Beranda Cerita Mbahku, Sosok Perempuan Tangguh

Mbahku, Sosok Perempuan Tangguh

Mbahe

Mbahku Adalah Sosok Perempuan Tangguh

Kali ini saya akan bercerita lewat bait-bait paragraf yang mungkin kelak bisa jadi cerita kenangan, kenangan yang terukir menjadi sebuah tulisan.

Baik, saya akan memulainya.

Sebutan mbah jika di Tuban Jawa Timur bisa digunakan untuk kakek maupun nenek, saya tidak tahu jika di daerah lain. Yang jelas, saya memanggil nenekku dengan sebutan “Mbah” kadang juga “Mbok.”

Mbahku adalah anak ke tiga dari delapan bersaudara. Dari kecil, hidupnya tak pernah enak. Bahkan, ketika mau makan saja ia harus mencari kayu bakar dulu di hutan pegunungan.

Hingga dewasa, kemudian ia menikah dengan pria yang dicintainya. Kemudian ia dikaruniahi lima anak, empat anak laki-laki, satu perempuan.

Tetapi, dari kelima anaknya tersebut yang masih bertahan hidup hingga saat ini hanya dua anak. Yaitu ibu saya dengan adik laki-lakinya.

Bukan karena mbahku tidak bisa memberikan makan kepada anak-anaknya sehingga satu per-satu anaknya meninggal. Hanya dua yang bertahan.

Meninggalnya anak-anak mbahku karena tanah yang ditempati itu adalah tanah yang sangat keramat. Orang terdahulu menyebutnya dengan tanah tumbal.

Sampai saat ini, tidak ada yang berani menempati tanah tersebut.

Karena mbahku tidak ingin kehilangan anaknya lagi, ia harus secepatnya berpindah tempat dari tanah keramat itu untuk menyelamatkan nyawa kedua anaknya.

Alhamdulillah, kedua anaknya bisa terselamatkan meskipun saat itu, ibu saya sudah sekarat. Tetapi, ia berhasil membesarkan kedua anaknya hingga dewasa setelah pindah dari tanah keramat tersebut. Kemudian ibu saya menikah. Maka lahirlah saya kedunia.

Saya jadi teringat. Mungkin, waktu itu saya masih berumur tiga tahunan, Mbah laki-laki saya meninggal dunia, saya memanggilnya dengan sebutan “Mbah kung.” Ingatan saya masih tajam di umur tiga tahun. Saya melihat dengan jelas saat mbah kung dimandikan dan kemudian dimakamkan.

Di usia yang tidak lagi muda, setelah mbah kung telah tiada, mbahku mencari nafkah untuk dirinya sendiri dengan berjualan di pasar, kadang juga jualan keliling di kampung.

Waktu itu, aku masih SD kelas 1, aku sering ikut mbahku saat jualan keliling. Meskipun aku hanya bermain-main di sawah. Tetapi aku bahagia, sampai pernah saat aku bermain di sawah, burung kesayanganku disupit yuyu, tentu saja aku nangis terpingkal-pingkal.

Saat ini, mbahku sudah tua, terserang penyakit liver ganas, kaki dan perutnya membengkak, Aku berharap, Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang mengangkat penyakitnya, memberinya kesempatan sedikit untuk melihat cucunya ini bahagia saat menikah. Karena dulu, ia pernah berjanji kepada saya, akan menemani saya saat saya menikah nanti.

Ternyata Tuhan berkehendak lain. Mbahku dipanggil Tuhan pada jumat legi. Selamat jalan, Mbah. Semoga lapang kuburanmu.

Tulis Komentar