Beranda Cerita Hujan, Jus Alpukat dan Perpisahan

Hujan, Jus Alpukat dan Perpisahan

Jus Alpukat dan Rinai Perpisahan
@solikhah.98_

Aku menikmati segelas jus alpukat disebuah kafe pelosok Trenggalek, bersama dengan seseorang yang aku yakini bahwa ia adalah jodohku sekaligus bersama teman sekelas waktu Smk dulu. Humor waktu smk hingga kini masih melekat dalam benak kita. hujan turun begitu deras. Angin kencang menyatu dengan kedinginan alpukat. Saya tidak menyediakan payung sebelumnya, karena ini adalah hujan pertama. Kata orang, hujan pertama membawa petaka.

Tetapi, Solikhah tidak percaya. Badarudin pun setuju dengan solikhah, Ia lebih percaya kepada yang berkata bahwa hujan membawa rahmat. Tiap tetesanya diikuti malaikat, tentunya hujan pertama adalah hujan yang paling banyak membawa nikmat.

Aku melihat, beberapa pasang sejoli semakin mesra atas kehadiran hujan. Di pojok kafe sebelah kanan seorang lelaki menyopot jaketnya dan memakaikan kepada kekasihnya. Di depan badarudin, seorang lelaki membacakan puisi tentang hujan kepada kekasihnya.

Sementara, di pojok kiri kafe seorang lelaki memandangi hujan dengan wajah kaku dan tatapan yang beku. Sementara, badarudin asyik mengobrol dengan bayu tadji bersama dengan doli.

Aku hanya tersenyum sambil memandangi pemandangan yang tidak biasa aku pandang. Malam ini ia begitu cantik, meskipun tampak pucat. Dengan lipstik yang terlihat memudar, entah karena kedinginan atau terkena jus jambu. Tetapi, ia tetap terlihat cantik, senyuman indahnya masih melekat dengan bibir indahnya.

Sudah lima tahun kita berpisah, sisa-sisa kenangan saat itu masih melekat dalam diri kita, Terkadang kita merencanakaan sebuah kebersamaan seperti ini, tetapi kesibukan masing-masing lebih menghendaki pada perpisahan.

Sudah lama aku tidak bertemu dengan badarudin, pernah bertemu sekali lalu berpisah begitu saja selama lima tahun. Perpisahan kami tidak romantis seperti perpisahan sahabat dalam adegan film-film. Saya juga tidak menginginkan romantis, karena kami bukan sepasang kekasih.

Kami sama-sama lelaki. Tentu tidak lucu, mengucapkan salam perpisahan berhias derai air mata dan pelukan. Secara, kami orang Indonesia. Pelukan sesama lelaki terkesan sangat menjijikkan. Kami hanyalah sepasang sahabat, sehingga dalam perpisahan cukup dengan berjabat tangan saja sudah cukup.

Kami bukan apa-apa. Kami hanyalah asap rokok yang mulanya tidak ada. Muncul setelah ada penyulutan. Terisap. Terkumpul dalam mulut. Sesekali bertamasya, berlibur  ke jantung, paru-paru, dan jeroan-jeroan lainnya.

Lalu kami dilempar keluar. Perlahan kami mulai terpisah. Ambyar. Ambyar. Ambyar. Sama sekali menghilang. Kami berharap diisap lagi. Tetapi pengisap telah berhenti. Kami dianggap sebagai penyakit. Atau sebagai sistem Tuhan dalam mengeksekusi takdir yang pahit.

Perpisahan memang menyedihkan. Bersama siapa pun. Bahkan kepada orang yang sering mengganggu kita, jahil kepada kita, kita akan merasa kangen saat ia tiada.

Setiap pertemuan pasti menerbitkan kenangan. Tetapi saya tidak pernah menyesali perpisahan. Sebab, perpisahan adalah keniscayaan.

Saya serasa lupa di mana kami pertama berjumpa. Berapa lama kami bersama. Kehidupan apa saja yang kami lalui. Badarudin sudah seperti diri saya. Terlalu menyatu. Lalu berpisah. Akhirnya saya menyadari, sejak tadi air mata saya tak mampu dikebiri.

Dan. Ternyata saya juga baru sadar, ternyata jasadku berada di munjungan trenggalek, Kehadiran saya disana disambut dengan baik. Makanan yang cukup untuk ukuran sepuluh orang dewasa di hidangkan kepada saya dan solikhah.

Saya menghabiskan empat porsi untuk ukuran orang dewasa, karena mereka sudah paham saya kangen sekali dengan sambel “gapuk” khas trenggalek, rasanya kenyang sekali. Setelah makan. Seperti biasa, saya menccuci mulut dengan udut dan segelas kopi.

“Kamu habis naik kereta, belum mandi, mandi dulu sana biar tambah gantengnya” Kata ibu sutini, Ibunya badarudin.

“Iya nan mandi sana, mandi itu menambah 20% kegantengan loh,,” Sahut badarudin.

“Ok, siap mami. Habis satu batang udut, saya langsung mandi.”

Setelah mandi, aku melaksanakan shalat dzuhur, kemudian aku meneruskan perbincangan kami yang belum selesai, Tidak terasa aku mulai terlelap dalam kenikmatan tidur.

Tulis Komentar