Home Islami Sunan Sendang Duwur dan Dakwah Kulturalnya

Sunan Sendang Duwur dan Dakwah Kulturalnya

Sunan Sendang Duwur dan Dakwah Kulturalnya

Sunan Sendang Duwur dan Dakwah Kulturalnya – Salah satu penyebar islam di Jawa Timur selain Sunan Drajat, Maulana Ishaq, yaitu Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur lahir pada tahun 1442 saka atau 1520 masehi di Desa Sedayu Lawas Kecamatan Brondong.

Nama asli beliau ialah Raden Noer Rahmat putra dari perkawinan dewi sukarsih dan Syekh Abdul Kohar bin Malik. Ayahnya meninggal dalam peperangan melawan Indro Suwarno Raja dari kerajaan sambas pada saat itu.

Raden Noer Rahmat dikenal sebagai sosok yang ramah dan santun sehingga orang-orang senang saat berkomunikasi dengannya.

Dalam berdakwah, Raden Noer Rahmat menggunakan pendekatan kultural, yaitu mengamati budaya masyarakat setempat dan mengadobsi nilai-nilai yang ada sebagai media berdakwah, kemudian beliau memasukan nilai-nilai tersebut sebagai media dakwah islam kedalam bentuk budaya yang mentradisi.

Wejangan Raden Noer Rahmat yang tetap di ingat penduduk sekitar sampai saat ini ialah “Mlakuho dalan kang bener, ilingo wong kang sak mburimu”. (Berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada dibelakangmu).

Raden Noer Rahmat dikenal sebagai sosok yang jujur, ramah, peduli, dan siap menolong terhadap persoalan masyarakat dengan berbagai keluh kesahnya, sehingga masyarakat pun percaya kepadanya dan mengadukan segala persoalannya kepada beliau.

Selain Raden Noer Rahmat dikenal sebagai orang yang pandai dalam bidang agama, beliau juga seorang seniman yang memperhatikan nilai-nilai seni dalam corak batik tulis yang dilukiskan secara tradisional.

Raden Noer Rahmat memberikan kebebasan kepada pengrajin batik untuk berkreasi, dan berkarya menggambar batik dengan berbagai corak baik gambar alam, tumbuhan, langit, maupun binatang.

Namun, Raden Noer Rahmat mengarahkan kepada para pengrajin batik agar setiap kali mereka membuat batik dengan corak binatang, hendaknya dipadukan dengan corak bunga-bunga, sulur akar pohon atau tumbuhan sehingga tidak terlihat begitu jelas gambar dengan bentuk binatang.

Motif-motif batik Sendang Duwur tergolong pada motif non-geometris-florish, dan yang menjadi ciri khas batik Sendang antara lain Modar, Biur, dan Patinan.

Biasanya, warna yang digunakan untuk menghiasi motif dan corak batik sendang duwur yaitu warna putih sebagai lambang alam Garba (kandungan), warna merah untuk alam Fana (dunia), dan warna hitam sebagai alam Baka (akhirat).

Selain beliau pandai dalam berbagai keahlian seperti yang disebutkan, beliau juga melahirkan seni terbang jidor khas Sendang Duwur yang diiringi dengan bacaan sholawat.

Di sela-sela beliau berdakwah, beliau juga bercocok tanam, beliau juga menyelipkan pesan-pesan dakwah kepada petani yang ditemuinya ketika bercocok tanam.

Raden Noer Rahmat berada di lingkungan masyarakat jawa yang erat dengan tradisi dan kepercayaan hindu buda yang tidak dapat dipisahkan dengan dunia mistik.

Di kala itu, masyarakat banyak melakukan sesaji di lereng gunung, membakar kemenyan di dekat pohon besar yang di yakini masyarakat setempat memiliki kekuatan gaib.

Untuk menyikapi hal tersebut, beliau tidak melakukan perlawanan secara frontal. Lama kelamaan tradisi tersebut secara perlahan diganti, sebagai salah satu contohnya acara sesaji yang diikuti dengan mantra-mantra yang diganti dengan slametan dan diiringi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, Dzikir, dan kalimah thoyibah.

Kebiasaan masyarakat yang melakukan sesaji dengan cara membakar kemenyan, menyajikan makanan di pojok rumah maupun sawah diganti dengan mengadakan slametan atau sedekah yang dibagikan kepada saudara-saudara dan masyarakat.

Raden Noer Rahmat juga membuat masjid, selain masjid difungsikan sebagai tempat ibadah, masjid juga digunakan sebagai tempat menciptakan ruang budaya dan melestarikan tradisi akulturasi arsitektur bangunan dengan budaya pada waktu itu.

Masjid Sendang Duwur berarsitektur joglo dengan empat soko guru yang menyanggah bangunan masjid merepresentasikan daerah jawa.

Mustaka pada atap masjid bertumpang tiga, mihrab masjid yang berbentuk lengkungan kala makara seperti candi, mimbar masjid berukiran jepara dan berbentuk florish dan bunga teratai, gapura masjid berbentuk tugu bentar mengingatkan pada bentuk bangunan kori agung (padu raksa) pada kedaton di komplek kerajaan hindu.

Pada serambi terdapat candra sengkala tulisan jawa pada sebuah papan kayu yang berbunyi “Gurhaning sarira tirtahayu” (1483) saka atau 1561.

Lokasi masjid ini berada diatas bukit amin tunon, seratus meter diatas permukaan laut.  Yang menarik perhatian adalah dua bentuk kori agung di komplek makam Raden Noer Rahmat, yaitu pada halaman kedua dan ketiga.

Kedua gerbang tersebut mengingatkan pada gambaran garuda yang sedang terbang di angkasa. Oleh karena itu, kedua pintu gerbang ini disebut pintu bersayap. Stutterhein mengatakan bahwa pintu gerbang dengan sayap tersebut merupakan gambaran sayap meru.

sendang duwur Gerbang garuda
Sumber gambar: damarkita.com

Pada gerbang kori agung disebalah makam Sunan Sendang itu, di pintu bagian kaki kori agung sebelah kiri terdapat relif yang menggambarkan pohon hayat atau kalpadruma atau kalpaureksa atau kekayon gunung yang menurut bergema menunjukan suatu elmen tentang adanya hubungan antara Indonesia dengan kebudayaan lama asia.

Sumber Refrensi:

Arkeologi Islam Nusantara (Uka Tjandrasasmita). Cet 2009

Jurnal Al-Turas Vol. XXI, No 1, Januari 2015