Beranda Islami Kajian Cinta Kepada Anak Dalam Al Qur’an

Kajian Cinta Kepada Anak Dalam Al Qur’an

Cinta Anak

Anak adalah buah hati yang dianugerahkan Tuhan, dan ia termasuk di antara kenikmatan yang agung. Betapa nelangsa orang yang telah memiliki pasangan yang sangat sesuai kriteria, kekayaan yang melimpah, tapi tidak diberikan anak.

Kesengsaraannya sungguh melebihi orang yang memiliki pasangan biasa-biasa saja, sering cekcok, ekonomi pas-pasan, tapi dengan mudah beranak-pinak.

Cinta kepada anak adalah fitrah. Alquran bahkan antara lain dalam menyebut kata “anak”, terkadang menggunakan redaksi “rahmat” yang berarti cinta atau kasih sayang:

“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang kasih sayang (anak pemberian) Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria.” (Q.S. Maryam: 2), “Dan kasih sayang (anak) dari kami.” (Q.S. Maryam: 21).

Syekh Zamakhsyari dalam Tafsīr al-Kasysyāf, demikian pula Imam Suyuthi dalam Tafsīr al-Durr al-Mantsūr, mengutip pendapat al-Hasan saat menafsirkan surah al-Rūm ayat 21, ayat yang menjelaskan tentang tujuan pernikahan, antara lain adalah sakinah, mawaddah, dan rahmat. Rahmat, kata al-Hasan, berarti anak.

Dengan begitu, cinta kepada anak sudah menjadi naluri yang seharusnya tidak lagi butuh dalil. Cinta kepada anak pun sering luput dari pembahasan para mubalig, boleh jadi karena cinta kepada anak sudah demikian gamblang keterangannya.

Tapi kenyataannya, masih banyak sekali orang-orang bodoh yang sama sekali tidak mengerti arti cinta.

Di televisi, koran, surat kabar, dan media lainnya, sering kita temui pemberitaan tentang seorang ibu yang membuang anaknya di tong sampah, atau membunuhnya dengan sendok, garpu, gunting, pisau dapur, atau dicekik, dan lain sebagainya.

Yang demikian itu, sungguh bukan sesuatu yang baru. Di zaman jahiliah, telah terjadi hal serupa. Orangtua membunuh anaknya sendiri karena takut miskin. Alquran pun melayangkan protesnya:
“Dan janganlah kalian membunuh anak kalian lantaran takut miskin. Kami yang memberimu rezeki, dan memberi mereka rezeki.” (Q.S. Al-An’ām: 151)

Yakni, Dan janganlah kalian membunuh anak kalian lantaran takut kalian akan jatuh miskin dan tidak bisa makan, karena jatah makan kalian harus dibagi dengan anak kalian.

Tidak. Kami yang memberimu rezeki dengan jatah rezekimu yang telah dijatahkan-Nya untuk dirimu sendiri, dan memberi mereka rezeki, dengan rezeki yang berbeda, bukan dari rezeki jatahmu.

Bukankah sebelum kalian memiliki anak, payudara kalian tidak dapat mengeluarkan ASI, dan setelah anak kalian lahir, baru bisa keluar ASI? Ini adalah bukti yang terlihat dengan sangat jelas, bahwa Allah memberi rezeki pada mereka, yang bukan jatah rezeki kalian.

Dan jatah rezeki mereka yang tidak terlihat adalah dengan upayamu nanti, dengan kalian bekerja, untuk membiayai anak kalian, membelikannya pakaian, membayar untuk pendidikannya, dan segala kebutuhannya. Itu memang rezeki mereka, dan kalian hanya sebagai perantara. Jatah kalian ada sendiri.

Tapi, ada di antara mereka yang saat membunuh anaknya, mengaku itu karena dia cinta pada anaknya. Ia takut nanti anaknya tidak bisa makan. Jadi, daripada membiarkannya dalam kehidupan yang sengsara, maka kematian lebih baik baginya.

Yang semacam ini juga dikecam oleh Alquran, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian lantaran takut jatuh miskin. Kami yang memberi rezeki pada mereka, dan memberi rezeki pada kalian.

Sungguh membunuh mereka adalah kesalahan yang teramat besar.” (Q.S. Al-Isrā’: 31) Yakni, Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian lantaran takut anak kalian jatuh miskin. Tidak. Bukan kalian yang memberi jatah rezeki pada mereka, kalian hanya perantara.

Kami yang memberi jatah rezeki pada mereka, pada anak-anakmu, yang bukan dari jatahmu, dan memberi rezeki pada kalian, dengan jatah yang berbeda.

Sungguh membunuh mereka lantaran takut anakmu tidak bisa makan itu, adalah kesalahan, kebodohan, kedunguan, dan ketololan yang teramat besar, yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Jika demikian, maka cinta kepada anak adalah bagian dari ajaran agama. Jangan duga, ajaran agama hanya terbatas pada syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji. Bukan. Itu hanya dasar agama. Seumpama pondasi dalam rumah.

Dan tentu kita semua tahu, bahwa rumah dikatakan rumah, bukan jika ia hanya terdiri dari pondasi. Orang dikatakan Islam, bukan jika ia hanya melaksanakan perintah dalam rukun Islam.

Semua yang diperintahkan Allah dan yang dilarang-Nya adalah Islam. Termasuk di antara ajaran Islam yang tidak disebut dalam rukun Islam, adalah mencintai anak.

Rasulullah saw. pun sangat mencintai anak-anak. Beliau bahkan rela memberikan punggungnya, memperlama sujudnya, sebab cucunya menjadikannya sebagai kuda-kudaan.

Ketika Rasulullah saw. menjadi imam jamaah, lalu mendengar ada anak kecil yang menangis, beliau mempercepat salatnya, agar si anak segera mendapat belaian kasih dari ibunya.

Rasulullah saw. bahkan bersabda, “Rumah yang tidak ada anak-anaknya, tidaklah ada berkah di dalamnya.” Beliau juga bersabda, “Anak-anak adalah setengah dari harum-haruman surga.”
Namun, cinta kepada anak yang diserukan oleh agama, bukan terbatas pada “membiarkan hidup” anaknya hingga dewasa dan berumah tangga.

Lebih dari itu, cinta kepada anak, harus disertai dengan kasih sayang yang berkualitas. Tidak tepat pula, dengan alasan “banyak anak banyak rezeki”, lalu para orangtua berlomba-lomba untuk beranak-pinak sembari menyatakan itu sebagai ajaran agama, tapi mengesampingkan kualitas.

Rasulullah saw. memang pernah menyeru kepada kaum lelaki, agar menikah dengan perempuan yang mudah beranak. Tapi, perintah Rasulullah saw. tidak berhenti di sana.

Rasulullah saw. juga mengatakan, anak-anak itu nantilah yang akan dijadikannya kebanggaan di Hari Kiamat. Kata “kebanggaan” ini yang sering dilupakan, sehingga menjadikannya sebagai kesalahpahaman.

Yang diharapkan agama sesungguhnya adalah kualitas, bukan kuantitas. Dua anak yang berkualitas, tentu lebih dapat dibanggakan daripada dua belas anak yang biasa-biasa saja.

Hidup di dunia ini, dengan segenap aspeknya, sejatinya adalah untuk persiapan menuju kehidupan yang abadi. Karena itu, setiap saatnya tidak akan pernah luput dari ujian. Baik ujian berupa kegembiraan maupun kesengsaraan. Dan anak adalah salah satu cobaan itu.

“Sesungguhnya harta-harta dan anak-anakmu adalah cobaan. Dan di sisi Allah ada pahala yang besar.” (Q.S. Al-Taghābun: 15)

Ujian itu telah dimulai sejak buah hati masih dalam kandungan. Di waktu itu, rasa suka dan duka bercampur aduk menjadi satu. Berat, namun membahagiakan.

Tapi ujian tidak berhenti ketika melahirkannya. Justru babak baru telah dimulai saat sang anak terlahir ke dunia. Ketika itu, orangtua harus benar-benar membuktikan cintanya, yaitu dengan menunaikan segala hak-haknya sebagai orangtua terhadap anaknya.

Selain tentang berbagai biaya yang harus diperjuangkan oleh orangtua untuk keberlangsungan hidup anaknya, Rasulullah saw. juga mengingatkan tentang yang tidak kalah penting. “Hak-hak yang harus dipenuhi orangtua terhadap anaknya adalah memberinya nama yang baik, mengajarkannya Alquran, dan menikahkannya bila sudah saatnya.”

Setelah seorang anak terlahir di dunia, hendaknya orangtua memberikannya nama, sebagai panggilan untuknya, sebagai doa yang akan senantiasa terucap oleh siapa saja yang memanggilnya, dan juga sebagai kenangan yang tiada putusnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil di hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian. Karena itu, perbaguslah nama-nama kalian.” Nama yang bagus adalah nama yang indah diucapkan, dan memiliki arti yang baik.

Rasulullah saw. antara lain merekomendasikan menggunakan nama-nama para nabi, dan di antara anak laki-laki beliau pun ada yang dinamai dengan nama nabi: Ibrahim.

Rasulullah saw. juga merekomendasikan antara lain dengan nama Abdullah atau Abdurrahman. Namun, tidaklah harus nama terambil dari bahasa Arab.

Selama memiliki arti yang baik dan pengucapan yang indah, maka dengan bahasa apapun, sudah merupakan kebaikan. Disunahkan, pemberian nama dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran, atau pada hari ketika dilahirkan.

Disunahkan juga untuk mencukur rambut bayi dan menyembelih dua kambing untuk setiap anak laki-laki, atau satu kambing untuk setiap anak perempuan, lalu dibagikan kepada para tetangga dalam keadaan masak.

Termasuk adat yang baik pula, mengundang para tetangga kiri kanan, lalu mengadakan sebuah acara yang diisi dengan bacaan ayat suci Alquran dan ceramah keagamaan, atau hiburan-hiburan yang bermanfaat.

Mengajarkan Alquran juga bagian dari hak yang harus dipenuhi orangtua terhadap anaknya. Pahala yang ada padanya sangatlah agung.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mengajarkan Alquran kepada anaknya, maka ia (mendapat pahala) seakan-akan telah berhaji sepuluh ribu kali, umrah sepuluh ribu kali, memerdekakan sepuluh ribu budak dari keturunan Ismail, mengikuti seribu peperangan, memberi makan sepuluh ribu orang Islam yang miskin dan kelaparan.

Ia (mendapat pahala) seakan-akan telah memberi pakaian sepuluh ribu orang Islam yang telanjang, dan dicatat baginya dalam setiap huruf yang diajarkan sebagai sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh keburukan, dan itu terus berlanjut di dalam kuburnya hingga ia dibangkitkan.

Ia dapat memberatkan timbangan (amal baik), memudahkannya melewati jembatan siratalmustakim seumpama kilat yang melesat sangat cepat.

Alquran tidak akan memisahkan diri darinya hingga turun suatu kemuliaan yang lebih agung dari yang ia dambakan.” Apabila orangtua tidak mampu mengajarkan Alquran sebab dia sendiri tidak dapat membacanya dengan baik, atau karena sempitnya waktu, maka menyerahkannya pada guru ngaji sama baiknya dengan mengajarnya sendiri.

Mengajar Alquran juga jangan dipahami hanya sebatas belajar membaca dan menghafal. Lebih dari itu, yang tidak boleh dilalaikan adalah menanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam Alquran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah dewasa, hak yang harus ditunaikan oleh orangtua adalah menikahkan anaknya. Tidak mengapa anak itu mencari pasangannya sendiri, selama yang ia dapatkan adalah orang yang baik dalam beragama.

Juga tidak ada larangan apabila orangtua yang mencarikannya, selama tidak ada unsur paksaan. Sebab, dalam kehidupan rumah tangga, antara lain tujuannya adalah terjalinnya ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmat). Dan rasanya itu akan sulit terjadi jika terdapat unsur pemaksaan walau tidak selalu demikian.

Yang juga termasuk dari kewajiban orangtua terhadap anak adalah mengajarkannya budi pekerti. Rasulullah saw. bersabda, “Peliharalah anak-anakmu  dan perbaikilah budi pekerti mereka. Sesungguhnya anak-anak itu adalah hadiah dari Allah untukmu.”

Budi pekerti harus ditanamkan pada diri anak sejak kecil. Namun, perlu diperhatikan, bahwa zaman terus berubah. Hendaknya orangtua tidak mendidik anaknya sesuai zaman orangtuanya.

Tapi, seharusnya orangtua mendidik anaknya, sesuai zaman yang hendak anaknya hadapi.  Menyangkut hal ini, Sayyidina Umar bin Khatab berkata, “Didiklah budi pekerti anak-anakmu itu berlain dengan keadanmu yang sekarang.

Karena dia telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zamanmu.” Orangtua yang baik, tidak akan memaksa anaknya mengikuti setiap jejaknya, tidak menginginkan anaknya hanya sepertinya, sehingga semuanya akan hanya menjadi satu tanpa orang kedua.

Mestinya, orangtua yang baik adalah yang menuntun anaknya menuju ke mana saja yang ia suka, sesuai dengan zamannya, membiarkannya menciptakan jejak baru, tidak berkata padanya, “Jejak orang-orang dulu itu lebih baik dari pada jejak orang-orang sekarang”, maka dengan demikian, dalam dirinya akan tercipta banyak sejarah.

Walau tidak ada “dia” kedua setelah kematiannya, tapi “dia” yang lain yang didiknya, akan menjadi “mereka” dalam beragam warna.

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anakmu, ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah terhadap mereka!” (Q.S. Al-Taghābun: 14)

Istri dan anak adalah musuh, jika karena mereka seseorang melalaikan kewajibannya sebagai hamba yang bertuhan. Tapi jika istri dan anaknya justru sebagai perantara mendekatkan diri kepada Allah, maka keluarganya itulah sahabat sejatinya, yang akan selalu bersama, dari dunia hingga surga. [M Nuchid]

Tulis Komentar