Kawakibul Qolbi | Chapter 1 (Kisah Nyata, Cinta Anak Pesantren)

  • Whatsapp
Image smk daris

Kawakibul Qolbi | Chapter 1
Mencintaimu dalam diam
Genre: Cerpen Santri.
By: Fathnanul Muzakki

Cerita ini akan terus nyambung, karena cerita ini ditulis berdasarkan kisah Nyata, bukan fiksi. Namun, akan di kemas dengan bahasa yang berbeda. Pemeran utama dalam cerita ini adalah Afnan, Badar dan bintang hatinya Afnan Aisyah, yang sama-sama dalam naungan pesantren. Sedangkan untuk Pemeran Figur di bantu oleh Kang huda, Kasmudi, Maysaroh, dan Silvi sebagai teman kelas dari Afnan dan Badar. Selamat membaca dan selamat Ngopi.

Muat Lebih

***

Di bangku kelas paling depan sebelah kanan Afnan melihat ada bintang yang kemerlap. Ya, siapa lagi kalau bukan Aisyah, Cewe paling cantik disekolah ini.

Sejak pertama masuk sekolah, tepatnya kelas 1 Smk, Afnan sudah menaruh hati kepada bintang kelas itu. Wajar saja, wajah cantik dan senyuman mawar Aisyah berhasil memikat para lelaki yang ada di kelasnya, termasuk salah satunya adalah Afnan.

Tetapi, Afnan masih belum bisa mengatakan langsung perasaanya kepada Aisyah, Meskipun ia sangat mencintainya, Tapi dia lebih memilih untuk menyimpan perasaannya dulu. Karena baginya, melihat Aisyah saja itu sudah cukup untuk membuat hatinya berbunga-bunga bagaikan terbang ke bintang-bintang.

Setiap hari, setiap masuk sekolah, Afnan tidak pernah lepas dari pandangannya kepada gadis yang paling di cintainya itu. Karena baginya, cukup melihat wajah bintang hatinya saja dia bisa jadi lebih bersemangat menjalani hari-harinya.

Setiap hari, Afnan selalu merindukan bintang hatinya itu, setiap menit, wajah cantik Aisyah selalu muncul di pelopak mata Afnan dengan senyumnya yang ranum indah.

***

“Tok,, tok,,tok,,,” suara ketokan pintu di kamar asrama yang terbuat dari bambu.

“Siapa?” Tanya Afnan.

“Aku,,,, Badar, Kamu nggak sekolah apa? ini sudah jam 7 lebih loh,, cepetan mandi sana, sebelum pak mail datang misuh-misuh”

“Iya,, iya,,” Jawab Afnan yang masih belum sepenuhnya sadar.

Afnan bergegas bangun setelah melihat jam dan berlalari menuju ke kamar mandi. Itu pun, Afnan tidak langsung mandi karena harus mengantri dulu.

Setelah selesai mandi dan dandan, Badar datang ke kamar Afnan untuk mengajak berangkat bareng.

Badar adalah satu-satunya teman Afnan yang paling setia, meskipun kadang dibuat kalah-kalahan dan dijadikan bahan bullyAn. Tetapi, meskipun demikian Badar tidak pernah sakit hati.

“Ehh,, Dar, Aku suka sama Aisyah” Curhat Afnan sambil berjalan cepat.

“Aisyah siapa sih? Belum satu bulan genap sekolah, eh,, kamu sudah jatuh cinta. Nan,, nan,,,”

“Aku serius Njirr,, Aku benar benar jatuh cinta, setiap mengingat nama Aisyah, wajah cantiknya langsung muncul di depanku, tersenyum manis di hadapanku”

“Kita bahas nanti setelah istirahat, sekarang kita masuk kelas dulu” Pungkas Badar.

Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan lebih, mereka berjalan sangat cepat dari asrama pesantren menuju ruang kelas.

“Mampus,,, mampus,, kita sudah terlambat, Pak parni pasti marah-marah” Guman Badar.

“Enggak mungkin, Pak parni orangnya sabar, beda dengan keamanan pondok. Kang Sobar, Meskipun namanya sobar tapi orangnya galak.” Sahut Afnan.

“Matamu!”

Karena merasa sudah terlambat, mereka berlari sangat cepat menuju Lantai dua, tempat mereka di ajar.

“Assalamualaikum,,” Ucap salam dari Afnan sambil mengatur nafas Ngos-ngossan.

“Waalaikum salam,, dari mana? kok terlambat” Tanya bapak suparni. Guru Bahasa Indonesia yang sangat karimatik itu.

“Maaf, Pak. Kami terlambat, tadi kami mandi harus mengantri panjang dulu, maklum lah,, di pesantren, Pak.” Jawab Badar sambil mengeluarkan senyum ampuhnya.

“Ya sudah, silahkan duduk. Besok jangan terlambat lagi ya.”

“Enjih pak,” Jawab kompak dari dua sejoli.

Pak Parni melanjutkan pelajaran, Afnan melihat sekelilingnya, semua teman-teman di kelasnya tidak ada satu pun yang berbicara. Pandanganya mengarah ke satu titik, siapa lagi kalau bukan Aisyah, gadis pesantren yang paling di idam-idamkannya di kelas.

Jam istirahat telah tiba. Seperti biasa, Badar dan Afnan menunggu teman-temannya bubar dulu, baru mereka meninggalkan kelas.

“Eh,, itu loh Aisyah, yang pake sepatu merah, yang jalan sama silvi.” Kata Afnan sambil mengarahkan jari telunjuknya.

“Oooh,, yang itu tohh,,” Jawab Badar.

“iya,, Cantik kan?”

“Memang cantik sih. Tapi, saya juga ragu kalau gadis secantik dia masih belum punya pacar.” Jawab Badar sambil menyelumat rokoknya.

Afnan mulai berfikir sejenak setelah Badar mengeluarkan kata-kata logisnya. “Jiangkrik,, kenapa aku nggak berfikir begitu sebelumnya ya.” Guman Afnan.

“Tenang,,,, jangan panik, semuanya pasti ada jalan. Tapi, kalau di bahas di dalam kelas seperti ini rasanya kurang pas cok, gimana kalau kita Ngopi di gedung banteng?” Rayu Badar sembari memberi saran.

“Ayok.” Jawab Afnan sambil membereskan bukunya.

“Tapi kamu yang bayar,,,”

“Memangnya biasanya kamu yang bayar?” Tanya Afnan.

“Hahahahahaha,,,,”

Badar masih menjadi sahabat terdekat Afnan. Saking dekatnya, banyak anak-anak pesantren yang bilang kalau mereka pacaran. Afnan sudah merasa nyaman mempunyai sahabat seperti badar, Meskipun kadang tolol. Tetapi, Afnan tetap percaya kepada sahabatnya. Gedung banteng adalah tempat Favorit saat mbolos atau jam istirahat sekolah. Selain ada warung kopinya, tempatnya juga sangat setrategis, pinggir kali sambil Ngopi.

Dua gelas kopi bronto seno sudah datang, pemandangan sejuk dan nyaman membuat diskusi ngopi semakin asyik.

“Eh,, Dar, aku masih belum percaya, apa mungkin Aisyah sudah punya pacar?” Tanya Afnan kemudian menyruput kopi hitamnya.

“Ya mungkin lah,, siapa bilang tidak mungkin, Gadis secantik Aisyah pasti banyak yang naksir”

“Iya juga sih, Terus, bagaimana solusinya?”

“Saran saya,,, kamu harus bertindak cepat, coba deh, besok kamu tanyakan kepada temanya, si Silvi kek atau Maysaroh, terserah,, yang penting kamu tanyakan.”

“Ya sudah, nanti selepas pulang sekolah saya tanyakan”

Setelah Ngopi, Afnan dan badar kembali ke kelas. Kali ini tidak ada jam pelajaran, gurunya sedang rapat. hal seperti ini biasanya di manfaatkan oleh ketua kelas ‘kang huda’ untuk mengisi jam kosong dengan membuat acara Tasyakuran kelas.

Anak-anak disuruh untuk menyumbang se ikhlasnya, biasanya ada yang nyumbang 10.000 per anak, ada yang paling sedikit 2.000-5.000, ada juga yang tidak nyumbang, Mungkin sedang krisis atau menunggu kiriman yang tak kunjung datang. Bisa di bayangkan sendiri jumlah anak kelas satu SMk adalah 27 anak, dan sebagian adalah perempuan.

Dana sudah terkumpul, sekarang bagian Kasmudi yang akan mengksekusi dana hasil iuran kelas tersebut. Kasmudi membelikan jajan, Es, dan rokok untuk yang Rojul, sesuai kesepakatan bersama.

Dalam sekejap, jajan-jajan tersebut sudah habis di makan piranha kelas. Afnan berbaring di atas bangku sambil menghabiskan satu batang rokok matanya menerawang ke kanan ke kiri, ia begitu pintar menyembunyikan pandanganya kepada Aisyah. Sehingga tidak ada satu pun di kelas yang tahu bahwa dirinya mencintai Aisyah dalam diam.

Tasyakuran sudah selesai, Afnan masih berbaring di atas bangku sambil menghembuskan asap rokoknya, Badarudin membereskan bukunya untuk bergegas balik ke asrama pesantren.

“Eh,, kamu Jadi tanya nggak?, keburu Maysaroh balik” Tanya badar kepada Afnan.

“Ohh,, iya, mana Maysaroh?”

“Itu, sama Silvi. Cepetan keburu balik dia, Aku tunggu di bawah ya.”

“Iya, Sip. Jangan pulang asrama dulu, habis ini kita Ngopi lagi”

“Oke lah,,” Jawab Badar sambil menyelumat rokoknya.

Afnan bergegas membereskan bukunya dan kemudian menjumpai Maysaroh yang sudah berjalan keluar ke arah tangga.

“Eh,, Roh Tunggu roh,,” Sambil berlari Afnan memanggil.

Maysaroh menolah.

“Iya, ada apa Nan?”

“Sil, aku boleh bicara sebentar nggak sama Saroh?” Tanya Afnan kepada Silvi.

“Hayoo,, ada apa nih, Ciee,,,” Jawab Silvi sambil tersenyum manis.

“Udah,, kamu keluar dulu sebentar”

“Oke lah. jangan lama ya, Aku tunggu Saroh di bawah” Jawab Silvi sambil manyun berjalan keluar.

“Mau tanya apa Nan?” Tanya Saroh yang terlihat sedikit malu.

“Sebelumnya, kamu jangan bilang sama siapa pun di kelas ini ya,”

“Iya,, mau tanya apa?”

“Kamu kan tetangga Aisyah kan ya?”

“Iya, Kenapa Emang?”

“Aku suka sama dia, Kamu jangan bilang siapa-siapa ya!” Tegas Afnan.

“Serius,,?” Tanya Saroh yang terlihat sedikit kaget.

“Iya,, Aku serius.”

“Nan,,,, dia sudah punya Cowo, Ya Nggak mungkin lah dia mau pacaran lagi.” Jawaban dari Saroh yang mulai mengurangi nada pembicaraanya.

“Apa,? Kamu serius?” Dengan wajah yang pucat dan kecewa Afnan bertanya.

“Iya,,, aku serius, Dia sudah punya Cowo di rumah”

“Ya sudah, Terimakasih ya, waktunya.”

“Iya,, sama-sama” Pungkas Maysaroh sambil keluar turun tangga.

Afnan belum keluar kelas, wajah pucat dan kecewa sangat jelas bercampur menjadi satu, ia masih belum percaya, gadis yang di idam-idamkankanya itu sudah mempunyai pasangan. Di atas tangga Afnan duduk sambil mengeluarkan rokok di sakunya, ia lupa jika di bawah, ia di tunggu oleh temanya badarudin.

“Sudah selesai bertanya?” Tanya Badarudin menghampiri Afnan di atas.

“Sudah,” Jawab Afnan singkat.

“Ayok kita pulang”

“Bisakah aku berfikir sejenak disini?”

“Berfikir saat Lapar akan mengganggu pencernaan bukan?, Ayok kita makan dulu”.

***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *