Beranda Informasi Menarik Memperkaya Google dengan Informasi Non Hoax 8 Tips Cerdas Menghindari Berita...

Memperkaya Google dengan Informasi Non Hoax 8 Tips Cerdas Menghindari Berita Hoax

Hoaxs

Perkembangan teknologi komunikasi memudahkan seseorang untuk mencari dan mempublish sebuah informasi. Berkat perkembangan ini, banyak media pemberitaan yang menjamur. Ada yang merupakan perpanjangan dari media cetak, dan ada yang tidak mempunyai versi cetak (media Online) dan yang terakhir ini jumlahnya lebih banyak. Tentu, hal ini akan memudahkan kita dalam memperkaya wawasan, jika media yang ada semuanya menyajikan informasi yang valid.

Permasalahannya, tidak semua media mempunyai kredibilitas. Banyak media online yang menyajikan informasi hoax.

Miskinnya pemikiran kritis yang memang tidak pernah diajarkan kepada kita. Sistem pendidikan kita tidak mengajarkan kita untuk mempertanyakan informasi, tetapi hanya menelannya mentah-mentah.

Seni berpikir kritis adalah seni mempertanyakan semua hal yang kita terima dari lingkungan sosial kita, mengkajinya dengan akal sehat, lalu memutuskan, apakah informasi ini bisa dipercaya, atau tidak.

Miskinnya berpikir kritis ini ditambah dengan gemarnya orang Indonesia akan hal-hal heboh yang dangkal, terkadang yang tidak masuk akal bisa menjadi viral.

Lantas Mengapa Masih Banyak Penyebar Berita Hoax

Itu semua tidak bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan pengonsumsi. Karena, dibalik adanya informasi Hoax ada blogger/penulis/penyebar hoax sebagi perantara di internet.

Untuk itu, blogger harus tahu! perkayalah Google dengan Informasi yang bermanfaat. Bukan menyebarkan Hoax.

Hanya karena mengejar kata kunci tertentu, menargetkan kata kunci tertentu, lantas menyalahi aturan dengan menyebarkan Informasi-informasi yang tidak valid, tidak jelas kebenaranya.

Kalau memang hanya menargetkan kata kunci itu berarti anda menulis untuk Google, Bukan untuk manusia.

Dan untuk pengonsumsi berita, Mari bersikap cerdas dalam menyaring berita. Tidak menelan mentah sebuah berita. Apalagi, anda menjadi pelakunya. Jangan sampai anda menjadi salah satu pelaku yang terlibat dalam sebuah berita HOAX, coba anda kenali keterangan dibawah ini, agar nantinya anda bisa menjadi orang yang memerangi HOAX.

1. Hanya Membaca Judul tanpa Membaca isi Keseluruhan dari Suatu Kabar.

Mungkin kamu sering melihat judul-judul pemberitaan atau posting yang menggelitikmu dan bahkan membuatmu geram. Namun, walau bagaimana pun judul gak bisa menceritakan isi sepenuhnya.

Kamu masih perlu membaca keseluruhan isinya sebelum menyimpulkan dan bertindak. Seperti halnya kita gak bisa menyimpulkan bahwa bayi menangis pasti haus atau lapar, kita harus cari tahu benar-benar kenapa bayi itu menangis.

2. Hanya Percaya Pada Sumber tertentu dan terlalu “mengagungkan” Sumber Tersebut.

Siapapun orangnya atau pihak mana pun pasti gak akan luput dari kekhilafan. Ketika kita terlalu mengagungkan seseorang atau suatu pihak, kita akan melepaskan logika atas kebenaran.

Sehingga apapun yang keluar darinya akan selalu kita telan mentah-mentah. Selalu lah belajar mencari tahu kebenaran informasi.

Selain agar gak salah menyimpulkan dan mengajarkan hal yang keliru ke orang lain ataupun generasi selanjutnya, hitung-hitung sekalian belajar menambah ilmu.

3. Gak Mempercayai Sumber lain Yang dianggap Berbeda golongan atau dianggap gak Sependapat.

Kebenaran bisa datang melalui siapapun. Sebagai umat beragama di Indonesia, kita pasti memahami bahwa kebenaran itu datangnya dari Tuhan YME. Sehingga kebenaran lah yang harus kita cari, bukan pihak atau orang tertentu.

Dalam keraguan yang mengganggu ketenangan, kita perlu mencari tahu segala sesuatu secara detail hingga kita merasa yakin dan bisa mengambil kesimpulan.

4. Sebagian besar orang Indonesia masih gak bisa membedakan antara satir dengan hoax.

Satir merupakan bentuk sindiran terhadap keadaan atau seseorang. Biasanya satir disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme atau parodi.

Sayangnya kebanyakan orang Indonesia belum bisa membedakan hal tersebut dengan hoax. Perbanyak membaca informasi bahkan di luar bidangmu untuk memperkaya pengetahuan dan pemikiran. Selipkan sesekali membaca humor bahkan humor receh atau humor yang membutuhkan berpikir, untuk berlatih membedakan antara hoax dengan satir.

5. Ketika ada kabar yang mewakili perasaan saat itu, mayoritas orang Indonesia akan langsung membagikannya.

Secara psikologis, orang yang selalu ingin belajar akan mencari kebenaran informasi, bukan pembenaran dari pemikiran pribadi.

Ketika ada kesalahan dari yang dipahami, ia akan mengakuinya dan belajar dari itu. Sedangkan orang yang kesulitan dalam introspeksi akan terus mencari pembelaan dan pembenaran sebanyak-banyaknya, tanpa menggali lebih dalam apakah yang ia pikirkan memang sepenuhnya benar.

6. Kebanyakan orang Indonesia membenarkan suatu kabar berdasarkan tingkat keseringan mereka melihat kabar itu “lewat” di linimasa media sosial.

Wah, hampir semua orang share berita ini nih! Bahkan teman-temanku juga! Jadi, orang-orang terdekatku harus segera tahu juga tentang ini! Itulah yang sering menjadi pikiran kebanyakan netizen gak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia. Tingkat keseringan berita tersebut terlihat, membuat dirasa gak perlu mencari tahu lagi kebenaran sesungguhnya.

7. Kebanyakan orang Indonesia merasa enggan untuk mencari kebenaran berita dan melakukan verifikasi ulang, beberapa bahkan gak tahu caranya.

Mayoritas orang akan bertindak sesuai apa yang diinginkan oleh berita yang membuat mereka tergugah. Baik itu karena malas dalam mencari tahu lebih jauh ataupun karena gak mengerti cara verifikasi kebenarannya.

Misalnya untuk gambar, apakah kamu yakin 100 persen bahwa itu adalah dokumentasi dari kejadian yang diceritakan? Coba kamu drag dan drop gambar tersebut ke mesin pencarian Google, dan temukan pihak yang mengunggah gambar tersebut paling pertama. Bisa jadi itu adalah gambar dari bertahun-tahun lalu atau isu yang sudah tuntas.

8. Sebuah ajakan semacam “share = berpahala”, “like = amin” atau “komentar = membantu” sudah cukup membuat banyak orang Indonesia percaya dengan berita yang disebarkan.

Hanya dengan sentilan perasaan mendapatkan “imbalan” baik secara moral maupun spiritual, cukup mendorong banyak orang bertindak cepat dalam memproses informasi tanpa mencari tahu kebenarannya. Perlu diingat bahwa tindakan nyata lebih memberi dampak daripada sekedar “like”. Mulai dari yang terdekat dan yang terkecil di sekitarmu.

Maka dari itu anda perlu hati-hati dalam menerima ataupun membagikan sebuah informasi, karena UU ITE dengan revisi aturannya sudah mulai diberlakukan. Maka daripada salah berkata, keliru posting ataupun terlalu cepat bertindak, gak ada salahnya selalu menggali suatu kebenaran informasi lebih dulu. Cermatlah dalam setiap hal, dan semoga bermanfaat.

Tulis Komentar