Beranda Pendidikan Cinta Kepada Ibu dan Bapak

Cinta Kepada Ibu dan Bapak

Cinta ibu bapak

Cinta anak kepada orangtua adalah sebuah fitrah. Ini dapat kita saksikan sendiri bagaimana keadaan bayi saat ia dekat pada orangtuanya, dan bagaimana ia saat jauh darinya. Hingga banyak di tempat-tempat penitipan bayi, direkamkan detak jantung ibunya, agar si bayi selalu merasa bersama saat ditinggal bekerja, sehingga sang bayi tidak menangis setiap saatnya.

Tapi begitu bayi beranjak sempurna pancaindranya, menyaksikan betapa gemerlapnya dunia, sebagian mereka tidak mampu menjaga fitrah cinta itu tetap suci. Polusi kehidupan dibiarkannya masuk begitu saja menutupi fitrah cinta, bahkan merusaknya.

Kemudian tidak jarang dari mereka keluar dari jalur fitrah, menuju jurang kedurhakaan. Ada yang malu mengakui bapaknya sebagai bapaknya, dan ibunya sebagai ibunya, lantaran mereka miskin, kumal, rapuh, atau ndeso, dan lain sebagainya.

Siapa yang dapat memelihara fitrah cinta tersebut, sesungguhnya dia telah berada dalam posisi yang tinggi di sisi Allah. Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khubawi dalam Durrah al-Nāshiẖin yang dikutipnya dari Majma’ al-Lathā’if.
Suatu hari, Nabi Sulaiman as. melakukan perjalanan antara langit dan bumi. Hingga sampailah ia pada lautan yang sangat dalam.

Lalu ia melihat sebuah ombak yang amat besar. Sulaiman memerintahkan angin untuk tenang, maka tenanglah angin itu. Lalu Jin Ifrit diperintahkan untuk menyelam, maka menyelamlah Ifrit.

Sesampainya Ifrit di dasar laut, ia meliht sebuah kubah dari mutiara putih yang tidak ada lubang padanya. Kemudian Ifrit membawa kubah mutiara itu dan meletakkannya di sisi Sulaiman. Maka terkejutlah ia.

Sulaiman lalu berdoa memohon agar kubah mutiara itu terbuka, maka terbukalah ia. Seketika itu, ia mendapati seorang pemuda yang bersujud di dalamnya. “Apakah Anda termasuk dari malaikat, jin, atau manusia?” tanya Sulaiman.

“Saya manusia.” Pemuda itu menjawab.

“Apa yang Anda perbuat sehingga Anda mendapat anugerah karamah sedahsyat ini?” Sulaiman bertanya lagi.

“Berbuat baik pada orangtua,” jawab pemuda itu. “Saat ia telah rentah, aku menggendongnya di punggungku, lalu ia berdoa untukku. ‘Ya Allah, anugerahilah ia kebahagiaan. Jadikanlah tempatnya setelah kematianku, di tempat yang bukan di bumi dan bukan di langit.’ Setelah beliau meninggal, aku berkeliling di pantai.

Lalu aku menemukan sebuah kubah dari mutiara. Aku mendekat padanya, dan kubah itu serta merta terbuka untukku. Kemudian aku masuk, lalu kubah itu kembali tertutup atas izin Allah. Ketika itu aku tidak tahu, apakah aku berada di udara atau di bumi. Dan Allah mencukupi kebutuhanku di dalamnya.”

“Bagaimana Allah mencukupi kebutuhanmu?” sela Sulaiman bertanya.

“Apabila aku lapar, Allah menciptakan pohon yang terdapat limpahan buah, dari sanalah aku makan. Saat aku haus, memancarlah darinya air yang lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. “

“Lalu bagaimana kau bisa mengetahui siang dan malam?”

“Saat terbit fajar, kubah ini berwarna putih, maka aku tahu itu siang. Jika menggelap, maka aku tahu itulah malam.”

Lalu ia berdoa, maka tertutuplah kubah itu, dan kembali seperti semula.

Di banyak tempat, Alquran juga kerap menguraikan tentang bagaimana semestinya seorang anak bersikap kepada orangtuanya, setelah Dia menguraikan bagaimana semestinya manusia bersikap pada Tuhannya. “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada kedua orangtuamu.” (Q.S. Luqmān: 14)

Ayat ini adalah salah satu di antara tiga ayat yang di dalam Alquran selalu bebarengan. Dua yang lainnya adalah tentang perintah melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya.

Tentang ayat ini, sementara ulama berkata, bahwa apabila seseorang telah bersyukur kepada Allah, namun ia tidak berterima kasih pada orangtuanya, maka tertolaklah syukurnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menjadikan orangtuanya rida, maka sungguh ia telah menjadikan Tuhan Penciptanya rida terhadapnya. Dan siapa yang membuat murka orangtuanya, maka sungguh ia telah menjadikan Tuhan Penciptanya murka padanya.”

Dalam ayat yang lain disebutkan, Allah berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan (persembahkan) kebajikan yang sempurna kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan jauh, teman sejawat, orang-orang dalam perjalanan yang memerlukan pertolongan, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.” (Q.S. Al-Nisā’: 36)

Cinta kepada orangtua mendapat posisi yang sangat agung. Ia disebut setelah Allah memerintahkan untuk menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.

Cinta kepada orangtua, disebut dalam Alquran menggunakan redaksi “Ihsan”, yaitu tingkat tertinggi dalam kemanusiaan, yaitu berbuat kebajikan lebih dari kebaikan yang lumrah dilakukan. Dan itulah kesempurnaan cinta.

Kita diperintahkan mempersembahkan kebajikan yang sempurna, tanpa memandang apakah orangtua kita muslim atau kafir. Jika orangtua memaksa anaknya untuk menyekutukan Allah, atau mengajak pada segala macam kemungkaran, Allah memerintahkan kita untuk menolak ajakan itu, harus dengan cara yang sebaik-baiknya, dengan tutur kata yang sopan, bahkan berdesis atau berdecak pun jangan, juga apapun yang sampai melukai perasaannya.

Dari sini, para ulama  banyak mengungkapkan pendapat, bahwa dosa besar yang menempati rangking kedua setelah menyekutukan Allah adalah durhaka pada orangtua. Rasulullah saw. juga bersabda, “Inginkah kalian kuberitahu di antara dosa yang paling besar?”

Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”

Rasulullah saw. bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka pada kedua orangtua.”

Termasuk kategori dosa besar adalah mengutuk kedua orangtuanya. Mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian, para sahabat bertanya, “Bagaimana mungkin seseorang mengutuk orangtuanya sendiri?”

Rasulullah saw. menjawab, “Yaitu jika seseorang menghina ayah orang lain, lalu orang itu menghina balik ayahnya dan menghina ibunya. Maka dia mengutuk orangtuanya.”

Jihad adalah perbuatan yang sangat agung. Tapi Rasulullah saw. tidak mengizinkan orang yang masih memiliki orangtua untuk ikut berperang kecuali setelah mendapat izin dari orangtuanya.

Pernah seorang pemuda datang kepada Rasulullah saw. untuk ikut berjihad. Rasulullah saw. bertanya, “Apakah kamu masih memiliki kedua orangtua?”

Pemuda itu mengiyakan.

Rasulullah saw. bertanya lagi, “Apakah mereka telah mengizinkanmu untuk ikut berjihad?”

“Tidak.”

“Mintalah izin dulu. Jika diizinkan, silakan ikut berperang. Jika tidak, maka berbuat baik kepada mereka sudah bernilai jihad.”

Baca Ini Juga: Mengenal Miskin dan Kaya Dalam Islam

Dalam sebuah majelis, Prof. Nazaruddin Umar pernah berkata, bahwa cinta terhadap orangtua adalah sekolah terbaik sebagai latihan mencintai Tuhan. Sebab, pola cinta orangtua, memiliki pola yang sama dengan cinta Tuhan.

Jika orangtua adalah pemelihara, maka Tuhan adalah Maha Pemelihara.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu kemudian memberi perumpamaan antara cinta orangtua dan cinta Allah: Ada anak kecil yang tertarik dengan sebuah benda yang mengkilap, yaitu pisau.

Lalu serta merta orangtuanya merebutnya, dan meletakkannya di tempat yang tinggi hingga sang anak tidak mampu meraihnya.

Saat anak itu meminta, orangtuanya tidak memberinya. Apa yang dilakukan oleh orangtua tidaklah lain karena cinta, meskipun sang anak telah ditolak permintaannya.

Demikian pula yang dilakukan Allah. Bukanlah berarti apabila permohonan kita tidak dituruti, lantas itu berarti Allah tidak cinta.

Tidak. Anak kecil yang tidak diberi pisau itu menangis, sebagai bentuk protes atas ketidaksetujuan kehendak orangtuanya.

Ia menangis dan marah kepada orangtuanya. Sebab ia tidak tahu. Seandainya ia tahu, justru ia akan berterima kasih.

Demikian pula yang terjadi pada seorang hamba. Saat ia tidak dituruti permohonannya, ia seakan-akan memberontak. Sebab ia tidak tahu. Seandainya ia tahu, justru ia akan berterima kasih.

Orangtua lebih tahu apa yang diinginkan oleh anaknya. Dan Allah Mahatahu atas segala permohonan hamba-Nya.

Syekh Ibnu Athaillah berdawuh, “Seandainya manusia mengerti hikmah atas ditolaknya doa-doa, maka ia akan sangat bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.”

Melihat yang demikian itu, maka tidak heran ketika ada yang berkata, “Orangtua adalah tuhan yang terlihat.” Yakni cerminan dari cinta Tuhan. Rasulullah saw. bersabda, “Rida Tuhan berada dalam rida kedua orangtua.”

Telah sampai pada kita cerita tentang Syekh Juraij. Ia adalah orang yang ahli ibadah, lembut tutur katanya, disegani masyarakatnya, dan banyak santri yang belajar padanya.

Suatu hari, saat ibunya sedang sakit, di tengah-tengah Juraij sedang salat, ibunya memanggil untuk mengambilkan segelas minuman.

Namun, tiga kali panggilan, sang ibu tidak mendengar anaknya menanggapi. Karena kesal, sang ibu terpeleset lidahnya dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan orangtua, “Saya bersumpah, Juraij. Kamu tidak akan mati sebelum fitnah yang agung menimpamu.”

Tidak lama setelah kejadian itu, masyarakat kehilangan kepercayaan padanya, ia pun ditinggalkan para santrinya, lantaran seorang wanita penggembala domba yang telah lama menaruh hati pada Juraij, yang cintanya bertepuk sebelah tangan, membuahi perutnya dengan sperma laki-laki lain, lalu menuduh Juraij yang menghamilinya. Begitulah apabila seorang ibu telah murka.

Juraij dipenjara hingga bayi yang dikandung si wanita penggembala terlahir ke dunia. Bayi itu memiliki keistimewaan sebagaimana keistimewaan Nabi Isa, yaitu dapat berbicara, sesaat setelah dilahirkan. Si bayi kemudian bersaksi, bahwa bapaknya bukanlah Juraij, bapaknya adalah laki-laki yang juga penggembala domba, yang biasa menggembala bersama ibunya.

Jika dalam kebaikan saja dapat terjadi yang seperti itu, apalagi jika dalam keburukan. Bahkan disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa semua umat Nabi Muhammad saw. azabnya akan ditangguhkan di hari Kiamat, tapi ada tiga yang disegerakan di dunia, antara lain adalah durhaka terhadap orangtua.

Orang yang telah melaksanakan tuntunan ibadah dengan baik; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, melaksanakan salat lima waktu, bangun di tengah malam, dan menunaikan zakat, maka jika ia mati dalam keadaan yang demikian itu, akan dikumpulkan ia bersama para nabi, para syuhada, dan para salihin, kecuali jika ia durhaka pada orangtua. Sebab, durhaka pada orangtua itu jauh dari kasih sayang Tuhan.

Cinta anak kepada orangtua dapat dibuktikan antara lain dengan menunaikan hak-haknya. Antara lain: berilah makanan saat mereka kelaparan.

Bantulah saat mereka membutuhkan pertolongan. Datanglah saat dipanggil, meskipun atas sesuatu yang menurutmu tidak penting. Turutilah apa yang diperintahkannya padamu selama bukan maksiat.

Apabila berbicara dengan mereka, bicaralah dengan tutur sapa yang santun, intonasi yang rendah kecuali bagi yang orangtuanya memiliki gangguan pendengaran, serta pilihlah diksi yang paling halus yang berlaku di daerahnya.

Jika mereka membutuhkan pakaian, berikanlah, tanpa harus menunggu hari raya. Jika sedang berjalan bersama, berjalanlah di belakangnya. Ridailah mereka sebagaimana engkau meridai dirimu.

Hindarkanlah apa yang tidak disukainya, sebagaimana engkau menghindarkan pada dirimu sesuatu yang tidak kausukai. Doakanlah ia setiap saat, mohonkanlah ampunan setiap kau berdoa untuk dirimu.

Apabila orangtuamu telah meninggal dunia, jadilah anak saleh yang mendoakannya. Karena telah terputus amal mereka, dan tiada dapat menambah pahala dan dosa selain dari apa yang ditinggalkannya di dunia.

Dan anak yang saleh adalah salah satu yang dapat menambah pahalanya, meringankan bahkan menghilangkan siksanya, melapangkan kuburnya, serta menyejukkannya dengan guyuran rahmat dan magfirah.

Jangan pula engkau memutus kekerabatan dan pertemanan orangtuamu yang telah mereka jalin dengan baik. Sambunglah kasih sayang itu, maka Tuhan akan menyambungkan kasih sayang-Nya untukmu.

Selalu mohonkanlah ampunan untuk mereka. Sesekali datanglah ke kuburannya, membersihkannya dari tanaman liar yang di tumbuh di sekitarnya.

Bacakanlah surah Yasin dan Tahlil, atau bacaan apa saja yang baik yang dapat kauhadiahkan untuknya, serta taburkanlah bunga sebagai tanda cinta, sekaligus mengikuti sunah pengganti pelepah kurma.

Jika engkau memiliki rezeki berlebih, undanglah para tetangga, kerabat, dan kawan-kawan orangtuamu, untuk berkumpul menyambung tali kasih, membaca doa bersama-sama, sekaligus bersedekah sebagai hadiah untuk orangtua. Lakukanlah itu seminggu berturut-turut sejak kematian orangtuamu, lalu pada hari ke-40, hari ke-100, dan tiap-tiap tahunnya.

Itulah antara lain ekspresi cinta pada orangtua yang telah ditawarkan oleh para ulama.

Tuhan Pemeliharaku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, kepada orangtuaku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai.

Berilah kebaikan untukku pada keturunanku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang tunduk patuh dan berserah diri pada-Mu.

Penulis: M Nuchid. Adalah Mahasiswa Dari Universitas Al Azhar Kairo

Tulis Komentar