Memilih Pemimpin Non Muslim, Why Not? Why Yes?

  • Whatsapp

Kira-kira sejak tahun 2012, lalu semakin lama semakin hangat, semakin lama lagi semakin panas, media Indonesia disibukkan dengan pemberitaan seorang warga berketurunan Tionghoa. Beliau adalah Basuki Tjahaya Purnama, atau yang populer dengan Ahok.

Dosa utama Ahok adalah kekafirannya, namun ia memiliki prestasi yang begitu fantastis: berhasil mencetak jutaan mufti di Indonesia.

Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia terus-menerus melahirkan mufti-mufti dari beragam kalangan.

Mulai dari yang benar-benar paham kitab kuning, yang sedikit paham, sampai yang paham kuningnya doang, kitabnya enggak.

Mulai dari kalangan yang belajarnya dari guru betulan, belajarnya dari kitab, belajarnya dari rasan-rasan, belajarnya dari internet, sampai yang belajarnya hanya dari Facebook, Twitter, WatsApp, dan seterusnya.

Mulai dari yang beneran kiai, sampai yang masih anak bayi, yang gek lahir mabengi jam siji.

Semuanya, berkat Ahok, telah menjadi mufti. Hanya saja, mereka belum dilantik secara resmi seperti MUI, yang sebenarnya tugasnya juga cuma memberi label “halal” pada produk makanan dan yang bukan makanan.

Lumayan, hasil dari satu stempel “halal”, bisa untuk mempertahankan asap dapur mereka selama beberapa abad.

Fatwa yang paling populer saat ini adalah: Memilih Ahok sebagai pemimpin, berarti meninggalkan ajaran Alquran.

Benarkah demikian?

Umat Islam meyakini bahwa Alquran adalah satu-satunya kitab suci yang saat ini belum ada perubahan sama sekali. Masih sama seperti yang pertama kali turun. Benar-benar firman Tuhan.

Mari kita tidak terlalu berfokus tentang hukum memilih pemimpin kafir. Saya ingin mengajak Anda untuk melobangi gedek para mufassir dan mengintip perkembangan-perkembangannya.

Ketika ilmuwan mengungkap teori bahwa bumi itu datar, para mufassir mengatakan kalau Alquran juga mengkonfirmasi hal itu. Misalnya dalam firman:

Dia lah Yang menjadikan bumi datar bagimu. [QS. Albaqarah 2: 22]

Saat teori bumi datar terbantahkan oleh teori bumi itu bulat, dan rupanya teori tersebut yang dianggap lebih benar, para mufassir pun menafsir ulang ayat-ayat tersebut.

Karena tidak mungkin Alquran salah. Misalnya: Allah menjadikan bumi ini nyaman, meski ia bulat, tapi Dia menjadikannya seolah-olah datar, sehingga ke mana saja manusia melangkah, sejauh apapun, tidak nggeblak atau kedlungup karena bulatnya.

Kemudian untuk mengkonfirmasi kebenaran Alquran perihal kebenaran bumi itu bulat, dijadikanlah dalil, di antaranya:

Dia mengubengkan siang atas malam dan mengubengkan malam atas siang. [QS. Shad 39: 5]

Kata “Yukawwir/Mengubengkan” menunjukkan bahwa bumi itu bulat.

Alquran juga menyebut bahwa matahari itu terbit dan tenggelam. Padahal matahari tidak pernah terbit dan tenggelam. Ini ditafsirkan:

Dalam pandangan manusia, seakan-akan matahari itu terbit dan tenggelam. Dan, dalam bahasa apapun, terbit dan tenggelamnya matahari itu selalu digunakan. Meskipun mereka tahu, matahari tidak pernah terbit dan tenggelam.

Alquran pun, dalam ayat lain mengatakan di antaranya:

Matahari berjalan sesuai peredarannya. [QS. Yasin 36: 38]

Dulu, para mufassir mengartikan kata Dzarrah yang beberapa kali disebut dalam Alquran dengan biji sawi atau semut pudak. Ketika ditemukan atom, benda yang dianggap paling kecil, para mufassir mengartikan “Dzarrah” dengan “Atom”.

Ketika ditemukan yang lebih kecil lagi, ada yang mengartikan demikian, ada yang membiarkan saja pada makna atom, bahkan membiarkan pada makna biji sawi atau semut pudak.

Lalu mengatakan bahwa Alquran bukan menghendaki kata “dzarrah” sebagai benda yang terkecil. Karena ada ayat yang mengatakan:

Tidaklah Anda berada dalam suatu keadaan, tidak juga ketika Anda membaca suatu ayat dari Alquran, tidak juga ketika Anda mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu kendati hanya sebesar biji Dzarrah, di bumi ataupun di langit.

Tidak juga yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu (yakni dari biji Dzarrah), melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). [QS. Yunus 10: 61]

Ketika Rasulullah saw. menerima wahyu pertama, diulang-ulanglah perintah membaca. Iqra’ Iqro’ Iqra’ Iqro’ dan Jibril tidak menyebut obyek yang dibaca itu apa. Yang penting dengan Bismirabbika.

Ini menunjukkan bahwa bukan saja kecakapan membaca tidak akan diperoleh dengan sekali baca, tapi juga agar si pembaca memiliki wawasan baru, meski yang dibaca iku-iku tok.

Ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Alquran maupun yang terbentang di alam raya, jika kita mau meng-Iqra’-nya. Mengorek-ngoreknya. Menelitinya. Mendalaminya. Mencaritahu ciri-cirinya. Membaca alamya. Membaca sejarahnya.

Dan lain sebagainya. Jika kita mau meng-Iqra’-nya, atas nama Tuhan kita Yang Maha Pencipta, kita akan menemukan penafsiran-penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa dan kesejahteraan batin.

Baiklah. Saya pikir kita terlalu jauh. Mari kembali ke permasalahan Ahok lagi.

Ayat yang dijadikan dalil dilarangnya memilih beliau adalah antara lain surah al-Maidah 51, yang juga pernah dan entah sampai kapan menjadi ‚hidangan hot‛ penduduk Indonesia, khususnya wilaya media sosial, itu pun karena pernah terucap oleh Ahok, yang kemudian menjadi perdebatan baru soal nista-menista. Tapi kita tidak akan membahas hal itu di sini.

Ayat tersebut adalah:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi Awliyā’. Sebahagian mereka adalah Awliyā’ bagi sebahagian yang lain.

Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [QS. Al-Maidah 5: 51]

Kata kunci dari ayat tersebut adalah kata Awliyā’. Ialah yang kemudian menimbulkan sekurang-kurangnya dua pendapat, yaitu boleh atau tidak memilih Ahok menjadi gubernur.

Kata Awliyā’ adalah bentuk plural dari kata wali. Ia bisa berarti pemimpin, kekasih, teman biasa, teman dekat, teman tapi mesrah, wakil, kordinator, orang yang mengambilkan rapot sekolah anaknya, dan banyak lagi.

Jika kita memilih mengartikan ia sebagai pemimpin, maka, memilih Ahok itu tidak boleh. Makna inilah yang beredar di terjemahan-terjemahan Alquran bahasa Indonesia. Tapi pendapat tidak hanya satu.

Dan kesalahan paling fatal adalah menganggap bahwa terjemahan Alquran adalah Alquran, sehingga ketika ada yang memaknai kata Awliyā’ dengan makna yang lain, dianggap mengubah Alquran.

Padahal ada yang menafsirkan lain. Misalnya “teman dekat”, yang saking dekatnya, sampai tidak ada rahasia di antara keduanya. Jika tafsir ini yang dipilih, maka boleh-boleh saja memilih Ahok. Demikian seterusnya.

Ini baru soal kosakata. Belum jika kita melangkah lebih jauh tentang latar belakang turunnya ayat (Asbāb an-Nuzūl).

Di antaranya, ayat tersebut turun dalam konteks perang. Haram hukumnya berteman dekat dengan orang kafir. Karena jika sampai strategi pasukan Islam bocor pada mereka, bisa mengancam banyak nyawa kaum Muslimin.

Ini hanya persoalan “Furū'”. Bukan tentang keimanan. Jadi tidak perlu terlampau geger gendroyono. Kecuali jika ada pemilihan tuhan atau nabi baru. Itu baru bahaya.

Dalam ayat-ayat Fikih, kita menemukan banyak sekali perbedaan pendapat, bahkan dari sesama Ahlussunnah.

Kita ambil contoh tentang “Perempuan-perempuan yang Diceraikan”. Imam Syafii berpendapat kata Quru’ dalam Tsalātsata Qurū’ bermakna suci.

Sedangkan Imam Hanafi berpendapat bahwa Qurū’ bermakna menstruasi. Namun demikian, Imam Syafii tidak pernah mengatakan Imam Hanafi menentang Alquran, demikian pula sebaliknya.

Alquran memang tuntunan bagi umat manusia. Namun demikian, di dalamnya juga terdapat ayat-ayat Muhkamat /Jelas maknanya, dan ayat-ayat Mutasyabihat /Nggrambyang maknanya.

Tidak ada yang tahu ta’wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang diberikan-Nya ilmu.

Alquran adalah kalam Tuhan yang tidak mungkin salah. Jika Alquran salah. Maka bukan Alqurannya yang salah, tapi pemahaman manusianya yang salah.

Betapapun, tafsir hanyalah pendapat. Tidak ada yang kebenarannya mutlak. Karena selamanya, manusia tidak akan pernah tahu apa yang ada dalam “otak” Tuhan dan yang “dipikirkan-Nya”.

Demikian, Wa Allāhu A’lam. []

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *