Beranda Pendidikan Keadaan Seperti Pepatah Jawa diwenehi Ati, Ngrogoh Rempela

Keadaan Seperti Pepatah Jawa diwenehi Ati, Ngrogoh Rempela

Ngrogoh Rempela

Tentu kita tahu betapa buruknya pemilu pada abad ini. Banyak memakan korban, hingga nyawa melayang. Selain itu, keributan sana sini yang tidak ada henti-hentinya, juga turut menambah noda hitam dalam catatan buku harian indonesia tersendiri.

Hal tersebut merupakan bentuk notifikasi sendiri bagi orang yang berwaspada. Namun, bagi orang setengah gila dunia, harta, tahta, dan sega-galanya. Hal tersebut merupakan pemandangan yang lumrah dan biasa-biasa saja.

Menyangkut dan masih berkaitan dengan hal tersebut. Kita tentu tau dengan keadaan seperti apa. Ibarat petani, jika melawan harga, hanya bisa menerima dan bersyukur.

Tapi, sungguh disayangkan ia bukan petani. Jadi mereka semaunya sendiri. Egoisme yang tinggi menjadi alasan salah satu mengapa keadaan semakin kacau balau.

Koar-koar disembarang tempat. Mengatas namakan agama untuk menjatuhkan tahta terhormat negara sekaligus pengabdinya.

Selain ego sendiri, pemicu lainya adalah bendera kebesaran. Dan bendera yang ada saat ini hanyalah dua. Entah siapa yang diklaim benar, Saya kurang tahu. Yang Tahu hanyalah Tuhan yang maha Tahu.

Setiap bendera tiada yang mau mengalah. Jangankan mengalah, menerima kenyataan dari Tuhan saja ia tak mampu. Katanya ini adalah kecurangan.

Iya berani mengatakan kalau ia kalah dengan nominal pengikut. Maka dari itu, segala usaha dilakukan untuk saling menjatuhkan. Benar jika dengan cara seportif. lha wong dengan cara akal dangakal.

Ini menambah beban wasit sebagai penengah-nengah pertandingan. Sebab, wasit tahu siapa yang seharusnya pemain yang diangkat tangannya sebagai pemenang.

Namun, setelah di nilai dan belum diumimkan. Masih kisi-kisi. Kubu yang kalah tidak terima, dan menuding wasit sebagai orang yang tidak adil.

Padahal mereka juga belum tahu kalau wasit benar-benar belum adil. sehingga tonjokka keras nenghantam wajah wasit yang berada di tengah-tenga. Meninggalkan luka memar.

Setidaknya kita tahu dan menganati pertandingan sepak bola. Kalah menang hal biasa. Jika seseorang diberi A seyogyanya ia nenerima A. Lha wong dikasih A malah memaksa njaluk B. Masih untung jika ada yang mengasih. Coba bayangkan jika tidak ada. Wasit tidak ada. Bagai mana keadaanya.

Mau, melihat semua orang melihat dengan meneteskan air mata. Seraya mengatakan “ya Tuhan, Negeriku hancur gara-gara beda bendera dan tidak bisa menerima kenyataan” ? Mau? Jika mau, lanjutkan saling memfitnah,  mencakar, dan menjegal.

Ibarat pepatah jawa, orang tersebut di wenehi rempelo ndudut ati. Sudah dikasih namun masih mengelak dan tidak mau. Sehingga mereka mengkoar-koarkan deklarasi dan orasi. Yang hakikinya hanya mengahancurkan negeri ini.

Fitnah  bagaikan wabah, saling menjegal, cakar-cakaran, urak-urakan. Jika para sesepuh tidak sanggup menanggulangi dan tidak digugu nasihat-nasihatnya.

Maka berhati-hatilah, Suatu saat dan kapanpun waktunya, Tuhan akan memberi notifikasi. Entah apapun itu bentuknya.[]

Tulis Komentar