Beranda Cerita Kiblatnya Ilmu Al-Azhar Kairo Kembang Mesir

Kiblatnya Ilmu Al-Azhar Kairo Kembang Mesir

Kembang Mesir

JIKA bukan karena al-Azhar, saya tidak mampu membayangkan bagaimana Mesir jadinya. Barangkali di luar sana berlimpah ruah kebaikan-kebaikan, tetapi saya tidak hidup di berbagai kota yang ada di Mesir.

Saya hanya berada di sebuah kotak kecil di dalam kotak Kairo, maka pandangan saya terhadap Mesir, ya sebatas pada Kairo ini.

Tentu pandangan semacam itu adalah kesalahan besar, maka saya akan berhenti menilai Mesir dengan keburukannya. Karena, sesungguhnya Mesir tidak seburuk yang saya duga.

Saya hampir lupa, bahwa Mesir bukan hanya punya Firaun, tetapi juga memiliki Musa dan Harun. Selain para nabi yang rekam jejaknya terabadikan dalam Alquran, sejarah juga mengabadikan rekam jejak ulama-ulama klasik dan kontemporer.

Yang wafat dan disemayamkan di Mesir, juga seambrek jumlahnya.

Mesir adalah negeri yang diberkati. Ia adalah ibu dunia.

Alam telah mengajarkan, bahwa jangan terfokus pada duri. Mundurlah, agar kau dapat melihat keindahan kembangnya.

Denguskan hidungmu, agar kau mampu mencium aroma wanginya.

Ada duri itu pasti. Tetapi Mesir memiliki al-Azhar, Al-Azhar adalah kembangnya. Sebagaimana namanya, yang terambil dari kata al-Zahrā‟ yang berarti kembang, yang juga disandarkan pada Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah saw.

Al-Azhar telah ada sejak puluhan abad yang lalu. Sudah sangat sepuh. Pastilah berlimpah keharuman, kekeramatan, dan keberkahan di dalamnya.

Al-Azhar pertama kali dibangun pada 24 Jumadilawal 359 H. atau 7 Mei 970 M. dan selesai pada 7 Ramadan 361 H. atau 23 Juni 972 M. oleh Jauhar al-Shiqilli, seorang pimpinan perang dengan 100 ribu pasukan, yang telah berhasil menaklukan Mesir setelah empat kali khalifah sebelumnya gagal.

Al-Azhar, masjidnya, bukan universitasnya, adalah lembaga pendidikan tertua di dunia. Pada mulanya, al-Azhar memang menjadi pusat penyebaran Islam Syiah.

Sebab, saat itu, pada era Dinasti Fatimiah, mazhab resmi Mesir adalah Syiah Imamiah dan Syiah Ismailiah. Namun, Panglima Besar

Shalahuddin al-Ayyubi telah berhasil menggulingkan Dinasti Fatimiah, hingga kepemimpinannya berpindah pada Dinasti Ayubiah.

Ketika itu, Shalahuddinlah yang memegang kendali Mesir dan al-Azhar. Jika dulunya di Masjid al-Azhar biasa dikumandangkan azan versi Syiah, diubahlah menjadi azan versi Sunni.

Jika sebelumnya khutbah-khutbahnya berisi syiar paham Syiah, kemudiannya menjadi khutbah-khutbah dakwah Sunni.

Maka, resmilah al-Azhar dan Mesir bermazhabkan Sunni. Hingga saat ini. Shalahuddin juga memerintahkan agar materi-materi keilmuan yang diajarkan di al-Azhar yang sebelumnya Syiah, juga diganti dengan materi-materi keilmuan Sunni.

Begitu pula di masjid-masjid lain, seperti Masjid Ibn Thulun dan Masjid Amr bin Ash, dua masjid yang lebih tua dari al-Azhar.

Para pengajar di al-Azhar ketika itu adalah ulama kaliber internasional. Seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Imam Sirajuddin al-Bulqini, dan ulamaulama lainnya.

Jika kakbah yang ada di Mekah adalah kiblat salat, maka Mesir dengan al-Azharnya adalah kiblatnya ilmu.

Tulis Komentar