Cinta Rasulullah Kepada Allah dalam Al Qur’an

  • Whatsapp
Rasulullah Kepada Allah

Sebagaimana tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah melebihi Nabi Muhammad, begitu pula tidak ada manusia yang lebih mencintai Allah melebihi cinta Nabi Muhammad kepada-Nya.

“Katakanlah, (wahai Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, dan hidup serta matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Pemelihara semesta alam.’” (Al-An’ām: 162)

Ayat ini menunjukkan bahwa betapa Rasulullah saw. sangat mencintai Tuhannya. Tidak ada cinta yang lebih cinta melebihi cintanya orang yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Allah. Memasrahkan segalanya, hanya untuk Allah.

Bukan untuk yang lain. Bukan karena takut neraka. Bukan karena menginginkan surga. Dan itulah yang disebut Alquran sebagai “puncak cinta”.  Sebab, di dalamnya, ia telah menenggelamkan diri dalam samudra cinta.

Rasulullah saw. yang walau dengan anugerah-Nya telah dijanjikan surga, tapi beliau masih menjadi manusia yang paling takut kepada Allah, paling berharap, dan paling besar cintanya. Beliau menyukai tiap detiknya bersama Tuhan. Dalam setiap munajatnya merasakan ketenteraman.

Ketika Sayyidah Aisyah, istri Rasulullah saw. melihat Baginda Nabi salat Tahajud hingga bengkak kakinya, dia bertanya, “Mengapa engkau salat hingga bengkak kakimu? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Rasulullah saw. menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”

Rasulullah saw. bahkan menyebut salat sebagai peristirahatan. Ketika Nabi Muhammad memerintah Bilal untuk mengumandangkan azan, beliau bersabda, “Istirahatkan aku dengannya, wahai Bilal …”
Rasulullah saw. juga bersabda, “Telah dijadikan salat sebagai penyejuk mata bagiku.”

Rasulullah saw. adalah manusia yang paling agung cintanya pada Tuhannya. Beliau sering berpuasa sambung tanpa berbuka.

Menyukai rasa lapar dan dahaga, karena rasa lapar dan dahaga dapat mendekatkannya pada Tuhannya. Sehingga lapar dan dahaga baginya adalah kebahagiaan.

Ketika Rasulullah saw. melarang menyambung puasa tanpa berbuka, para sahabat bertanya, “Bukankah engkau juga berpuasa sambung, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Adakah kalian yang menyamaiku? Sesungguhnya di malam hari, Tuhan Pemeliharaku telah memberiku makan dan minum.”

Rasulullah saw. adalah manusia yang paling agung cintanya pada Tuhannya. Namun demikian, bukan berarti Rasulullah saw. mengabaikan manusia dan segala kehidupan sosialnya.

Tidak. Sebab, cinta kepada Tuhan tidak dapat diraih hanya dengan ibadah spiritual, tapi juga harus dengan ibadah sosial. Rasulullah saw. juga berdagang dan berlaku adil dalam dagangannya. Rasulullah saw. juga berkawan dengan orang-orang non Muslim dalam rangka berdakwah. Dan bahkan, beliau tidak menghendaki jika ada umatnya yang terlalu berlebihan dalam ibadah spiritualnya.

Suatu hari, ketika beberapa orang yang hanya melakukan ibadah spiritual di masjid, lalu berkomentar buruk kepada orang-orang yang bekerja mengais nafkah, Rasulullah saw. bersabda, “Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia telah rusak.’ Maka dialah yang paling rusak.”

Pernah ada tiga orang yang mendatangi istri Rasulullah saw. untuk bertanya perihal ibadah beliau. Setelah diberitahu, masing-masing mereka mengambil kesimpulan dan berkata, “Bagaimana kami ini dibanding Rasulullah saw. yang telah diampuni dosa-dosanya, yang telah lalu maupun yang akan datang.”

Di antara mereka ada yang berkata, “Sungguh, saya akan salat malam selamanya.” Yang lain berkata, “Sungguh, saya akan puasa terus menerus dan tidak berbuka.” Dan yang terakhir berkata, “Sungguh, saya akan menjauh dari wanita dan tidak akan menikah.”

Lalu tidak lama setelah itu Rasulullah saw. datang dan bertanya kepada mereka, “Apakah kalian yang berkata begitu? Demi Allah, saya adalah orang yang paling takut kepada Allah, dan paling bertakwa di antara kalian. Saya puasa, tapi juga berbuka. Saya salat, tapi juga tidur. Dan, saya juga menikahi perempuan. Siapa yang tidak menyukai sunahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Dalam firman-Nya, Allah memuji Rasulullah saw. dengan, “Sungguh, engkau berada di atas akhlak yang mulia.” (Q.S. Al-Qalam) Dan, tidak ada akhlak tertinggi melebihi cinta. (M Nuchid)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *