Beranda Cerita Kisah Lelaki Langgar

Kisah Lelaki Langgar [ Lelaki Mushola ]

Lelaki Langgar

“Apakah boleh shalat dilanggar?” tanya Kiai Mastur.

“Tidak boleh …” Serempak anak-anak menjawab.

“Kenapa tidak boleh? Boleh.” Kiai Mastur menjawab pertanyaannya sendiri. “Shalat di rumah saja boleh, apalagi di Langgar.”

Anak-anak tertawa.

Humor semacam itu masih banyak terekam dalam ingatan Sajad. Ia bahkan telah merancang ulang humor-humor dari Kiai Mastur dengan versi yang lebih kocak, untuk kemudian diceritakan kepada santri-santrinya saat ia jadi guru ngaji.

Tapi cita-cita itu telah pupus di tengah jalan. Lawakan-lawakan segar itu hanya ia baca sendiri di dalam sepi, untuk menghibur dirinya sendiri. Langgar itu telah kosong.

Sebulan yang lalu, tidak begitu kosong. Ada dua lelaki sepuh yang mengisinya. Senja usianya sudah tidak memungkinkan lagi berjalan ke Masjid yang terlampau jauh. Tapi, dua manusia yang usianya sudah mendekati maghrib itu, kembali dirampas oleh pengurus Masjid, sebagaimana mereka merampas semuanya.

“Apakah boleh shalat di Langgar? Tentu saja boleh. Di rumah saja boleh, apalagi di Langgar.” Humor lucu itu terasa sangat garing, kering, membakar, dan melukai hati Sajad ketika diucapkan oleh panitia pembangunan saat peresmian Masjid. Orang-orang tertawa, tapi ia justru mengeluarkan air mata.

Yang lebih menyak itkan lagi adalah kalimat setelahnya. Panitia itu melanjutkan, “Itu adalah guyonan orang yang tidak tahu apa-apa tentang agama.

Kalimat ‘apalagi di Langgar’ mengindikasikan bahwa shalat di Langgar lebih baik daripada di rumah.

Ini syariat dari mana? Apakah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya pernah shalat di Langgar? Kalau orang pernah membaca Alquran dan Hadits, yang lebih baik itu di Masjid, karena di Masjid bisa dipakai untuk i’tikaf. Bukan di Langgar.”

Sajad tahu panitia pembangunan itu sedang menyindir guru ngaji yang sangat dicintainya. Sajad benar-benar jengkel, karena mereka hanya berani bicara demikian saat Kiai Mastur sudah meninggal.

Padahal, dari Kiai Mastur lah, dan di Langgar itulah, orang itu kenal Alif Ba’ Ta’.

Sajad ingin sekali memberontak, tapi siapalah ia yang ketika itu masih anak-anak, yatim pula. Menunggu dewasa, ia sudah tidak punya kekuatan. Tidak punya kawan kecuali kesepian.

Sejak ditinggal orangtuanya, Langgar itu adalah orangtua baru baginya. Tempatnya menemukan kasih sayang, tempatnya bercerita kisah hidupnya.

Kisah hidupnya pernah sangat manis. Lalu angin takdir mengubahnya bak kopi tanpa gula yang diseduh dengan air dingin. Bukan hanya membuat kembung, tapi juga berpotensi mempercepat kematian.

Manisnya hidup pernah dimilikinya saat ia masih bersama kedua orangtuanya. Lalu menjadi hambar ketika ayahnya pergi entah ke mana.

Kemudian menjadi begitu pahit tatkala ibunya meninggal dunia tidak lama setelah kepergian ayahnya. Pahit semakin pahit ketika Kiai Mastur, guru ngaji sekaligus sahabat dekatnya, juga meninggalkan dia untuk selama-lamanya.

Kopi pahit dingin itu tetap harus diseruputnya. Memang, ia akan mengantar pada kematian, tapi tidak meminumnya, kematian akan lebih cepat menghampirinya.

Kehidupan harus tetap dilanjutkan. Dan sebagai anak yang terdidik dalam lingkungan beragama, pantang baginya untuk bunuh diri dengan cara membiarkan dirinya mati dalam kelaparan. Bunuh diri adalah upaya terburuk dan paling terkutuk untuk menyudahi kesedihan.

Sajad bangkit dari keterpurukannya. Air mata yang menderas ia seka dengan sisa kekuatannya. Mencari apa yang bisa dicari. Meraih apa yang bisa diraih.

Pengalaman itu membuktikan pada dunia bahwa ia adalah lelaki yang setia. Asmara yang enyakitkan rupanya tetap ia rawat, dan tidak menikah hingga usianya yang tidak lagi muda. Bukan karena trauma. Bukan. Kesendiriannya murnia karena cinta.

Kisah itulah yang selalu Sajad ceritakan di Langgar, entah pada siapa. Dan terus menerus berharap, entah pada apa.

Tulis Komentar