Dampak Pandemi Covid-19 dalam Kegiatan Pembelajaran Online

Dampak Pandemi Covid-19 dalam Kegiatan Pembelajaran Online

by Fathnan Id November 25, 2020
Dampak Covid 19

Oleh Sulfina Aini

Pola hidup bersih dan sehat menjadi budaya di Indonesia. Setiap fasilitas umum memiliki tempat cuci tangan pakai sabun dan mewajibkan bermasker serta jaga jarak. Begitu juga lingkungan pemerintahan, lembaga pendidikan, tempat hiburan, rumah makan, warung, hingga di depan rumah warga dipasang tempat cuci tangan dan sabun.

Kebiasaan baik atas kesadaran masyarakat terhadap peraturan ini tentunya membawa dampak positif mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus korona atau covid-19.

Bahkan saking sadarnya, setiap masyarakat yang keluar rumah sudah malu ketika tak bermasker. Ini sedikit berbeda saat awal covid-19 masuk di Indonesia awal tahun 2020.

Kehadirannya sempat memporak-porandakan tatanan sosial ekonomi masyarakat. Baik dunia usaha, olahraga, pendidikan dan seluruh sektor lainnya.

Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di sejumlah daerah.

Bahkan keputusan lock down juga berlaku di sejumlah wilayah tertentu demi mencegah penularan covid. Tentunya berdampak pada ekonomi masyarakat dan pola sosial masyarakat.

Di sektor pendidikan misalnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim Memutuskan kebijakan Kegiatan Belajar Mengajar dilakukan secara Daring (dalam jaringan) merupakan sistem kegiatan pembelajaran tanpa bertemu dan tatap muka antara guru dan murid.

Tetapi dilakukan menggunakan jaringan internet atau yang biasa disebut dengan online. Seperti menggunakan Google meet, Google class, Zoom dan lain sebagainya.

Hal ini sesuai dengan surat edaran kebijakan Kemendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus (COVID-19).

Atas aturan baru itu, maka guru dan siswa pun dituntut utuk faham benar dengan model pembelajaran baru ini.

Baik caranya penyampaiannya serta aplikasi untuk mendukung kelancaran pembelajaran model daring ini.

Bagi siswa atau pelajar yang berstatus ekonomi menengah ke atas dan telah memiliki smartphone tentu tak begitu kebingungan. Hanya bermodal data internet sudah bisa berjalan sesuai dengan aturan pembelajaran daring.

Terlebih pemerintah pun tak lepas tangan dengan mensubsidi paket internet bagi pelajar dan guru.

Namun bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah dan belum memiliki smarthphone, tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) tersendiri.

Di Tuban misalnya, guru harus mengantar materi pembelajaran ke rumah siswa yang tak memiliki handphone. Prosesnya pun tetap dengan jaga jarak dan bermasker.

Hal itu tetap harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan belajar sebagai hak siswa atau murid. Tentu persoalan ini menjadi PR bagi pemerintah untuk turut andil dalam pemerataan proses pembelajaran daring bagi siswa yang tergolong miskin tersebut.

Belum lagi dengan siswa setingkat Taman Kanak-Kanak (TK)) yang pastinya masih belum diperbolehkan memegang handphone oleh orang tuanya.

Tentu ini membuat orang tua harus memeras otak untuk menata cara baru. Tentu, sebaliknya mereka yang sudah sejak kecil diberi modal memegang smartphone tak membuat kerepotan.

Kemudian dari keputasan pembelajaran yang dilaksanakan sistem daring ini bisa memberikan dampak negatif dan postif. Karena memang sesuatu yang baru, ketika diterapkan dan belum pernah dilakukan sebelumnya, pasti ada plus minusnya.

Berikut Ini Dampak Negatifnya

Dampak Covid

1. Mengurangi Keberkahan Suatu Ilmu

Seperti yang dikatakan oleh DR. K.H. Fadlolan Musyaffa’, Lc.,MA. Bahwa ilmu yang telah dipelajari itu akan berkah jika guru dan siswa itu harus talaqy (face to face) atau bertatap muka secara langsung.

Karena tugas guru bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Mendidik Siswa itu bukan hanya dari sisi akademik saja, melainkan juga akhlak atau moralnya.

Kalau tujuan pembelajaran hanya untuk mentransfer pengetahuan maka siswa hanya membaca segudang buku di perpustakaan pun itu selesai dan menjadi siswa yang pintar.

Tetapi, guru juga punya kewajiban untuk mendidik akhlak dan moral siswa. Disinilah poin betapa pentingnya tatap muka antara guru dan siswa secara langsung

Dengan begitu, guru bisa mengira-ngira bagaimana karakter siswanya masing-masing dan bisa meberi contoh bagaimana akhlak dan moral yang baik.

Berbeda ketika pembelajaran dilaksanakan secara daring. Tentu, guru tidak bisa melihat siswanya secara langsung dan pastinya tidak bisa memberikan contoh.

Jika semua karakter dan moral siswanya sudah bagus, maka keuntungan bagi guru. Jika sebaliknya, maka siswa yang harusnya bisa diperbaiki karakter dan moralnya malah sama sekali tidak bertambah baik.

2. Pembelajaran Berlangsung Kurang Efektif

Tidak semua mata pelajaran atau mata kuliah bisa dilaksanakan daring. Karena pada dasarnya mata pelajaran atau mata kuliah ada yang bersifat teori dan ada yang bersifat praktik.

Jika mata pelajarannya bersifat teori, itu masih efektif ketika pembelajaran dilakukan secara daring.

Tetapi, untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang bersifat praktik, rasanya kurang efektif kalau dilakukan secara daring. Seperti mata kuliah microteaching.

Karena mata kuliah ini memang mahasiswa dituntut benar-benar bisa praktik mengajar di depan siswa dan dengan mata kuliah ini mahasiswa telatih tampil di depan dan bisa menganggap teman sekelasnya sebagai siswanya supaya pada saat terjun mengajar, siswa yang sebenarnya sudah punya bekal percaya diri karena sebelumnya pernah latihan mengajar bersama teman sekelasnya.

Belum lagi siswa yang masuk kategori miskin dan belum bisa membeli handphone atau bahkan tak bisa mengoperasionalkan smarthphone. Tentu, hal ini juga mengurangi efektifitas pembelajaran daring.

3. Siswa Belajarnya Kurang Terpantau

Kemampuan siswa pasti sangatlah berbeda-beda, tidak semua siswa mempunya IQ yang tinggi dan tidak semua oran tua siswa dari pendidikan yang tinggi. Tentu ini sangat mempengaruhi kegiatan belajar.

Siswa yang mempunya IQ tinggi otomatis bisa mengimbangi pembelajaran daring dengan giat belajar tapi berbeda dengan siswa yang memiliki IQ biasa saja. Ia justru malah acuh dengan kegiatan pembelajaran karena merasa sulit memahami pelajaran dan tidak begitu giat belajar.

Kemudian orang tua juga adalah sebagai faktor pengontrol pembelajaran siswa karena setengah kewajiban guru beralih kepada orang tua. Tetapi, seperti yang diketahui bahwa tidak semua orang tua lulusan dari sekolah tinggi, bahkan ada yang hanya lulusan SD sederajat.

Dampak positifya antara lain adalah banyak quality time bersama keluarga kegiatan belajar mengajar yang menerapkan kurikulum 2013 pasti banyak waktu yang dihabiskan oleh siswa di bangku sekolah.

Oleh karena itu, dengan menerapkan kegiatan belajar mengajar sistem daring ini memberi banyak waktu yang dihabiskan oleh siswa di rumah bersama keluarga.

Selain itu, kita turut mengkampanyekan kebijakan pemerintah dalam pencegahan virus korona kepada tetangga, sanak family dan keluarga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *