Beranda Islami Cinta Seorang Umat Kepada Nabinya

Cinta Seorang Umat Kepada Nabinya

Cinta seorang umat kepada Nabinya

Telah bersama kita ketahui bagaimana agungnya cinta Nabi kepada umatnya. Karena itu, tidak ada satu alasan yang wajar pun bagi umat untuk tidak mencintai Nabinya.

Dan cinta kepada Rasulullah saw. harus mengalahkan segalanya, termasuk dirinya sendiri. Sayyidina Umar pernah mengungkapkan cintanya pada Rasulullah saw., “Aku mencintaimu melebihi apapun, kecuali diriku sendiri.”

Rasulullah saw. pun menjawab, “Tidak Umar, kau harus mencintaiku melebihi cintamu pada dirimu sendiri.”

Apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. bukanlah karena keegoisannya sebagai manusia yang selalu ingin dicintai.

Tapi cinta padanya, adalah cinta seorang umat kepada nabinya. Sebab, beliaulah pembawa risalah Ilahi.

Maka tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai Rasulullah saw. melebihi cintanya kepada istri, anak, saudara, sahabat, harta, bahkan dirinya sendiri.

“Katakanlah (Duhai Rasululullah), Jika bapak-bapak kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiaannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.

Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (keluar dari ketaatan kepada Allah).” (Q.S. AlTawbah: 24)

Cinta kepada Rasulullah saw. akan mengantar pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. “Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat, dan juga tidak akan celaka.” (Q.S. Thāhā: 123)

Pernah suatu hari seseorang bertanya perihal datangnya hari Kiamat. Rasulullah saw. kembali bertanya, “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Ia menjawab, “Tidak kupersiapkan apapun selain cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya.”

Pertama-tama yang harus dilakukan seorang umat dalam membuktikan cinta kepada nabinya adalah dengan mengikutinya.

Mengikuti adalah jalan menuju cinta, dan cinta adalah jalan menuju ketaatan. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mencintaiku, dia akan menghidupkan sunah-sunahku.

Siapa yang menghidupkan sunah-sunahku, dia akan bersamaku di surga.” Namun demikian, mengikuti Rasulullah saw. harus dengan cerdas.

Sebab, tidak semua yang dilakukan Rasulullah saw., dapat dilakukan umatnya, dan begitu pula sebaliknya.

Ada perbuatan yang hanya boleh dilakukan Rasulullah saw., tapi haram bagi umatnya seperti puasa sambung, beristri lebih dari empat, dan lain sebagainya.

Ada yang wajib untuk Rasulullah, sunah bagi umatnya seperti salat Tahajud, salat Duha, dan lain sebagainya.

Ada yang haram untuk Rasulullah, tapi boleh bagi umatnya seperti menerima zakat, menikahi wanita Kristen dan Yahudi, dan lain sebagainya.

Dan di antara Hadis-Hadis Nabi, tidaklah semua bersifat universal. Ada yang bersifat temporal, dan ada yang bersifat lokal.

Yang bersifat universal antara lain adalah yang berhubungan dengan ibadah murni seperti salat, puasa, zakat, dan haji, atau ibadah akhlak seperti kejujuran, kesabaran, ketekunan, keadilan, dan lain sebagainya.

Ada Hadis Nabi yang bersifat temporal seperti tentang kepemimpinan seorang wanita dalam bernegara. Ada yang bersifat lokal, seperti memanjangkan jenggot, menyemir rambut, dan lain sebagainya.

Hendaknya orang yang mengaku cinta kepada Rasulullah saw., ia tidak menyakiti hati Rasulullah saw. Allah berfirman, “Dan tidak ada wujudnya (tidak boleh sama sekali) kalian menyakiti Rasulullah.” (Q.S. Al-Ahzāb: 53)

Di antara yang menyakiti Rasulullah saw., sebagaimana yang disebut dalam rangkaian ayat yang sama, adalah masuk rumah Rasulullah saw. tanpa seizinnya.

Yakni tanpa diundang untuk makan. Karena rumah Rasulullah saw. sempit, dan tidak ada tempat luas untuk menerima tamu di setiap saat.

Kalau diundang, maka datanglah. Itu pun, jangan datang sebelum waktu yang telah ditentukan. Itu sungguh tidak pantas.

Karena Rasulullah saw. memiliki demikian banyak kesibukan di rumahnya yang tidak dapat diganggu.

Kesibukan dengan keluarganya, maupun kesibukan dengan Tuhannya. Jika diundang, datanglah. Dan kalau sudah selesai, telah habis hidangan yang disajikan, segeralah pulang.

Jangan mengajaknya berbincang terlalu lama. Sungguh, yang demikian itu dapat menyakiti Rasulullah saw.

Meskipun secara lahir, air muka beliau tetap memancarkan keceriaan. Karena Rasulullah saw. adalah orang yang sangat menghormat tamu, dan malu untuk menyuruh tamu-tamunya pulang, meskipun masih banyak urusan yang harus beliau kerjakan.

Maka pulanglah, jangan memperpanjang obrolan. Kalian pun memiliki banyak urusan yang harus kalian kerjakan.

Di antara yang menyakiti Rasulullah saw. adalah melihat istrinya. Karena dengan melihat, akan menerbitkan sebuah perasaan dalam dirimu. Itu menyakiti hati Rasulullah saw.

Alquran juga mewanti-wanti, apabila kamu meminta sesuatu kepada istri-istri Rasulullah saw., mintalah dari belakang tabir.

Itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.  Di antara yang menyakiti Rasulullah saw. adalah dengan menikahi istri-istrinya.

Menikahi istri-istri Rasulullah saw. sama dengan menikahi ibunya sendiri. Karena semua istri Rasulullah saw. adalah ibu bagi setiap orang mukmin.

Ini adalah termasuk perintah untuk mencintai dan menghormati Rasulullah saw., bukan hanya ketika beliau masih hidup, tapi juga ketika beliau sudah wafat.

Karena sejatinya Rasulullah saw. tidak pernah wafat. Maka, juga termasuk di antara yang dapat menyakiti Rasulullah saw. adalah dengan menyebut-nyebut tentang keburukan yang belum tentu benar yang terjadi pada keluarganya.

Seperti menyebut-nyebut paman Rasulullah saw., Abu Thalib, yang telah menjadi pembela dan donatur utama dalam perjuangan dakwah Islam, sebagai ahli neraka.

Atau menyebut-nyebut bahwa orangtua Rasulullah saw., Sayyid Abdullah dan Siti Aminah, pasti masuk neraka. Sungguh itu adalah seburuk-buruk perkataan dan sama sekali tidak memiliki etika kemanusiaan.

Seandainya itu benar, tetap tidak boleh diucapkan, karena itu dapat menyakiti hati Rasulullah saw. Bukankah seburuk-buruk orangtua kita, kita tidak akan pernah rela jika ada yang menghinanya? Kecuali Anda adalah seorang anak yang keluar dari jalur fitrah.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti (bersikap, atau berucap, atau melakukan hal-hal yang mengandung pelecehan terhadap) Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka (yakni menjauhkan mereka dari rahmat dan kasih sayang-Nya) di dunia dan di akhirat, dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.S. AlAẖzāb: 57)

By: Muhhamad Nuchid

Tulis Komentar