Kumandang Adzan Kesepian

  • Whatsapp
Kumandang Adzan Kesepian

Sajad mengumandangkan adzan, yang kata orang-orang itu merupakan panggilan. Tapi Sajad tidak pernah menganggapnya sebagai panggilan.

Baginya, adzan adalah peringatan, bahwa shalat harus selalu ditegakkan, di mana pun manusia bersemayam.

Muat Lebih

Tidak harus di Masjid maupun Langgar. Sembahyang boleh dilaksanakan di rumah, di kamar, di sekolahan, di kampus, di sawah, di perkebunan, di medan peperangan, bahkan di dalam hati yang dipenuhi kotoran dan keputusasaan.

Baginya, adzan adalah peringatan yang memperingatkan tentang kehidupan, kematian, dan hari kebangkitan.

Peringatan atas nama ketuhanan dan kemanusiaan. Peringatan kepada keramaian dan kesepian.

Meski kini suaranya telah parau termakan usia, tapi kemerduannya tidak pernah hilang. Suaranya yang merdu mendayu-dayu, masih memiliki ruang di hati orang-orang.

Jika bukan karena kesepakatan mereka dengan penguasanya, pasti mereka sudah hadir untuk bertepuk tangan bersorak sorai mengusir kesepian.

Setelah adzan, Sajad melantunkan pujian-pujian, berupa doa-doa dan shalawatan, sembari menunggu jamaah yang tidak pernah datang.

Sebagaimana penduduk menyukai kumandang adzannya, mereka juga menikmati lantunan pujiannya.

Lagi-lagi karena kesepakatan, mereka tidak berani lebih lama mendengar. Mereka lebih memilih mengabaikan, lalu pergi ke Masjid bagi yang berkenan. Atau memilih di rumah dan membesarkan volume televisinya.

Lima belas menit setelah adzan, lima belas menit mengumandangkan pujian, kemudian Sajad berdiri menyuarakan iqamah: Qad Qāmat ash-Shalāt, Qad Qāmat ash-Shalāt. Nadanya seperti sedang mengumumkan bahwa kiamat sudah sangat dekat, kiamat sudah sangat dekat.

Seusainya, Sajad berdiri di barisan paling depan. Barisan yang hanya berupa garis-garis ubin tua hitam kecoklatan.

Sebelum bertakbir pembuka, Sajad menghadap ke belakang, menyerukan jamaah meluruskan dan merapatkan barisan.

Setelah imajinasinya mendengar teriakan, “Kami telah lurus dan rapat.” Sajad kemudian bertakbir mengagungkan Tuhan, Yang akan selalu agung ada atau tidak ada yang mengagungkan.

Baca ini juga: Sisa Uang Belas Kasihan

Walau sendirian, Sajad tetap berharap, Tuhan berbaik hati dan menggandakan dua puluh tujuh derajat pahalanya seperti orang-orang yang ramai-ramai berjamaah sungguhan.

Jika pun harapannya tidak dikabulkan, Sajad tetap tidak berkecil hati. Untuk apa? Apalah arti kebersamaan jika pada masanya, manusia akan menghadap Tuhannya sendirian.

**********

Langgar itu sudah seperti rumahnya sendiri. Tapi Sajad tetap tidak pernah merasa memiliki.

Keyakinannya tetap dalam prinsipnya, tempat ibadah adalah rumah Tuhan yang harus dimuliakan, dipelihara, dan dipertahankan.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Sajad bekerja serabutan untuk menutupi kebutuhannya dan memakmurkan rumah ibadah sekaligus tempat tinggalnya.

Sehari makan sepiring sudah cukup untuk menghilangkan lapar. Yang paling penting adalah membayar listrik Langgar, membayar airnya, pajaknya, dan penyervisannya.

Tiga puluh lima tahun yang lalu, ketika Sajad pulang dari perantauannya, ia hampir sock melihat Langgar tua yang berada di tengah-tengah desa itu menduda dan menjanda tanpa tetangga.

Sekelilingnya rata dengan tanah. Kata orang-orang, itu akan dijadikan perumahan mewah. Tinggal menunggu penggusuran Langgarnya.

Tapi mereka tidak berani. Itu Langgar keramat, peninggalan orang tua. Mereka hanya berani menggusur, jika semuanya sudah setuju dan menandatangani kontraknya.

Hanya Sajad yang menolak. Bahkan keluarga mendiang Kiai Mastur, pengasuh Langgar sebelumnya, sudah merelakannya.

“Semua orang sudah mendapatkan bagiannya,” kata seorang mantan tetangga Langgar.

“Bagian apa?” Sajad bertanya meminta penjelasan.

“Bagian kebutuhan.”

“Kebutuhan apa?”

“Jika kau juga menginginkannya, bisa saya sampaikan. Mereka pasti siap mengeluarkan banyak biaya.”

“Biaya apa?”

“Biaya kebutuhanmu.”

“Saya setuju.”

“Setuju? Berapa yang kau inginkan?”

“Bukan berapa, tapi apa.”

“Apa yang kau inginkan?”

“Eksistensi Langgar ini.”

Sesungguhnya semua warga sependapat dengan Sajad. Karena itulah, meski keras kepala, tidak ada yang membencinya.

Kalau saja kehidupan warga jauh dari kekurangan, pastilah akan ditolak berapapun rupiah yang ditawarkan.

“Kami hanya mampu membantumu dengan doa, Jad. Kami terlanjur menelan racun kesepakatan yang dibuat oleh orang yang punya hajat dan seluruh pejabat pemerintah, untuk tidak lagi ikut campur urusan Langgar, jangankan untuk berjamaah, menengok, dan bahkan melirik pun, kami tidak boleh.”

Sajad memakluminya. Ia yakin dengan keyakinannya, semuanya bisa teratasi.

Tiga puluh tahun sudah berlalu, hingga tanah bekas buldoser di sekeliling Langgar dipenuhi rerimbun rumput menyerupai hutan, Sajad masih tetap mempertahankan.

Tiga puluh tahun itu benar-benar ia sucikan, tidak bisa ditukar dengan mobil, rumah, perhiasan, bahkan perempuan. Rumah Tuhan lebih layak dipertahankan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *