Beranda Cerita Firaun Yang Diberkati

Firaun Yang Diberkati

Firaun Yang Diberkati

Kami sama-sama terkapar dalam satu ranjang. Perempuan itu masih dalam balutan seprai. Ia bahkan membungkusnya lagi dengan selimut. Tetapi, saya bisa mendengar ia mengisak.

“Apakah kau menyesali peristiwa yang baru saja terjadi?” tanya saya.

Dahlia membuka pembungkusnya. Mata yang lebar itu memerah, akibat air mata yang mengucur terlalu banyak darinya.

“Jangan berkata ini „peristiwa‟. Ini hanyalah kejadian kecil yang biasa terjadi di mana-mana. Dan jangan menduga aku adalah wanita yang tidak terhormat.”

Perempuan itu bangkit dari kasur. Menuju kursi yang menghadap pada jendela. Saya mengikuti, duduk di sebelahnya.

“Lalu, mengapa kau menangis?”

“Perempuan sangat bersahabat dengan air mata.”

“Tiada air mata tanpa sebab, Dahlia.”

“Negeri ini sangat diberkati.”

“Jangan lupa, negeri ini juga dikutuk!”

“Ini adalah negeri para nabi. Ada Musa, Harun, dan Yusuf.”

“Jangan mengabaikan adanya Firaun, Karun, Haman, dan Samiri!”

“Orang-orang yang dibinasakan, atau diicipkan penderitaan berupa kemarau panjang, badai, belalang, kutu, katak, dan darah, semua itu hanyalah sebagai pelajaran tentang adanya keadilan.

Mereka dimurkai, tetapi tidak dikutuk. Tuhan tidak sekejam yang banyak orang duga. CintaNya meliputi segala sesuatu. Kasih-Nya mengalahkan amarah-Nya.

Bahkan Firaun saja, yang sering menjadi pemeran jahat dalam kitab suci, di akhir hidupnya diberi kesempatan bertobat. Penghujung cerita yang sangat indah.”

Ternyata Dahlia memang berniat sekali mengajak diskusi. Lebih tepatnya menceramahi. Apa pun itu, saya menikmati.

Dahlia melanjutkan. “Allah berfirman, menceritakan ucapan Firaun, ‘Ketika Firaun mengetahui adanya penenggelaman, ia berkata, Saya beriman bahwa tidak ada tuhan kecuali Dia yang telah diimani oleh Bani Israil.

Dan saya termasuk orang-orang yang berislam.’ Tentu kau tahu, kan, tentang Hadis yang begitu masyhur, yang berkata bahwa sejak manusia dalam kandungan, telah ditetapkan segala perkaranya.

Antara lain, akan ke mana dia berujung. Surga, atau neraka. Lalu hadis itu juga memberi permisalan, bahwa ada orang yang telah ditakdirkan masuk surga, meskipun ia berbuat keburukan selama hidupnya, maka sehasta menjelang ajal, ia akan dijadikan baik, lalu masuk surga.

Kamu juga tahu, kan, tentang sebuah riwayat yang berkata bahwa siapa yang di penghujung usia ia bertahlil, maka dia akan masuk surga?”

“Tetapi, jangan menafikan tentang ‘Bukan termasuk tobat, kepada orang yang berbuat begitu banyak keburukan.

Lalu, ketika kematian sudah hampir tiba, barulah ia berkata, Sekarang aku tobat. Atau mati dalam keadaan kafir.’ Apa yang ingin kaukatakan?”

“Yang dimaksud kematian sudah hampir tiba adalah, saat nyawanya sudah berada di kerongkongan.

Sudah sangat dekat dengan kematian. Mungkin hanya cukup untuk ngomong ‘aku tobat’. Tetapi Firaun tidak.

Nyawanya belum sampai pada kerongkongan. Bisa kita dengar bagaimana ia bersaksi dan menyatakan keimanannya dalam kalimat yang panjang. Belum lagi setelah itu, Allah berkomentar pula. Tentu engkau tahu.

Allah tidak mungkin mengkhitabi benda mati. Dan dalam jawaban Allah, tidak ada kalimat ‘Kamu akan Kusiksa’ atau ‘Kamu akan berada selamanya di neraka’.

Dia malah berfirman, ‘Mengapa baru sekarang, yakni mengapa baru sekarang kamu beriman, Firaun. Dan sebelumnya kamu telah bermaksiat, serta termasuk bagian orang-orang perusak?’ Lalu Allah berfirman lagi, ‘Maka hari ini, Aku akan menyelamatkan badanmu, agar menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahmu.’

Sekarang, jasad Firaun masih ada di museum di Tahrir. Kalau kau punya waktu, kita bisa ke sana besok atau lusa.”

“Mungkin aku tidak punya waktu longgar selain yang terpaksa kulonggarkan hari ini.”

“Oke. Tidak masalah. Jangan bicara seolah-olah aku sedang mengajakmu berkencan. Kalau tidak bisa, aku sama sekali tidak masalah.”

“Kau mengatakan ‘tidak masalah’ dua kali, loh?”

“Kalau kau belajar gramatika Arab, kau akan mengerti tentang itu.”

“Aku juga belajar balagahnya. Dan aku tahu itu berarti kau telah …”

“Kau memotong ceramahku, Kawan. Sampai mana tadi?”

“Sampai aku tahu itu berarti kau telah ….”

“Oke. Terima kasih telah mengingatkan. Lalu, sebagai pelajaran, apa yang dapat kauambil pelajaran dari peristiwa diselamatkan-Nya jasad Firaun dari penenggelaman yang segitu lama, yang mestinya sudah larut di laut, atau menjadi santapan ikan-ikan itu?”

“Tentu saja pelajaran bahwa setiap kejahatan pasti mendapat balasan. Pasti mendapat siksa.”

“Ya, begitu juga bisa. Karena, tentara Firaun bukan Firaunnya, ya? semuanya menemui siksa tanpa pertobatan sebelumnya.”

“Bukankah Tuhan telah menjawab doa Musa, ‘Wahai Tuhan Pemelihara kami, binasakanlah harta mereka, serta kuncilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai menjumpai azab yang pedih.‟?”

“Ya. Benar. Mereka tidak bertobat sampai „azab yang pedih‟ menimpa mereka. Kecuali Firaun seorang diri.Kita sama-sama tahu, yang dimaksud „azab yang pedih‟ adalah penenggelaman.

Dan, berdasarkan ayat yang tadi, Firaun beriman sebelum penenggelaman terjadi. Ketika Allah memerintahkan Musa dan Harus berdakwah pada Firaun, Dia berfirman, „Pergilah kalian kepada Firaun, sesungguhnya ia sudah melampaui batas.

Berbicaralah kalian pada Firaun dengan tutur kata yang lembut, supaya dia sadar dan takut.‟ Kata „supaya‟, jika yang berbicara adalah manusia, maka ia berarti harapan.

Tetapi kalau Allah yang berfirman, maka „supaya‟ itu harus dan pasti terjadi.”

“Oke. Lalu, bagaimana dengan firman Allah, „Neraka diperlihatkan pada mereka tiap pagi dan petang pada Hari Kiamat. (Lalu kepada para malaikat diperintahkan), Masukkanlah pengikut Firaun ke dalam azab yang sangat pedih.‟?”

“Ya. „Azab yang sangat pedih‟ adalah neraka yang diperlihatkan itu. Tetapi, perhatikan lagi ayat itu. Dia tidak menyebut Firaun. Tetapi „pengikut Firaun‟.

Ketika aku berkata, „aku memukul anak buah Zaid‟, apakah yang aku pukul Zaid atau anak buahnya?”

“Jadi, apa pelajaran yang dapat diambil dengan diselamatkannya jasad Firaun yang hingga kini masih ada?”

“Cinta dan asa. „Katakanlah, wahai hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri.

Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.

Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.‟ Juga agar kita tidak terlalu mengegois, apalagi sampai terlalu membanggakan amal perbuatan.

Dan, barangkali itu sebagai isyarat, bahwa Mesir memang negeri yang diberkati.”

Saya bertepuk tangan, dan dia setengah menunduk sambil meletakkan telapak tangan kanan ke dada kirinya.

“Kita telah berbicara banyak hal, apakah kau tidak lapar? Aku tahu tempat makan yang sangat enak. Aku yakin kau pasti menyukainya.”

“Maaf, Dahlia. Aku harus kembali ke pesantren Syekh Badruddin. Aku bertugas sebagai imam jamaah dan memasak untuk para santri.”

“Aku sama sekali tidak kagum, loh, dengan profesimu. Dan jangan anggap yang tadi itu ajakan kencan.”

“Kau mengatakan itu berkali-kali. Terlalu percaya diri.”

“Kau tahu jalan pulang?”

Sial! Aku tidak pegang uang sama sekali. “Aku tahu. Tetapi ….”

“Ayo, aku antarkan.”

Kami tidak langsung pulang. Saya dibawanya safari kuliner di rumah-rumah makan elite di Kairo Baru.

Malam harinya, barulah saya diantar kembali ke pesantren Syekh Badruddin.

Menjelang sampai, saya memandang wajahnya. Sementara tatapan Dahlia hanya lurus ke depan.

“Apakah kau tidak ingin menanyakan siapa namaku?”

“Untuk apa? Aku bertemu dengan banyak orang, dan lebih banyak tidak pernah bertemu lagi.”

“Siapa tahu suatu saat kita berjumpa?”

“Lalu, begitu berjumpa kita akan bersapa ria, seakan-akan kita sangat akrab, gitu?”

“Seenggaknya kita pernah kenal.”

“Atau, kau berharap aku akan mengingat-ingat namamu seperti kau akan mengingat-ingat nama yang kaugunakan untuk memanggilku setiap malam menjelang tidurmu, lalu membayangkan suatu saat aku akan menjadi istrimu?”

“Aku tidak pernah tidur malam hari. Jadwal tidurku ketika masuk waktu duha. Di luar tidur, aku sangat sibuk, jadi tidak mungkin aku sempat mengingat „Dahlia‟ apalagi berharap namaku diingat olehnya.”

“Karena itulah, kita tidak perlu saling tahu siapa nama kita. Biarlah orang mengenal dan mengenang kita dalam kehakikian, bukan dengan perantara nama.”

“Jadi, sebenarnya kau tetap ingin dikenal dan dikenang?”

“Kita sudah sampai.” Dahlia mendaratkan mobilnya lima meter dari arah gerbang. “Apakah kau menginginkan ada perjumpaan lagi selain hari ini?”

“Semoga.” Saya keluar dari mobil itu, dan masuk ke gerbang pesantren tanpa menengok lagi ke belakang. Ini pasti hanya mimpi, yang akan terlalu sulit untuk bisa diulang. Bukan atas kendali. Hanya mungkin terjadi jika takdir menghendaki.

Tulis Komentar