Beranda Islami Tentang Cinta dan Poligami

Tentang Cinta dan Poligami

Poligami

Barangkali, tidak mungkin seseorang mencintai dua orang atau lebih dengan cinta yang sama. Tapi tidak dapat seseorang pun memungkiri bahwa satu orang bisa mencintai lebih dari satu orang. Itulah antara lain yang menjadi sebab adanya poligami.

Dikabarkan dalam beberapa kitab tafsir bahwa Nabi Daud telah memiliki sembilan puluh sembilan istri. Kemudian pada suatu hari ia mendapat informasi bahwa hari itu ia akan mendapat ujian.

Daud pun berhati-hati. Ia mengambil kitab suci Zabur dan masuk ke dalam mihrab, tempat persemediaannya. Diletakkannya Zabur dalam pangkuannya. Sebelum mulai membaca, Daud berkata pada pembantunya, “Jangan izinkan seorang pun bertamu hari ini.” Setelah itu Daud menutup pintu dan membaca Zabur.

Di tengah-tengah khusyuknya membaca Zabur, ia melihat seekor burung sangat indah bertengger di jendela. Burung itu memiliki berbagai-bagai warna.

Belum pernah ia melihat burung secantik itu. Penasaran, ia pun mendekat untuk menangkapnya. Hampir teraih, burung itu terbang menjauh dari jendela.

Daud meletakkan Zabur, lalu mengejar burung itu. Saat hendak ditangkap, burung itu kabur lagi, menuju kastel.

Daud menyamperinya. Begitu sampai di sana, ia tidak melihat burung itu, yang ia lihat adalah seorang wanita cantik yang mandi dari haidnya di sebuah sendang. Saat wanita itu mengetahui bayangan Daud, ia menutupi tubuhnya dengan rambutnya.

Ketika itu, suaminya sedang berperang di jalan Allah. Daud berkata pada pimpinan perang, “Perhatikanlah Uria. Jadikanlah ia komandan dalam perang Tabut.” Dengan demikian, boleh jadi Uria akan gugur dalam peperangan.

Karena seperti yang sudah-sudah, siapa yang masuk dalam peperangan Tabut, mereka kebanyakan tidak kembali. Uria pun mengomando perang Tabut, dan terbunuh dalam peperangan itu setelah tiga kali memimpinnya.

Setelah genap masa iddah si wanita, Daud melamarnya. Wanita itu memberi persyaratan pada Daud, jika nanti ia melahirkan anak laki-laki, anak itulah yang harus menjadi raja yang menggantikannya, dan disaksikan oleh lima puluh orang dari Bani Israil.

Dan Daud tidak menyadari cobaan itu hingga Sulaiman as. lahir dari rahim wanita itu.

Kemudian Daud tersungkur dalam sujudnya, selama empat puluh malam, hingga tumbuh rumput di kepalanya, dan dahinya menyatu dengan tanah.

Kisah ini banyak sekali diceritakan oleh para mufasir saat menafsirkan Q.S. Shād: 21-24, tapi tidak sedikit juga yang menentangnya.

Karena cerita itu dianggap sebagai cerita Israiliyyat. Selain jalur periwayatannya yang lemah, redaksinya juga tidak masuk akal.

Namun, dari sekian yang mengritik kisah tersebut, yang dikritik lebih banyak tentang tidak mungkinnya Nabi Daud berbuat sekejam itu, yakni merebut istri orang dengan cara yang dilakukan orang biasa saja tidak wajar, apalagi beliau adalah nabi.

Tapi di antara sekian kritik yang disampaikan, sedikit sekali yang mempermasalahkan tentang poligami yang dilakukan Nabi Daud. Artinya, poligami sejak dulu memang sudah menjadi suatu yang lumrah.

Jika Nabi Daud disebut-sebut memiliki 99 istri, ditambah satu lagi dari mantan istri Uria sehingga genap menjadi seratus. Putranya, yakni Nabi Sulaiman, lebih fantastis lagi. Ada yang berkata, ia memiliki seribu istri.

Sebagaimana agama-agama yang lain telah membahas dan menetapkan aturan poligami, Islam juga membahas dan menetapkan aturannya.

Ayat yang sering digunakan sebagai dalil poligami adalah:

“Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap wanita-wanita yatim (apabila kalian menikahi mereka), maka nikahilah yang kalian senangi dari wanita-wanita (lain): dua, tiga, atau empat.

Lalu jika takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya wanita yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Q.S. Al-Nisā’: 3)

Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah, adanya seorang pria yang ingin menikahi anak yatim.

Pria itu tidak mencintainya, tapi anak yatim itu memiliki harta yang berlimpa. Pria itu kemudian menikahinya karena hartanya. Lalu anak yatim itu selalu disakiti dan diperlakukan buruk setiap harinya.

Riwayat lain mengatakan, bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan seorang pria yang memiliki beberapa istri, dan juga memelihara beberapa anak yatim. Lalu suatu hari ia bangkrut, dan kemudian tertarik dengan harta anak yatim itu.

Dari sini kemudian ada ulama yang memperketat bolehnya poligami hanya khusus para pemelihara anak yatim.

Tapi banyak ulama yang menentangnya. Kata mereka, meskipun secara konteks seakan-akan hanya memberi perizinan poligami hanya kepada para pemelihara anak yatim, tapi karena redaksi yang digunakan ayat ini adalah umum, dan para sahabat Nabi yang tidak memelihara anak yatim juga berpoligami yang Rasulullah saw. pun mengetahuinya, maka tidak tepat jika izin poligami hanya tertuju pada pemelihara anak yatim saja.

Jika seseorang tidak yakin dapat berlaku adil pada anak yatim yang dipelihara, atau takut terjadi perzinaan terhadap lawan jenisnya, maka menikahlah dengan perempuan yang kalian sukai, yang halal bagi kalian untuk dinikahi, sebanyak dua, tiga, atau empat.

Tentang jumlah wanita yang boleh dinikahi, redaksi kata penghubungnya memang menggunakan huruf Wāw yang biasa diartikan dengan “dan”. Tapi para ulama sepakat, bahwa arti huruf Wāw dalam ayat ini berarti “atau”, kata penghubung untuk menandai pilihan di antara beberapa hal (pilihan).

Sehingga tidak dapat dibenarkan seseorang menikahi lebih dari empat wanita. Para sahabat yang ketika itu memiliki istri lebih dari empat pun, oleh Rasulullah disuruh untuk mencerai yang lainnya dan hanya menyisakan empat.

Seperti yang terjadi antara lain pada Ghilan bin Umayyah yang memiliki sepuluh istri, enam di antaranya diperintahkan untuk dicerai dengan baik-baik. Orang yang menikahi lebih dari empat wanita, maka lebihnya itu dinilai berzina, haram, sebagaimana haramnya mengawini ibunya atau saudara perempuannya.

Sementara praktik poligami yang dilakukan Rasulullah saw. dengan menikah lebih dari empat istri, yakni sembilan atau dua belas, itu merupakan kekhususan untuk Rasulullah saw.

Tidak boleh dilakukan oleh umatnya. Maka tidak benar juga, jika seseorang menikahi lebih dari satu wanita dengan alasan mengikuti Rasulullah saw.

Perlu digarisbawahi juga, bahwa praktik poligami yang dilakukan oleh Rasulullah saw. hanya pada delapan tahun dari sisa hidupnya. Selama dua puluh delapan tahun, Rasulullah bermonogami. Poligami yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah perintah dari Allah, bukan karena nafsu.

Istri-istri yang dinikahi Rasulullah selain Sayyidah Aisyah adalah para janda. Tidak sedikit di antara mereka yang tidak cantik wajahnya.

Sebagaimana tidak seharusnya orang yang mendapat kesempatan berpoligami dianggap sebagai prestasi, juga bukan sikap yang benar juga, jika ada seseorang baik orang biasa maupun tokoh agama yang berpoligami, lalu yang melakukannya dikucilkan dalam masyarakatnya, selama yang dilakukan itu sesuai dengan ketentuan agama dan negara.

Agama-agama masa lampau, dan adat-adat yang telah lalu, sudah ada tradisi berpoligami. Sehingga, Islam datang bukan untuk menciptakan syariat baru tentang poligami, kecuali tentang batasannya.

Dan, yang paling penting untuk digarisbawahi, Alquran sama sekali tidak menganjurkan berpoligami apalagi menyuruhnya. Alquran hanya membolehkannya. Itu pun hanya merupakan pintu kecil bagi siapa yang teramat membutuhkannya, dengan syarat yang tidak ringan.

Walau seseorang sangat membutuhkan memiliki lebih dari satu istri, tapi jika tidak dapat berlaku adil, maka Alquran menyuruh untuk bermonogami saja.

Adil yang dimaksud adalah adil dalam perlakuan. Bukan adil dalam hal cinta. Karena tidak akan ada orang yang mampu berbuat adil dalam  cinta.

Firman-Nya, “Kalian tidak akan dapat berlaku adil (dalam hal cinta) kepada istri-istri kalian. Karena itu, janganlah kalian terlalu cenderung (kepada yang kalian cintai saja), sehingga kalian biarkan yang lain terkatung-katung. Jika kalian berbuat kebaikan dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Nisā’: 129)

Jika seseorang tidak yakin dapat berlaku adil pada anak yatim yang dipeliharanya, atau takut terjadi perzinaan terhadap lawan jenisnya, maka menikahlah dengan perempuan yang kalian sukai, yang halal bagi kalian untuk dinikahi, sebanyak dua, tiga, atau empat.

Atau dengan hamba sahaya yang kalian miliki. Berpoligami itu bukan hal yang mudah. Berlaku adil, yang menjadi syaratnya, juga bukan hal yang mudah. Jika seseorang khawatir, apalagi yakin tidak mampu berlaku adil, menikahlah hanya dengan seorang istri saja. Karena yang demikian itu akan menyelamatkan kalian agar kalian tidak berbuat aniaya. Juga agar lebih ringan dalam memberi nafkah pada keluarga.

Poligami dalam Islam hanya boleh sebatas poligini, yaitu satu pria menikahi lebih dari satu wanita dalam satu waktu (istrinya belum dicerai atau belum meninggal), sebagaimana yang telah tersebut ayatnya di atas.

Sementara poligami jenis poliandri, wanita menikah lebih dari satu pria dalam satu waktu (belum dicerai oleh suaminya, atau belum mati suaminya), maka itu dilarang. Firman-Nya, “Dan (diharamkan juga bagi kalian mengawini) wanita yang bersuami. Kecuali pada hamba sahaya yang kalian miliki.” (Q.S. Al-Nisā’: 24)

Ada yang berusaha mencari alasan mengapa Allah melarang perempuan untuk berpoliandri. Antara lain, karena perempuan secara psikologis tidak akan bisa mencintai dua laki-laki sekaligus.

Ada juga yang berkata, perempuan yang berhubungan seks lebih dari satu pasangan, akan rentan terkena penyakit kelamin.

Ada juga yang berkata, perempuan yang memiliki lebih dari satu suami, akan rusak nasab keturunannya sehingga tidak tahu siapa bapak dari anak yang dilahirkan.

Namun, semua alasan yang ditelusuri oleh manusia itu, tidak sulit dibantahnya, apalagi dengan semakin berkembangnya kecanggihan teknologi. Maka, tidak ada alasan paling tepat selain bahwa itu adalah aturan Tuhan.

Semua ketetapan Tuhan, baik yang telah diketahui alasannya maupun belum, pasti terdapat hikmah. Dan, setiap yang beriman pada-Nya dan Hari Akhir, harus melaksanakan semua aturan-Nya, meskipun tidak diketahui apa hikmahnya.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas apa yang telah ditetapkan-Nya. Dia Maha Mengetahui segala kebaikan dari setiap yang diciptakan-Nya. Allah Maha Bijaksana atas ketetapan-ketetapan-Nya. Dia tidaklah sedikit pun berbuat aniaya pada makhluk-makhluk-Nya.

Penulis; M Nuchid

Tulis Komentar