Beranda Islami Zakat, Solusi Membangun Umat dan Memajukan Bangsa

Zakat, Solusi Membangun Umat dan Memajukan Bangsa

Zakat Sebagai Solusi Membangun Umat dan Memajukan Bangsa
Sumber foto: socorejo-jenu.desa.id

Allah menciptakan manusia beragam, ada yang kaya dan juga miskin. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan yang lain, untuk terjadi adanya kehidupan yang seimbang, yang kaya menolong yang miskin tanpa menyombongkan diri, yang miskin pun tidak berkecil hati, putus asa dalam menjalani hari-harinya, serta terus menerus menjemput rizki dengan cara bekerja.

Harta yang diberikan Allah untuk manusia selain sebagai amanah yang harus dijaga, kelak juga akan di mintai pertanggungan jawab bukan?.

Harta memilki fungsi untuk memunuhi kebutuhan pribadi, selain itu juga harta berfungsi sosial, dilihat dari sisi sosial, harta digunakan untuk membantu kepada yang membutuhkan.

Allah menciptakan sesuatu selalu berpasang-pasang, ada malam ada siang, ada panas dan juga dingin, adanya sisi perbedaan untuk menjadikan dalam kehidupan seimbang, sehingga terjalin hubungan yang tak terpisahkan.

Allah memandang manusia bukan dilihat seberapa dia kaya, melainkan dari sisi kepatuhan kepada tuhannya. Sebagai umat islam, kita harus mengikuti aturan yang telah Allah atur alam Al quran, salah satunya yaitu rukun islam yang ketiga (Zakat).

Penggunaan kata zakat dengan berbagai derivasinya didalam al-Qur’an terulang sebanyak 30 kali dan 27 kali di antaranya
digandengkan dengan kewajiban mendirikan salat.

Di samping pemakaian kata zakat dalam berbagai ayat itu, al-Qur’an juga menggunakan kata al-ṣadaqah (sedekah) dengan makna zakat, seperti dalam surat al-Taubah (9) ayat: 58, 60, dan 103.

Secara bahasa, zakat mempunyai beberapa arti, antara lain berarti kesucian, pujian, bertambah, tumbuh, perbaikan dan berkah atau keberkahan.

Mazhab syafii mendefinisikan zakat sebagai nama untuk sesuatu yang dikeluarkan dari harta dan badan dengan caran tertentu.

Harta zakat tidak boleh diberikan kepada sembarang orang, sebab ketentuannya telah ditetapkan dalam Al Quran sura al Taubah ayat 60:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kewajiban zakat terdapat dalam hadis yang dirwayatkan oleh bukhari dan muslim dari Abdullah bin umar Rasulullah bersabda “islam di tegakkan atas lima pilar, syahadat yang menegaskan tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa dibulan ramadhan dan menunaikan haji.(HR. Bukhari Muslim).

Zakat diwajibkan pada bulan Syawal tahun kedua hijriyah setelah diwajibkannya puasa Ramadhan dan zakat fitrah.

Zakat bukan semata dilakukan dalam rangka membangun hubungan dengan Tuhannya, melainkan juga sekaligus membangun hubungan harmonis dengan antar sesama manusia.

Perbedaan Zakat, Infaq dan Sedekah

Perlu di pahami bahwa zakat berbeda dengan infaq dan sedekah. Zakat adalah pemberian harta yang dilakukan orang islam dengan ketentuan tertentu, baik waktu maupun jumlahnya dan diberikan kepada golongan tertentu, barang siapa yang melakukannya akan mendapatkan pahala dan yang enggan mengeluarkan mendapatkan siksa.

Sedangkan sedekah dan infaq mempunyai arti yang sama yaitu ibadah dengan cara memberikan sesuatu yang dimiliki dijalan Allah, sedekah dan infaq tidak mempunyai ketentuan dan jumlah, waktu maupun penerima.

Sedekah lebih bersifat umum, sedangkan infaq, biasanya khusus menyangkut masalah uang atau materi, misalnya dengan senyum kepada saudara disebut dengan sedekah, sehingga ada ungkapan rasulullah bahwa senyum kepada saudara adalah sedekah, kurang tepat kalau senyum kepada saudara atau orang lain disebut infaq.

Faedah Mengeluarkan Zakat dari Sisi Agama

  • Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu rukun islam yang menghantarkan kepada kebahagiaan dan kemaslahatan dunia dan akhirat.
  • Zakat sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, menambah keimanan karena dengan melakukannya seseorang melakukan ketaatan.
  • Mendapatkan pahala yang besar,dan berlipat ganda.
  • Zakat merupakan sarana penghapus dosa

Faedah dari Sisi Akhlak

  • Menanamkan sifat mulia, rasa toleran, dan kelapangan dada kepada pribadi pembayar zakat.
  • Pembayar zakat identik dengan sifat belas kasih dan lemah lembut kepada orang yang tidak punya.
  • Pembayar zakat identik dengan sifat belas kasih dan lemah lembut kepada orang yang tidak punya.
  • Dalam zakat terdapat penyucian terhadap akhlak.

Faedah Segi Sosial Kemasyarakatan

  • Zakat sebagai sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat fakir miskin.
  • Memberikan Support kekuatan bagi orang lain dan mengangkatn eksistensi mereka.
  • Zakat mengacu pertumbuhan ekonomi
  • Pembayaran zakat berarti memperluas peredaran harta benda dan uang, karena ketika harta benda dan uang dibelanjakan, maka perputaran akan meluas dan banyak pihak yang mengambil manfaat.

Faedah dilihat dari Sisi Maqasid al Syariah

Di lihat dari sisi maqasid syariah (tujuan disyariatkannya suatu ajaran agama) bahwa zakat berfungsi memberi rasa aman kepada masyarakat fakir miskin dalam mengarungi hidupnya, contoh dalam akses kesehatan, pendidikan.

Dalam kondisi seperti ini mereka rentan untuk menjadi target misioaris pemurtadan.

Orang yang miskin cenderung lebih mudah goyah keimanannya, karena kehidupannya selalu dihadapkan masalah finansial, orang miskin dalam bergerak dibidang keilmuan pun akan sulit, mereka terbentur biaya yang menyebabkan putus sekolah.

Dalam menjaga jiwa, Zakat menjadi solusi dalam menjaga jiwa dari kehancuran.

Golongan Penerima Zakat

Dalam Al quran Surat Al taubah di sebutkan

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60).

Pada ayat diatas memaparkan pendayagunaan zakat pada delapan golongan yang berhak menerima zakat.

Dalam gramatikal bahasa Arab bahwa lafad Innama mempunyai fidah lilhasr (pembatasan), berarti zakat hanya di distribusikan kepada kelompok delapan tersebut.

Golongan yang berhak menerima zakat yaitu:

1. Fakir

Kata fakir (tunggal) atau fuqara (jamak) yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah salah satu golongan yang berhak menerima zakat. Faqir berasal dari kata faqr yang pada mulanya berarti tulang punggung.

Fakir di bahasakan sebagai orang yang patah tulang punggungnya, dalam arti bahwa beban yang dipikulnya sedemikian berat sehingga seakan akan mematahkan tulang punggungnya.

Secara umum definisi fakir adalah orang yang berpenghasilan kurang dari setengah kebutuhan pokoknya. Orang yang tergolong fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan tenaga serta fasilitas yang dapat digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pokok.

2. Miskin

Miskin aadalah orang yang memiliki setengah atau lebih dari kadar kebutuhannya. Misalnya seseorang yang membutuhkan uang sepuluh ribu, tetapi ia hanya memiliki tujuh ribu, maka orang tersebut tergolong miskin.

Secara umum orang miskin adalah orang yang mampu mendapatkan kebutuhan hidupnya dan dalam kekurangan.

Dari definisi ini diketahui bahwa miskin memiliki sumber penghasilan, hanya saja tetap mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.

Persamaan antara fakir dan miskin adalah tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, sementara perbedaan dari keduanya adalah bahwa orang fakir tidak punya penghasilan atau tidak mempunyai kemampuan bekerja, bisa juga memiliki penghasilan akan tetapi tidak sampai memenuhi separo dari kebutuhan pokoknya, sedangkan miskin mempunyai penghasilan dan kemampuan bekerja, akan tetapi penghasilannya tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya.

3. Amil

Amil adalah orang orang yang ditugaskan oleh pemerintah untuk mengumpulkan zakat dari orang orang yang wajib mengeluarkannya, dan mengalokasikan zakat kepada orang orang yang berhak menerimanya, menjaga baitul mal, serta tugas tugas lain yang berkaitan dengan zakat.

Maka mereka berhak diberi bagian zakat sesuai dengan pekerjaannya.

4. Mualaf

Muallaf adalah orang yang muslim yang diharapkan dengan pemberian zakat, iman dan islamnya menjadi kuat. Termasuk dalam hal ini adalah orang non muslim atau tokoh kaum mereka yang diharapkan keislamannya atau untuk mengantisipasi keburukannya.

5. Riqob

Riqob berasal dari kata rabbah yang mempunyai arti leher, budak/ hamba sahaya dikatakan Riqob dikarenakan bagaikan orang yang dipegang lehernya sehingga tidak mempunyai kebebasan berbuat.

Masalah Riqob ini meliputi memerdekakan hamba sahaya, dan membantu hamba sahaya yang telah mengadakan perjanjian dengan tuannya untuk menebus sejumlah uang sebagai tebusan atas dirinya (mukatab) termasuk pula untuk melepaskan tawanan kaum muslimin dari tangan musuh.

6. Gharim

Gharim adalah orang yang berhutang (bukan untuk maksiat) yang tidak dapat melunasi hutang hingga jatuh tempo pembayaran.

Hal ini dilakukan dengan syarat mereka tidak memiliki sesuatu yang memungkinkan mereka membebaskan dari hutang tersebut.

Orang-orang ini patut diberikan harta yang cukup untuk membebaskan mereka dari hutangnya, baik itu sedikit atau banyak.

Imam Maliki, Syafii dan Ahmad menyatakan bahwa orang yang mempunyai hutang berbagi kepada dua golongan, yaitu, pertama, kelompok orang yang mempunyai utang untuk kebaikan dan kemasalahatan diri dan keluarganya. Kedua, kelompok orang yang berutang untuk kemaslahatan orang atau pihak lain.

7. Fi Sabilillah

Secara bahasa kata fi sabilillah berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari tiga kata yang dirangkai menjadi satu ungkapan, yakni lafaz fi dalam istilah bahasa Arab merupakan huruf jar yang artinya “di dalam” sedangkan lafaz sabilillah terdiri dari dua kata Sabil dan Allah, dalam bahasa Arab sering disebut dengan istilah mudhaf dan mudhaf ilaih, Sabil makna aslinya adalah “at-Thariq” yang artinya “jalan, dalam kamus “al-Munjid” Sabilillah itu isim mufrad (kata tunggal),jama’nya ada beberapa bentuk yaitu: – سُبْلُ – سُبُلُ اَسْبُلْ – اَسْبِلَة – سُبُوْلَة Artinya jihad, menuntut ilmu, haji, dan apa saja yang diperintahkan Allah yang ada unsur kebaikannya.

Secara istilah, kata sabilillah adalah kalimat yang bersifat umum, mencakup segala amal yang menyampaikan seseorang pada ridho Allah Swt.

Dengan melaksanakan segala perbuatan wajib, sunat dan bermacam kebaikan.

Ibnu hajar berpandangan bahwa sabilillah adalah mereka para sukarelawan yang ikut berperang, yang tidak mendapat tunjangan tetap dari pmerintah, sedangkan Sayyid Sabiq mengemukakan bahwa fi sabilillah, ialah jalan yang menyampaikan kepada keridhaan Allah, baik berupa ilmu, maupun amal.

Sebagian besar ulama salaf dalam memaknai fî sabîlillâh lebih condong kepada konsep peperangan secara fisik.

Hal tersebut yang kemudian juga menjadikan ahli tafsir maupun ulama fiqh berbeda-beda dalam memaknai term fî sabîlillâh sebagai mustahiq zakat.

Kepada siapa sejatinya fî sabîlillâh ini ditujukan? Ulama salaf mayoritas memaknainya sebagai jihad fî sabîlillâh, yang kemudian mengerucut kepada mereka yang berjuang dalam arti fisik berperang dan orang yang kehabisan bekal untuk berhaji.

Jika ditilik dari latar kehidupan ulama salaf pada saat itu di mana Islam yang masih harus berperang dengan non Musim, dengan beragam persoalannya, pemaknaan fî sabîlillâh yang lebih condong kepada makna orang yang berjuang menegakkan Islam dengan mengangkat senjata mungkin cukup beralasan.

Meskipun juga tidak ketinggalan memberi gambaran adanya perjuangan yang dalam bentuk non fisik.

Sedangkan Ulama kontemporer, melihat bahwa berjuang di jalan Allah, untuk konteks saat ini tidak hanya cukup dengan mengangkat senjata.

Sebagai konsekuensi keberadaan konsep nation state yang sejatinya ‘melarang’ berperang, juga karena tantangan dan realita yang dihadapi Islam saat ini juga tidak hanya cukup dihadapi dengan mengangkat senjata.

Banyak aspek lain, seperti pendidikan dan kesehatan yang lebih perlu diperjuangkan untuk menghadapi realitas dunia yang sudah sangat kompleks dan mengglobal.

Ulama kontemporer mencoba memaknai terma fî sabîlillâh tidak hanya secara sempit, yakni jihad atau perjuangan dalam segi fisik laiknya perang melawan Non Muslim, sebagaimana umumnya pandangan ulama salaf.

Lebih dari itu,ulama kontemporer mencoba melihat keluasan terma fî sabîlillâh sebagai sebuah kemaslahatan, kemanfaatan, atau kebaikan umum.

Sehingga dengan demikian jihad atau perjuangan dalam konteks fî sabîlillâh bisa diarahkan juga untuk perjuangan non fisik, seperti beasiswa, pos kesehatan, perpustakaan, pengembangan pendidikan, dan hal lain yang berkaitan dengan kemaslahatan. Dimana itu semua masih dalam kerangka menegakkan agama Islam.

8. Ibnu sabil

Secara bahasa ibnu sabil terdiri dari dua kata, ibnu dan sabil yang berarti jalan. jadi ibnu sabil adalah anak jalan, maksudnya orang yang sedang dalam perjalanan bukan dengan tujuan maksiat, dalam istilah lain mussafir.

Setelah kita tahu bahwa zakat mempunyai manfaat besar, maka kita seharusnya sadar, harta yang dititipkan oleh Allah pada kita, ada hak orang lain yang kita harus penuhi, kalau hal ini disadari oleh semua kalangan yang mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan zakat, maka akan tercipta keamanan karena sebagian kejadian kriminal muncul karena faktor kemiskinan, akan tercipta keseimbangan sosial, selain itu akan ada dampak yang sangat signifikan, baik dari sisi kesehatan karena dibangunya sarana kesehatan, pendidikan, perekonomian dan lain-lain, sebagai contoh zakat yang telah terkumpul oleh salah satu Badan Amil Zakat sebut saja Badan Amil Zakat Nasional ( Baznas) kemudian di salurkan kepada anak anak yang secara finansiaal kurang mampu, tapi mempunyai semangat dalam mencari ilmu, maka dari generasi muda mudi ini akan menjadi Agen of Change yang membawa perubahan, baik dari skala kecil( individu, keluarga), maupun skala besar (Nusa bangsa).

Pengelolaan zakat adalah sebuah amanah yang sangat besar, dalam menyalurkan kepada yang berhak harus tepat sasaran, karena jika salah mengalokasikannya akan menjadi beban di dunia maupun akhirat.


Sumber Refrensi

Ahmad Mifdlol Muthohar, Potret Pelaksanaan Zakat di Indonesia Studi Kasus di Kawasan Jalur Joglosemar,2006, LP2M Press-IAIN SALATIGA.

Direktoral jenderal Bimbingan Masyarakat islam ,Direktorat Pemberdayaan Zakat, Zakat community Developmen Model Pengembangan Zakat, 2013. Jakarta Pusat : CV. SINERGY MULTISARANA.

Direktorat pemberdayaan Zakat, Membangun Perspektif Pengelolaan Zakat Nasional, 2003, Cileduk Tangerang: CV.Sejahtera Kita.

Dr. Wahbah Zuhaili,Fiqh Islam Wa Adillatuhu.Darl Fikr.

Dr.H.Moh, Toriquddin,Lc,M.HI, Pengelolaan Zakat Produktif Prekspektif Maqasid Al –Syari’ah Ibn Asyur, 2014,UIN Malik Pres.

Dr.M.Nasri Hamang Najed.SH.M.Ag. Ekonomi Zakat,2015,LbH Pres STAIN Prepare.

Hasan Bin Ahmad Al Kaf,Al Taqrirat Al Sadidah,2006.,Surabaya.: Darul Ulum

Jamalia Idrus,Makna Fi Sabilillah dalam Al Quran , Suatu kajian Tafsir Maudui.
Jurnal BIMAS ISLAM Vol.8 no.4 ,2015.

M. Manan Abdul basith,Pergeseran Konsep Sabilillah Sebagai mustahik zakat Mal Dari Fikih Klasik Ke Fikih Kontemporer.

M. Sarwat Lc,Fiqh Al Hayat Seri Kehidupan,2011, Jakarta Selatan :DU Publishing.

Pusat Kajian Setrategis Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Zakat Untuk kemandirian Ummat Melalui Pemberdayaan Masyarakat,2017,Divisi Publikasi dan jaringan PUSKAS BAZNAS.

8 KOMENTAR

  1. Zakat untuk membersihkan, bagi pelakunya sejuta kebaikan.
    Ini sangat penting disosialisasikan dengan cara membuka cara pandang ke masyarakat dengan strategi literasi zakat

Tulis Komentar