Mbahku, Sosok Perempuan Tangguh

  • Whatsapp
Mbahe

Mbahku adalah sosok perempuan yang tangguh. Iya, perempuan yang tangguh. Kali ini saya akan bercerita lewat bait-bait paragraf yang mungkin kelak bisa jadi cerita kenangan, kenangan yang terukir menjadi sebuah tulisan.

Baik, saya akan memulainya.

Sebutan mbah jika di Tuban Jawa Timur bisa digunakan untuk kakek maupun nenek, saya tidak tahu jika di daerah yang lain. Yang jelas, saya memanggil nenekku dengan sebutan ‘Mbah’ kadang juga ‘Mbok’.

Mbahku adalah anak ke tiga dari delapan bersaudara, dari kecil hidupnya tak pernah enak-enak. Bahkan, ketika mau makan saja ia harus mencari kayu bakar dulu di hutan.

Hingga dewasa, kemudian ia menikah dengan pria yang dicintainya. Kemudian ia dikaruniahi lima anak, empat anak laki-laki dan yang satu perempuan.

Tetapi, dari kelima anaknya tersebut yang masih bertahan hidup hingga saat ini hanya dua anak. Yaitu ibu saya dengan adik laki-lakinya.

Bukan karena mbahku tidak bisa memberikan makan kepada anak-anaknya sehingga satu per-satu anaknya meninggal dunia. Hanya dua anak yang masih bertahan. Tapi, karena tanah yang ditempati rumah mbahku adalah tanah yang sangat keramat. Orang terdahulu menyebutnya dengan tanah tumbal.

Sampai saat ini pun, tidak ada yang berani menempati tanah tersebut.

Karena mbahku tidak ingin kehilangan anaknya lagi, ia harus secepatnya berpindah tempat dari tanah keramat tersebut untuk menyelamatkan nyawa anaknya.

Dan, Alhamdulillah,, kedua anaknya bisa terselamatkan meskipun waktu itu, ibu saya sudah sekarat. Tetapi, ia berhasil membesarkan kedua anaknya hingga dewasa setelah pindah dari tanah keramat tersebut. Kemudian ibu saya menikah. Maka lahirlah saya kedunia.

Saya jadi teringat. Mungkin, waktu itu saya masih berumur tiga tahunan, Mbah laki-laki saya meninggal dunia, saya memanggilnya dengan sebutan ‘Mbah kung’. Ingatan saya masih tajam di umur tiga tahun. Saya melihat dengan jelas saat mbah kung dimandikan dan kemudian di makamkan.

Di usia yang tidak lagi muda, setelah mbah kung telah tiada, mbahku mencari nafkah untuk dirinya sendiri dengan berjualan di pasar, kadang juga jualan keliling di kampung.

Waktu itu, aku masih SD kelas 1, aku sering ikut mbahku saat jualan keliling. Meskipun aku hanya bermain-main di sawah. Tetapi aku bahagia, sampai pernah saat aku bermain di sawah, burung kesayanganku disupit yuyu, tentu saja aku nangis terpingkal-pingkal.

Saat ini, mbahku sudah tua, terserang penyakit liver. Kaki dan perutnya mulai membengkak, Aku berharap, Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang mengangkat penyakitnya, memberinya kesempatan sedikit untuk melihat cucunya ini bahagia saat menikah. Karena dulu, ia pernah berjanji kepada saya, akan menemani saya saat saya menikah nanti.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *