Gadis Desa di Belantara Ibu Kota

  • Whatsapp
Bidadari semok dari Trenggalek

Saya tidak akan pernah menyesal minggat dari pesantren itu. Dan dengan segenap jiwa raga saya bertekad tidak akan menginjakkan kaki ke sana lagi.

Lebih-lebih harus bersopan-sopan pada pria tua sok suci yang telah merampas kebahagiaan saya.

Muat Lebih

Merunduk-runduk. Cium tangan. Menata sandal. Minum bekas minumnya. Saya merasa sangat jijik pernah melakukannya.

Pengin muntah. Tapi saya tidak tahu, harus memuntahkannya dengan istigfar atau pisuhan.

Nila, gadis jelita bersuara merdu, idola para santri, telah berhasil saya taklukkan hatinya. Katanya, saya adalah laki-laki pertama yang diterima cintanya.

Saya melihat Nila pertama kali saat ia tampil sebagai pelantun ayat suci pada acara Maulid Nabi.

Suaranya terlampau indah. Merayap lumat di kulit. Merasuk lirih melalui pori-pori. Meraba lembut pada setiap permukaan sanubari.

Lalu menggelayut bersama aliran darah memenuhi rongga jiwa. Dari sana, terbitlah apa yang dinamai cinta.

Saya jatuh cinta. Tiap habis sembahyang, saya sebut namanya setelah mengirim surah al-Fatihah.

Saya sebut namanya lagi, lalu menggosok-gosok kuku ibu jari dan membaca ayat mantra: Wa Alqaytu ‘Alayka Mahabbatan Minnī Wa Litushna’a ‘Alā ‘Aynī. Setidaknya ini lebih syari ketimbang “Jarang Goyang” atau “Semar Mesem” sebagai pemantik mahabah.

Selama dua tahun mencintai dalam diam, akhirnya saya tidak tahan juga. Saya menulis surat cinta untuknya.

Tidak dibalas. Saya menyurati lagi. Tidak dibalas lagi. Sampai tujuh kali, baru dibalas. Sangat singkat: Aku tidak pandai merangkai kata. Hingga sulit bagiku membalas surat-suratmu.

Tapi, aku harus membalasnya, dan memang kamu sebaiknya tahu. Bahwa, aku juga. Dan ini yang pertama.

Tiga malam saya insomnia. Tiga malam saya berasa di sidratil muntaha. Saya lupa di mana Bumi. Saya telah berada di surga.

Tetapi lelaki senja membangunkan mimpi indah saya. Seorang kiai yang sudah memiliki tiga istri, masih pengin mengembat Nila juga. Padahal, Nila belum lulus Aliah.

Saya kemudian menyadari, bahwa kaki saya masih menginjak bumi. Bahwa surga masih menjadi misteri. Bahwa saya bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Dan malam ini, akad nikah akan dilaksanakan.

***

Kereta jurusan Pasar Turi, jadwal keberangkatannya masih dua jam lagi. Gedung tua enam lantai, bekas proyek yang lama terbengkalai, menarik perhatian saya untuk naik ke atapnya.

Kepada pedagang asongan, saya memesan kopi hitam di gelas plastik dan dua batang kretek. Membawanya ke atap gedung.

Sesampai di incar-icar langit, saat kretek pada bibir baru terapit, pemandangan manusia sunyi menggagalkan penyulutan.

Saya kehilangan. Tapi, di atas pagar atap, saya melihat manusia yang benar-benar kehilangan. Saya berduka.

Tapi gadis itu benar-benar hanyut dalam nestapa. Dan, benar kata orang, obat derita adalah menyaksikan yang lebih menderita. Karenanya, rasa pilu di hati saya sedikit mereda. Akhirnya, lintingan tembakau terbakar juga.

Gadis berantakan itu metangkring di atas pagar pembatas, dengan sebindel surat kabar di tangan kanan, di hadapan wajah. Tapi ia tidak melihat apapun. Tatapannya kosong. Sekosong jiwanya yang mengakar hampa.

Saya menghampiri. Saya mendengar isaknya dengan jelas. Tidak menyapa. Saya hanya berdiri kurang dari dua meter di sampingnya. Memainkan asap kelabu.

“Saya paling senang melihat orang menderita.” Beberapa menit kemudian baru saya berkata.
Gadis itu tidak semaur. Tapi saya sempat melihat bola matanya melirik ke arah saya.

“Kamu sedang menderita, kan?” Sambil tersenyum ke arahnya saya bertanya. Isaknya terhenti. Alisnya mengkerut. Kesedihannya berubah menjadi murka.

“Aku tidak sedang menderita.” Saya menggeser tempat berdiri. Dua langkah ke samping lebih mendekati.

Hanya dua langkah. Karena gadis itu segera menghentikan, “Jangan mendekat! Atau aku akan lompat?”

“Lalu, kalau saya menjauh kamu tidak akan melompat? Dasar tidak punya prinsip!” timpal saya sembari tertawa. “Kalau mau lompat, lompat saja, Mbak.”

Gadis itu benar-benar melompat. Turun dari pagar. Menghampiri saya. Memukul berkali-kali pada pundak dan dada saya.

Meluapkan segala emosi gelebahnya. Badan saya sedikit terguncang, menumpahkan separuh kopi di eratan tangan kiri.

“Sakit, tauk!” sergah saya.

“Aku bingung. Aku ingin bunuh diri. Tapi takut.”

“Takut mati?”

“Takut tidak mati. Takut hanya babak belur. Kan, jadi luka terbalut luka. Kalau ada yang membawa ke rumah sakit, saat sembuh aku harus membayar biayanya.”

“Sebenarnya banyak opsi untuk bunuh diri. Kamu bisa gantung diri, minum racun tikus, mengiris saluran nadi, atau menahan napas yang lama sampai mati.”

Perempuan dengan genangan air mata itu terdiam tanpa arti. Saat angin senja menyapu rambut ikal pirangnya, wajahnya tersibak. Sebenarnya gadis ini cukup cantik.

Angin senja juga merambat di depan wajah saya. Turut menghirup apa yang saya hirup. Membuat sebatang kretek saya cepat menghabis. Saya menyulut sebatang lagi, setelah menyeruput seseruput kopi.

“Sepertinya kamu sedang lapar. Jadi, kamu tidak bisa berpikir jernih. Atau tidak mampu memilih jalan mana yang akan kamu tempuh.

Mungkin ada baiknya kita makan dulu, sambil makan saya akan memberitahumu tentang cara-cara bunuh diri yang lebih fantastis.

Kamu bahkan bisa terkenal setelah kematianmu. Lebih terkenal dari yang ada di surat kabar itu.”

Dagu saya sedikit terangkat, mengisyarat tunjuk pada sebuntel surat kabar di genggaman tangannya.

“Tapi, kamu punya uang, nggak, buat beli makan?”

Gadis itu menggeleng.

“Ya sudah. Satu porsi buat berdua saja.”

“Dasar pelit!”

“Hemat dan pelit adalah sesuatu yang berbeda. Bunuh diri itu tidak perlu kenyang. Cukup perut tidak kosong saja.”

Saya menggelandangnya. Dan, dia menurut begitu saja. Rembulan sabit turut mengikuti langkah kami. Menembus lembayung mega.

Saya tidak akan pernah menyesal minggat dari pesantren itu. Dan dengan segenap jiwa raga saya bertekad tidak akan menginjakkan kaki ke sana lagi.

Lebih-lebih harus bersopan-sopan pada pria tua sok suci yang telah merampas kebahagiaan saya.

Merunduk-runduk. Cium tangan. Menata sandal. Minum bekas minumnya. Saya merasa sangat jijik pernah melakukannya.

Pengin muntah. Tapi saya tidak tahu, harus memuntahkannya dengan istigfar atau pisuhan.

Nila, gadis jelita bersuara merdu, idola para santri, telah berhasil saya taklukkan hatinya. Katanya, saya adalah laki-laki pertama yang diterima cintanya.

Saya melihat Nila pertama kali saat ia tampil sebagai pelantun ayat suci pada acara Maulid Nabi.

Suaranya terlampau indah. Merayap lumat di kulit. Merasuk lirih melalui pori-pori. Meraba lembut pada setiap permukaan sanubari.

Lalu menggelayut bersama aliran darah memenuhi rongga jiwa. Dari sana, terbitlah apa yang dinamai cinta.

Saya jatuh cinta. Tiap habis sembahyang, saya sebut namanya setelah mengirim surah al-Fatihah.

Saya sebut namanya lagi, lalu menggosok-gosok kuku ibu jari dan membaca ayat mantra: Wa Alqaytu ‘Alayka Mahabbatan Minnī Wa Litushna’a ‘Alā ‘Aynī. Setidaknya ini lebih syari ketimbang “Jarang Goyang” atau “Semar Mesem” sebagai pemantik mahabah.

Selama dua tahun mencintai dalam diam, akhirnya saya tidak tahan juga. Saya menulis surat cinta untuknya.

Tidak dibalas. Saya menyurati lagi. Tidak dibalas lagi. Sampai tujuh kali, baru dibalas. Sangat singkat: Aku tidak pandai merangkai kata. Hingga sulit bagiku membalas surat-suratmu.

Tapi, aku harus membalasnya, dan memang kamu sebaiknya tahu. Bahwa, aku juga. Dan ini yang pertama.

Tiga malam saya insomnia. Tiga malam saya berasa di sidratil muntaha. Saya lupa di mana Bumi. Saya telah berada di surga.

Tetapi lelaki senja membangunkan mimpi indah saya. Seorang kiai yang sudah memiliki tiga istri, masih pengin mengembat Nila juga. Padahal, Nila belum lulus Aliah.

Saya kemudian menyadari, bahwa kaki saya masih menginjak bumi. Bahwa surga masih menjadi misteri. Bahwa saya bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Dan malam ini, akad nikah akan dilaksanakan.

***

Kereta jurusan Pasar Turi, jadwal keberangkatannya masih dua jam lagi. Gedung tua enam lantai, bekas proyek yang lama terbengkalai, menarik perhatian saya untuk naik ke atapnya.

Kepada pedagang asongan, saya memesan kopi hitam di gelas plastik dan dua batang kretek. Membawanya ke atap gedung.

Sesampai di incar-icar langit, saat kretek pada bibir baru terapit, pemandangan manusia sunyi menggagalkan penyulutan.

Saya kehilangan. Tapi, di atas pagar atap, saya melihat manusia yang benar-benar kehilangan. Saya berduka.

Tapi gadis itu benar-benar hanyut dalam nestapa. Dan, benar kata orang, obat derita adalah menyaksikan yang lebih menderita. Karenanya, rasa pilu di hati saya sedikit mereda. Akhirnya, lintingan tembakau terbakar juga.

Gadis berantakan itu metangkring di atas pagar pembatas, dengan sebindel surat kabar di tangan kanan, di hadapan wajah. Tapi ia tidak melihat apapun. Tatapannya kosong. Sekosong jiwanya yang mengakar hampa.

Saya menghampiri. Saya mendengar isaknya dengan jelas. Tidak menyapa. Saya hanya berdiri kurang dari dua meter di sampingnya. Memainkan asap kelabu.

“Saya paling senang melihat orang menderita.” Beberapa menit kemudian baru saya berkata.
Gadis itu tidak semaur. Tapi saya sempat melihat bola matanya melirik ke arah saya.

“Kamu sedang menderita, kan?” Sambil tersenyum ke arahnya saya bertanya. Isaknya terhenti. Alisnya mengkerut. Kesedihannya berubah menjadi murka.

“Aku tidak sedang menderita.” Saya menggeser tempat berdiri. Dua langkah ke samping lebih mendekati.

Hanya dua langkah. Karena gadis itu segera menghentikan, “Jangan mendekat! Atau aku akan lompat?”

“Lalu, kalau saya menjauh kamu tidak akan melompat? Dasar tidak punya prinsip!” timpal saya sembari tertawa. “Kalau mau lompat, lompat saja, Mbak.”

Gadis itu benar-benar melompat. Turun dari pagar. Menghampiri saya. Memukul berkali-kali pada pundak dan dada saya.

Meluapkan segala emosi gelebahnya. Badan saya sedikit terguncang, menumpahkan separuh kopi di eratan tangan kiri.

“Sakit, tauk!” sergah saya.

“Aku bingung. Aku ingin bunuh diri. Tapi takut.”

“Takut mati?”

“Takut tidak mati. Takut hanya babak belur. Kan, jadi luka terbalut luka. Kalau ada yang membawa ke rumah sakit, saat sembuh aku harus membayar biayanya.”

“Sebenarnya banyak opsi untuk bunuh diri. Kamu bisa gantung diri, minum racun tikus, mengiris saluran nadi, atau menahan napas yang lama sampai mati.”

Perempuan dengan genangan air mata itu terdiam tanpa arti. Saat angin senja menyapu rambut ikal pirangnya, wajahnya tersibak. Sebenarnya gadis ini cukup cantik.

Angin senja juga merambat di depan wajah saya. Turut menghirup apa yang saya hirup. Membuat sebatang kretek saya cepat menghabis. Saya menyulut sebatang lagi, setelah menyeruput seseruput kopi.

“Sepertinya kamu sedang lapar. Jadi, kamu tidak bisa berpikir jernih. Atau tidak mampu memilih jalan mana yang akan kamu tempuh.

Mungkin ada baiknya kita makan dulu, sambil makan saya akan memberitahumu tentang cara-cara bunuh diri yang lebih fantastis.

Kamu bahkan bisa terkenal setelah kematianmu. Lebih terkenal dari yang ada di surat kabar itu.”

Dagu saya sedikit terangkat, mengisyarat tunjuk pada sebuntel surat kabar di genggaman tangannya.

“Tapi, kamu punya uang, nggak, buat beli makan?”

Gadis itu menggeleng.

“Ya sudah. Satu porsi buat berdua saja.”

“Dasar pelit!”

“Hemat dan pelit adalah sesuatu yang berbeda. Bunuh diri itu tidak perlu kenyang. Cukup perut tidak kosong saja.”

Saya menggelandangnya. Dan, dia menurut begitu saja. Rembulan sabit turut mengikuti langkah kami. Menembus lembayung mega.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar