Home Opini Amit, Nuwun Sewu!! Kearifan Lokal Masyarakat Tuban Yang Sudah Mulai Tergerus Oleh...

Amit, Nuwun Sewu!! Kearifan Lokal Masyarakat Tuban Yang Sudah Mulai Tergerus Oleh Zaman

Amit, Nuwun Sewu!! Kearifan Lokal Masyarakat Tuban Yang Sudah Mulai Tergerus Oleh Zaman

Seperti yang telah kita ketahui, masyarakat Indonesia sangatlah beragam. Ada banyak sekali suku, bangsa, adat istiadat, juga kesenian.

Budaya menjadi sikap langka yang sangat penting untuk terus dikembangkan kembali. “Amit” merupakan salah satu contohnya, terutama untuk wilayah masyarakat Tuban.

“Amit” adalah sikap meminta permisi atau biasanya sering disebutkan masyarakat Tuban dengan frasa “nuwun sewu” untuk melewati arah orang.

Dengan kata-kata “amit” dan “nuwun sewu”, kata tersebut diikuti gerakan tangan kanan yang menurun kebawah dengan melihat pada orang yang dilewati sembari memberikan senyuman indah.

Makna dari perilaku seperti ini adalah sebagai simbol bahwa “amit” dan “nuwun sewu” merupakan upaya menghargai siapapun orang yang ada dihadapan kita.

Budaya amit ini perlahan-lahan mulai tenggelam dalam masyarakat, khususnya pada anak-anak muda. Lebih parahnya lagi ketika saya melihat ada anak-anak sd yang sudah mulai “ngelamak” kepada orang yang lebih tua.

Entahlah ini kesalahan siapa, kesalahan orangtua yang tidak mewariskan budaya kepada anak-anak kah?.

Saya benar-benar sedih ketika melihat ada anak-anak mulai ngelamak kepada orang yang lebih tua. Bahkan, saya pernah menjumpai ada bocah yang memanggil orang tua dengan kata-kata “Broo!!” untuk memanggilnya.

Budaya “amit” dan “nuwun sewu” sangat berperan penting dalam mendidik karakter anak-anak dalam sifat sopan santun dan hormat.

Oleh karena itu, budaya “amit” dan “nuwun sewu” ini harus di ingat dan di tanamkan kepada generasi kita mendatang. Sebab, budaya “amit” merupakan kecerdasan sikap yang akan membentuk generasi-generasi muda bangsa agar terciptalah yang namanya “saling menghormati dan menghargai.”

Jika budaya “amit” dan “nuwun sewu” ini terealisasikan dengan baik, saya yakin akan meminimalisir bahkan memusnahkan keributan sosial seperti tawuran antar kampus, tawuran di orkesan, tawuran karena rebutan warisan, dan yang lain-lain.

Kalian masih ingat tentang kasus murid yang ngajak brantem gurunya di Gresik?

Wani guru
Sumber gambar: Liputan6

Senakal-nakal saya dulu ketika sekolah, saya tidak akan pernah berani ngajak berantem sama guru.

Mendengar kabar tersebut membuat saya paham tentang pentingnya budaya “amit” dan “nuwun sewu” untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Terutama untuk menjaga kenyamanan dan persaudaraaan.

Budaya “amit” dan “nuwun sewu” mungkin terlihat sangat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di pulau jawa.

Sikap “amit” dan “nuwun sewu” bisa menjadikan seseorang lebih akrab meskipun sebelumnya tidak saling kenal. Pada zaman saat ini, budaya “amit” dan “nuwun sewu” sudah mulai luntur seperti terkena pemutih baju.

Nilai-nilai pendidikan dan karakternya perlahan mulai hilang. Seakan-akan budaya “amit” dan “nuwun sewu” ini tidaklah bermakna, bahkan sering disepelekan.

Budaya “amit” dan “nuwun sewu” merupakan simbol dari “kesopanan”, simbol akan menghormati dan menghargai yang lebih tua dari kita. Siapapun orangnya, siapapun yang ada dihadapan kita.

Budaya “amit” dan “nuwun sewu” tidak pernah membeda-bedakan siapakah yang akan kita amiti dan hormati. Tetapi, budaya ini bersifat untuk semua orang yang lebih tua dan yang patut untuk kita hormati dan hargai.

Budaya “amit” dan “nuwun sewu” merupakan budaya lokal yang memiliki nilai sangat tinggi sehingga harus dilestarikan untuk membnetuk karakter generasi mendatang yang lebih baik.

Walaupun saat ini zamannya moderen dan kita juga harus mengikuti zaman biar nggak dibilang katrok. Tetapi, budaya tetaplah budaya. Budaya lebih awal hadir daripada Android yang saat ini menjadi kebutuhan primer.

2 COMMENTS

  1. Mantap sekali ini, memang budaya seperti itu sudah muali disepelekan dan mulai lenyap dari kehidupan kita.

Tulis Komentar