan dusta.

Dan boleh jadi, bahkan pasti, yang kalian selingkuhi itu tidak lebih baik dari pasangan yang kalian khianati.

Pernikahan memiliki asas-asas, dan kesetiaan adalah asas yang paling harus dipertahankan. Jika kenyamanan sudah tidak lagi didapatkan, kiranya amanat masih dapat menjadi alasan untuk tetap mempertahankan pernikahan.

Agama juga memberi salah satu jalan keluar, antara lain dengan berpoligami untuk menghindarkan perselingkuhan.

Jika berpoligami tidak dapat menjadi sebuah jalan keluar, dan pernikahan dirasa harus diakhiri, tentu saja berdasarkan logika, bukan dengan rasa, jalan terakhir yang ditawarkan adalah perceraian. Apapun alasannya, perselingkuhan tidak pernah dapat dibenarkan.

Jika engkau telah mencerabut rasa setia dalam dirimu, jangan berharap kasih sayang Allah akan terus diberikan-Nya padamu.

Dalam Hadis Qudsi Allah berfirman, “Aku adalah Teman (Pemberi nikmat dan keberkahan) kepada dua pasangan, selama salah satu di antara keduanya (atau keduanya) tidak mengkhianati yang lainnya. Apabila telah terjadi pengkhianatan, maka Aku keluar (mencabut nikmat dan keberkahan) dari mereka.”

Tulis Komentar