Beranda Pendidikan Makalah Tasawuf dan Dasar Quraninya

Makalah Tasawuf dan Dasar Quraninya

Makalah Tasawuf-min
Menurut Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani (peneliti tasawuf) menurutnya, secara umum, tasawuf mempunyai lima ciri umum yaitu:

1. Memiliki moral.
2. Pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak.
3. Pengetahuan intuitif langsung.
4. Timbulnya rasa kebahagiaan sabagai karunia Allah SWT. Dalam diri seorang sufi karena tercapainya maqamat.

5. Penggunaan simbol-simbol pengungkapan yang biasanya mengandung pengertian harfiah dan tersirat.

Dasar- dasar Tasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadis

Landasan Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan kerangka acuan pokok yang selalu di pegan umat Islam. Kita sering mendengar pernyataan dalam kerangka landasan naqli ini, “apa dasar Al-Qur’an Al-Hadis anda berkata demikian atau bagaimana Al-Qur’an dan Al-Hadisnya?” pernyataan ini sering terlontar dalam benak pikiran kaum muslim ketika hendak menerima atau menemukan persoalan-persoalan baru atau persoalan-persoalan unik yang mereka temui, termasuk persoalan-persoalan tasawuf.

Landasan Al-Quran

Al-Qur’an dan As-Sunah adalah nash. Setiap muslim kapan dan dimanapun dibebani tanggung jawab untuk memenuhi dan melaksanakan kandungannya dalam bentuk amalan yang nyata. Jika memiliki pemahaman terhadap nash, tetapi tidak mengamalkannya akan mengalami kesenjangan.

Dalam hal inilah, tasawuf pada awal pembentukannya adalah akhlaq atau keagamaan, dan moral keagamaan ini diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah jelaslah bahwa sumber pertamanya adalah ajaran-ajaran Islam, sebab tasawuf ditimba dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan amalan-amalan serta ucapan para sahabat.

Amalan serta ucapan para sahabat itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan begitu, justru dua sumber utama Tasawuf adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Secara umum, ajaran islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah pada gilirannya melahirkan tasawuf.

Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran islam, Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta praktik kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Dan para sahabatnya. Al-Qur’an antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dapat saling mencintai dengan Tuhan. Hal ini misalnya difiramankan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِياللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَىالْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Maidah(5): 54)

Silahkan download makalahnya dibawah ini:

Download

Pasword: fathnan.id


Tulis Komentar