Lelaki Broken Home

Lelaki Broken Home

“Kamu ini kan sudah cukup umur, sudah lulus S1, dan sudah punya pekerjaan tetap. Ya … meskipun gajimu ndak seberapa. Tapi apa kamu ndak kepikiran buat membina rumah tangga?”

“Kepikiran sih iya. Tapi keinginan belum.”

Read More

“Kenapa?”

“Merasa belum ada yang cocok saja.”

“Merasa belum ada yang cocok?” Halimah mengulang jawaban anaknya, “cinta yang kamu maksud?” matanya mendekat pada Isa. Isa tak berani menatapnya, “Rumah tangga itu tidak perlu cinta. Tapi komitmen.

Penyebab rusaknya hubungan ibu sama ayahmu yo karena cinta itu. Dulu Ibu sangat mendewa-dewakan namanya cinta, dan Ibu pikir cinta lah yang akan membuat seseorang bahagia.

Ternyata tidak. Karena cinta itu tidak akan selamanya bersemayam di hati manusia. Ayahmu dulu itu ada ribuan bahkan jutaan kali bilang kalau dia cinta sama Ibu.

Tapi, setelah cintanya habis, dia berpaling kepada cintanya yang baru. Ibu berharap kamu tidak seperti Ayahmu. Kamu harus punya komitmen, cinta atau tidak, keharmonisan harus selalu terjalin.”

Isa tampak seperti ingin berkata, tapi ia tahan, ia urungkan, takut, nantinya perkataannya akan menyinggung perasaan Ibunya.

“Ibu sudah gagal. Dan Ibu ndak mau kamu ikut-ikutan gagal. Kalau kamu memang belum siap untuk nikah, ya ndak apa-apa. Yang penting, jangan sampai kamu mainin anaknya orang.

Cinta itu dipilih dan bukan memilih. Kamu bebas mencintai siapa saja, berapa saja, kapan saja. Tapi harus hanya satu yang kamu pertahankan cintanya, baik di saat cinta maupun tidak cinta.

Dan jika kamu sudah menemukannya, ambillah. Nikahilah. Ibu memang pengen banget nimang-nimang cucu, tapi Ibu tidak mau jika cucu itu lahir dari rahim yang tidak halal jalannya.”

Isa tersedak. Kalimat itu benar-benar mengena. Seperti sebuah tendangan pinalti yang masuk gawang tanpa ada kiper yang menjaganya.

Berangsur tapi pasti, kegelapan memudar oleh pagi. Namun tidak maksimal. Musim di Indonesia memang seringkali tidak jelas. Kemarau dalam. Hujan dalam kemarau. Harusnya bulan April adalah musim kemarau.

Pagi merambat ke siang, tapi langit semakin gelap.Tidak deras, tapi tetesan hujan dari langit cukup membuat jalanan basah. Hari ini Isa tidak ada jam mengajar di kelas satu, tapi ia berusaha mencari cela untuk bisa masuk di kelas satu.

Kebetulan ada salah satu guru yang izin. Isa pun masuk ke kelas satu. Hatinya begitu gembira ketika ia melihat Rafa. Persis seorang lelaki yang telah jatuh cinta.

Lagi-lagi ia menepis pikiran itu. Tidak mungkin ia mencintai anak bayi.

Bel pulang telah berdentang. Gerimis masih konsisten dalam jumlahnya. Para siswa telah pulang dijemput orangtuanya. Beberapa siswa laki-laki lebih memilih pulang tanpa payung.

Hujan-hujanan. Kata mereka mumpung besok seragamnya sudah tidak dipakai lagi. Isa tersenyum melihatnya. Teringat masa kecilnya. Ia sangat suka dengan hujan-hujanan.

Rafa. Sendiri. Mematung melihat gerimis yang tak kunjung reda. Isa mendekatinya. “Ibu kamu kok belum jemput?”
Rafa diam tak menjawab. Mungkin dia tidak mendengar. “Ibu kamu kok belum jemput?” Isa mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih tinggi.

“Tante sari maksudnya?”
Isa tidak mendengar dengan jelas. Tapi ia mendengar. “Ya, Tante Sari.”

“Mulai hari ini dan seterusnya, Tante Sari sudah tidak jemput saya.”

“Pak Guru antar pulang ya?”

“Nggak usah, Pak Guru. Saya bisa pulang sendiri. Nunggu hujan reda.”

“Hujan ini akan lama, Rafa. Lihat! Langitnya gelap sekali.”

“Tapi Tante Sari tidak ngebolehin aku berteman dengan siapapun. Nanti kalau Tante Sari tahu pasti marah.”
Isa tersenyum mendengarnya. Lucu juga anak ini, pikirnya. Lebih lucu lagi tantenya, di mana-mana yang tidak boleh itu berteman dengan sembarangan, atau berteman dengan anak yang nakal. Bukan berteman dengan siapapun.

“Tapi saya ini kan gurumu. Bukan temanmu.”

Rafa terdiam.

“Pak Guru antar ya?”

Rafa mengangguk.

“Tunggu sebentar. Pak Guru ambilkan payung dulu.”

Rumah yang terletak di tepi hutan itu membuat Isa tercengang. Setelah tahu yang tinggal di situ hanya seorang perempuan dewasa dan anak yang masih sangat kecil.

“Kamu tidak takut tinggal di rumah begini?” tanya Isa.

Rafa menggeleng. Tiba-tiba seekor kucing hitam jatuh dari atas, tepat di pangkuan Isa. Ia terlonjak bukan kepalang. Melihat itu Rafa tertawa terpingkal-pingkal.

“Bojel … Kamu jangan nakal. Itu Pak Guruku.” Rafa mengambil kucing itu dari pangkuan Isa.

Raf masih tertawa. Ada kebahagiaan yang mengalir di darah Isa. Semenjak pertama bertemu dengan Rafa, baru kali ini ia melihat Rafa tertawa lepas seperti itu.

“Pak Guru mau minum apa?” tanya Rafa kemudian.

Isa tercengang. Anak sekecil itu sudah pintar sekali.

“Tidak usah repot-repot.”

“Rafa sudah biasa kok bikinin minuman buat para tamu yang sering datang kemari.”

“Oh ya? Kamu pintar sekali.”

“Saya bikinin teh manis saja ya?”
“Boleh.”

Teh manis tinggal gelasnya. Siang hari tinggal sisanya. Warna jingga telah menghiasi langit bagian barat. Sari belum pulang-pulang juga. Keterlaluan benar dia, gumam Isa. Anak sekecil ini ditinggalin sendirian di hutan dan rumah yang angker ini.

Baca Juga: Ketika Santriwati Terserang Virus Cinta

Maghrib. Isyak. Gelap. Sari belum pulang-pulang juga. Isa semakin gusar. “Memangnya biasanya Tante Sari pulang jam berapa?”

“Biasanya Tante Sari di rumah terus. Tapi kate Tante, sekarang mau kerja, jadi Rafa harus berangkat dan pulang sekolah sendiri, karena Tante akan pulang agak maleman.”

“Memangnya kerja Tante Sari apa?”

“Siapa kamu?” Tiba-tiba seseorang menyambar dari balik mulut pintu yang tak ditutup.

“Saya …”

Belum selesai Isa ngomong, Sari sudah menyambar lagi, “Saya sudah tidak menerima tamu lagi.

“Saya …”

“Silakan tinggalkan tempat ini!”

Rafa berdiri. “Itu guru Rafa, Tante. Tadi Pak Guru yang ngantar aku pulang dan meminjami payung.”
Isa seperti terbungkam. Mirip seekor ayam yang terkena gangguan pada pita suaranya.

“Oh … kamu gurunya Rafa. Kebetulan dong.”

Kebetulan? Kalimat kebetulan itu membuat Isa semakin menyimpan tanda tanya besar.

Sari duduk di atas kursi. Mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tasnya, dan membakarnya satu batang.

“Ngerokok?” tawarnya sambil menyodorkan sebungkus rokok yang tinggal setengah.

“Ya, saya bawa sendiri.” Isa merogoh sakunya, dan mengambil sebatang rokok. “Kemarin kita sempat ketemu kok.”

“Ya, saya ingat.”

Suasana hening. Asap rokok mengebul dari mulut keduanya.

“Kamu …” kata mereka bersamaan.

“Silakan duluan!” Isa mempersilakan.

“Kamu sudah berkeluarga?”

“Belum.”

“Di rumah tinggal sama siapa?”

“Sama Ibu saya.”

“Kamu bukan bajingan, kan?”

Pertanyaan itu seperti peluru yang menembus jantung Isa. Tapi Isa mencoba tetap tenang. Ia menghisap lagi rokoknya.

“Dari matamu sih, sepertinya kamu orang baik-baik. Tapi aku tidak percaya dengan mata,” lanjutnya, yang semakin membuat Isa tak mengerti, “tapi aku percaya sama kamu.”

“Maaf, Mbak …”

“Namaku Sari.”

“Maaf, Sari. Dari tadi aku sama sekali tidak paham dengan apa yang kamu katakan.”

“Untuk sementara, saya mau pergi. Saya nitip Rafa.”

“Maksudnya?”

“Kamu itu guru tapi o’on ya … Saya nitip Rafa. Ajak dia tinggal di rumah kamu. Saya tidak mungkin biarin dia tinggal sendirian di sini. Karena saya mau bekerja di tempat yang agak jauh.”

“Memangnya kamu kerja apa?”

“Saya tidak suka dengan orang yang banyak tanya. Tinggal jawab. Mau atau tidak.”

“Baiklah.”

“Rafa, kamu ikut sama dia.”

“Rafa boleh bawa Bojel, kan?”

“Bojel siapa?”

“Kucing hitam itu dinamainya Bojel.”

Sebenarnya Isa cukup phobia dengan kucing hitam. Tapi tak apalah. Mungkin jika sering melihat, akan menjadi terbiasa.

“Ini ada sedikit uang untuk kebutuhan Rafa. Kalau kurang, saya bayar nanti sepulang kerja.” Isa menolaknya, tapi Sari tetap memaksa agar ia menerimanya.

“Bagaimana kalau malam ini kita makan malam dulu di luar?” Isa menawarkan.

“Aku capek. Dan harus bersiap-siap. Besok pagi aku harus sudah berangkat.

Akhirnya Rafa malam itu juga, ikut pulang ke rumah Isa. Meskipun dengan berat hati. Sementara Isa tidak menentu, antara senang dan bingung. Senang karena putri kecil yang selalu bertengger di dalam kepalanya akhirnya akan tinggal bersama. Bingung karena masih bertanya-tanya. Aneh.

Halimah tentu saja kaget ketika anaknya tiba-tiba membawa anak kecil pulang. Yang lebih membuatnya terperangah adalah dengan ikut sertanya kucing hitam itu.

“Bukannya kamu takut sama kucing hitam?” tanya Halimah keheranan.

“Sudah nggak lagi kok, Bu,” jawabnya setengah jujur. Sebenarnya ia sangat takut dengan kucing hitam. Tapi ia paksa untuk berani, karena tidak tahu akan sampai kapan ia terus bersama kucing hitam itu.

Rumah itu terdiri dari tiga kamar. Satu kamar ditempati Halimah. Satu kamar ditempati Isa. Sementara kamar satunya adalah gudang. Isa mempersilakan Rafa untuk tidak di kamarnya. Sementara ia tidur di ruang tamu beralaskan karpet.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *