Cinta Pertama, Pemuda Pesantren Yang Kesepian | Chapter 1

  • Whatsapp
Kesepian

Dari tempat ini, kita bisa melihat fajar maupun senja. Sepanjang pagi dan malam selalu terdengar keriuhan orang-orang yang sedang mengaji, namun aroma sepi yang menenangkan justru semerbak. Barangkali, karena orang-orang hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan kita dengan sunyi. Bersama, kita suka menepi.

Duduk bersila di atap bangunan tua tiga lantai, seperti saat ini. Kita rangkai mimpi-mimpi yang ditertawakan oleh banyak orang.

Muat Lebih

Menggantungnya di awan sore untuk kita kagumi. Mereka, mimpi-mimpi itu, serupa garis perak di pinggiran mega.

“Orang jomblo memang banyak cara ya, puitis banget!” Putus Azam sambil menyemburkan asap rokok ke udara.

“What?, kamu bilang aku jomblo?”

“Iya, memangnya kamu punya pacar?”

“Enggak”

“Hahahaha,,” Kami tertawa bersamaan.

Perkenalkan nama aku Amir, dan azam adalah salah satu teman setia saya saat dipesantren, ia selalu mendapingi saya, menghibur saya saat kesepian melanda, bukan hanya tidur dan makan saja kami bareng-bareng. Mandi dan ngising pun kami pernah bareng.

Orangnya sangat ceria, suka guyonan dan gojlok-gojlokan. berbeda dengan saya yang pendiam, tidak suka keramaian, suka menyendiri. Meskipun dipesantren sangat ramai. Tetapi, bagi saya tetaplah sepi.

Saya tidak tahu mengapa perasaan ini begitu sepi, dipesantren saya juga tidak punya tujuan yang jelas, padahal cita-cita saya ingin jadi kyai. Namun saat dipesantren, waktu demi waktu saya habiskan untuk tidur. Karena menurut saya, tidur adalah cara ampuh menghilangkan rasa sepi.

Gubuk tua belakang pesantren masih menjadi sahabat kita untuk tempat mengobrol sekaligus menjadi tempat nyentong.

“Bagaimana? Perlukah kita mencari pacar, agar kita tidak kesepian” Azam bertanya padaku saat pandanganku kosong.

“Perlu,” jawabku singkat, tetapi aku tidak usah mencari.

“Loh, kamu sudah punya pacar?”

“Belum sih, tapi kemarin sore aku dapat salam dari gadis yang ngaji di atas itu loh, dan salamnya di titipkan kepada teman sekelasnya. Namanya iir, aku masih kurang tahu  orangnya. Yang jelas, aku sudah tahu namanya”

“Siapa namanya?”

“Namanya Daena”

“Kamu lagi mimpi kali, Mir. Kamu kan kebanyakan tidur.”

“Zam, meskipun aku suka tidur, aku masih sehat kok. Aku masih bisa membedakan mana dunia mimpi dan mana dunia nyata.”

“Ya sudah, aku tunggu kabar baiknya.” Putus azam.

Seperti biasa, Ngaji sore dipesantren berjalan dengan baik dan meriah. Setelah jama’ah sholat magrib selesai, aku dan azam menghabiskan sebatang rokok di atas asrama paling atas. Tempat biasa aku mengadukan kesepian.

Rokok sudah habis, aku turun ke asrama. Pas di depan pintu mushola, tiba-tiba Aku melihat Daena tepat dihadapanku. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain bengong dan melongo. Tanpa basa-basi ia langsung menghampiriku kemudian menyeretku ke gubuk belakang pesantren, tempat biasa aku dan kawan-kawan berkumpul.

“Eh, eh,, mau kemana?” Tanyaku.

Ia tidak menjawab dan masih menyeretku dengan agresif. Aku kaget tapi tidak banget!.

“Ada apa sih kamu bawa aku kesini?” Aku bertanya lagi.

“Mir, sebenarnya kamu sayang nggak sih sama aku?”

Aku belum menjawab, detak jantungku bedegup sangat kencang. Dan aku juga tidak berani menatap matanya, mataku masih terfokus ke pemandangan laut lepas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *