Beranda Islami Cinta Kepada Dunia, dalam Al Qur’an

Cinta Kepada Dunia, dalam Al Qur’an

Cinta Kepada Dunia, dalam Al Qur'an

Manusia hidup di dunia, dan tentu saja memerlukan dunia. Itu sebabnya, ketika Allah memerintahkan agar manusia meraih apa yang telah dianugerahkan Allah berupa negeri Akhirat, dalam saat yang sama, Allah mengimbau agar mereka tidak melupakan bagiannya di dunia.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (yaitu) negeri akhirat, dan janganlah melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Dia juga berfirman bahwa, “Dia menciptakan apa yang ada di bumi ini, semuanya untukmu, (wahai manusia).” (Q.S. Al-Baqarah: 29)

Bahkan, Dia juga berfirman, “Katakanlah, (wahai Nabi Muhammad) ‘Siapakah yang hendak mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya (yakni yang telah ditampakkan oleh-Nya dengan mengilhami manusia mendambakan keindahan, mengekspresikan dan menciptakan, kemudian menikmatinya, baik dalam rangka menutupi apa yang buruk pada dirinya maupun untuk menambah keindahannya) dan (siapa pula yang mengharamkan) yang baik-baik dari rezeki?’

Katakanlah, ‘Ia adalah untuk orang-orang yang beriman (dan juga yang tidak beriman) dalam kehidupan dunia, (tetapi ia akan menjadi) khusus (untuk mereka yang beriman saja) pada hari Kiamat.’” (Q.S. Al-A’rāf: 32)

Maka, tidaklah dilarang seseorang meraih dunia untuk keberlangsungan hidupnya. Tapi apa yang dibutuhkan, tidaklah selalu harus dicintai.

Berpagi-pagi Rasulullah saw. telah mengingatkan, bahwa cinta kepada dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan.  Dan kamu wajib berpaling dari mencintainya.

Cinta kepada dunia adalah dengan menghabiskan waktunya hanya untuk dunia, atau memprioritaskan dunia dan mengesampingkan akhirat. Tidak bolehnya mencintai dunia, bukan berarti harus membencinya.

Tidak mencintai dengan membenci adalah sesuatu yang berbeda. Tidak mencintai adalah tidak bergantung padanya. Sedangkan membenci adalah meninggalkannya, atau mencelanya.

Dunia adalah kebutuhan, maka letakkan ia di tangan. Jangan mencintai dan meletakkannya di hati. Dengan demikian, maka seseorang tidak akan terasa berat jika sewaktu-waktu ia kehilangan, juga tidak akan terasa berat untuk menyedekahkan.

Dalam surah Thāhā Allah berfirman, “(Allah bertanya), ‘Apa yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?’ Dia (Nabi Musa) menjawab, ‘Ia adalah tongkatku, aku bersandar padanya, dan aku pukul dengannya (daun-daun sehingga berjatuhan) untuk (dimakan oleh) kambing-kambingku, dan bagiku ada lagi tujuan-tujuan lain yang berkaitan dengannya.’

Dia berfirman, ‘Lemparkanlah ia, wahai Musa!’ Lalu Musa melemparkan tongkatnya, maka serta merta ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Dia berfirman, ‘Ambillah ia (ular itu) dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula (menjadi tongkat kembali).’” (Q.S. Thāhā: 17-21)

Ada yang menafsirkan ayat ini dengan tafsir metaforis. Ia mengatakan, yang dimaksud dengan “tongkat” adalah “dunia”. Saat Allah bertanya tentangnya, Musa dengan sangat percaya diri menjawab pertanyaan itu, dengan jawaban yang sebenarnya melebihi dari yang dipertanyakan. Kemudian Allah menyuruh melemparkan tongkatnya, yakni dunianya.

Dan sekonyong-konyong tongkat itu menjadi binatang yang menakutkan. Ketika berhadapan dengan pepohonan, dilalapnya tanpa sisa.

Saat berhadapan dengan batu, batu itu dikletak dan Musa mendengar bagaimana batu itu gemeretak oleh kunyahan ular. Demikianlah gambaran betapa berbahayanya dunia. Ketika Musa disuruh mengambilnya kembali, ia enggan.

Musa ketakutan. “Ambillah, jangan takut!” Tuhan kembali menyuruh. Musa tetap enggan. Ketakutan. Baru kemudian Tuhan berkata, “Ambillah, akan kukembalikan pada wujud semula, kamu akan aman.” Yakni, ambillah kembali duniamu, dan letakkanlah di tanganmu. Ia tidak akan berbahaya selama tidak kauletakkan dalam hatimu.

Hidup di dunia ini hanya sebentar sekali. Dunia ini, dari awal mula diciptakan hingga dihancurkan, hanya seumpama orang yang tidur sekelebatan. Lalu dalam mimpinya, ia melihat beberapa yang ia suka.

Begitu terbangun, ternyata ia tidak melihat apa-apa. Sebentar sekali. Atau ia seperti air hujan yang diturunkan dari langit ke bumi, hingga menyuburkan aneka tumbuh-tumbuhan.

Kemudian tetumbuhan itu menjadi kering dan diterbangkan oleh angin. Maka bodoh sekali orang yang mencintainya. Di sana, di Akhirat, ada kenikmatan yang jauh lebih kekal nan abadi yang telah disediakan Allah bagi orang-orang yang bersedia meraihnya. [ M. Nuchid ]

Tulis Komentar