Home Islami Mengenal Miskin Dan Kaya Dalam Islam

Mengenal Miskin Dan Kaya Dalam Islam

miskin dan kaya

Dalam bahasa Indonesia, miskin adalah orang yang tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Sedangkan dalam bahasa Arab, kata miskin terambil dari Sakana yang bermakna diam atau tenang.

Itulah kenapa Rasulullah saw. senantiasa berdoa, “Hidupkan saya dalam keadaan miskin, wafatkan saya dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah saya bersama kumpulan orang-orang miskin.” Karena memang biasanya orang miskin hidupnya lebih tenang, karena tidak terlalu banyak yang dikhawatirkan.

Jika kita perhatikan, rata-rata orang yang rumahnya dipagari, pasti rumah milik orang kaya. Itu pun terkadang masih ditambah dengan satpam, baik satpam berwujud manusia, atau berwujud hewan seperti anjing atau angsa.

Walau demikian, ada juga orang miskin yang tidak tenang. Yaitu kemiskinan yang disertai kefakiran. Meskipun mereka telah bergelimang harta, selalu saja masih merasa kurang.

Dan ini banyak sekali berserakan di sekeliling kita, hingga sering tidak disadari uang negara habis tanpa ada pencurinya, dan ternyata mereka lah yang mengambil, untuk menutupi kefakirannya.

Sedangkan kaya adalah orang yang memiliki banyak harta. Namun sebenarnya tidak ada standar pasti orang kaya itu seperti apa.

Apakah mewahnya rumah, luasnya tanah, banyaknya kendaraan, cantiknya pasangan? Tidak ada ukuran pastinya.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa tidak sedikit orang yang sudah memiliki begitu banyak harta, tetapi merasa masih tidak punya apa-apa.

Jika ukuran miskin dan kaya adalah harta, maka Islam sama sekali tidak mensyariatkan penganutnya untuk miskin, demikian juga kaya.

Sahabat-sahabat Rasulullah pun tidak sedikit yang memiliki gelimang harta, dan juga banyak sekali yang begitu serba kekurangan, bukan hanya soal makanan, bahkan ada yang satu keluarga hanya memiliki satu pakaian, yang jika satu memakainya untuk sembahyang, yang lain harus telanjang mengantri giliran.

Jika ukuran miskin dan kaya adalah hati, maka Islam sangat mewajibkan penganutnya untuk kaya. Al-Ganiy, Yang Mahakaya, adalah salah satu nama Allah dari Asmaul Husna-Nya yang harus diteladani hamba-Nya, yakni dengan tidak terlalu banyak membutuhkan kepada selain-Nya.

Islam tidak mensyariatkan miskin dan kaya dalam hal harta, karena betapapun kuatnya hukum alam, tetap tidak bisa mengubah nasib yang digariskan Tuhan.

Bukankah kita seringkali menyaksikan dua orang yang sama-sama rajin bekerja, tetapi penghasilannya jauh berbeda.

Bahkan ada yang terlihat begitu santai, tetapi harta gemar sekali bersamanya, dan ada yang terlihat begitu keras kerjanya, tetapi harta jangankan untuk menghampiri, melirik pun ia tak sudi.

Banyak ayat dari Alquran yang menyinggung permasalahan ini, antara lain adalah:

Tidak ada makhluk yang bergerak di bumi ini kecuali Allah telah menyediakan rezekinya. [QS. Hud 11: 6]

Ada yang memahami ayat ini dengan menyatakan bahwa untuk mendapatkan rezeki yang disediakan Allah, seseorang harus bergerak, yakni bekerja, sebagaimana yang dipahami dari lafadz Dābbah.

Baris dua kasrah pada lafadz Dābbat(in) dalam ayat tersebut mengisyaratkan bahwa semakin giat seseorang bekerja, semakin banyak yang akan diraihnya.

Pendapat tersebut sangat benar, karena sesuai dengan kaidah hukum alam. Hanya saja, sekali lagi, banyak sekali dalam hidup ini, khususnya persoalan rezeki, yang keluar dari hukum alam, yang memiliki porsi yang sama, bahkan lebih.

Maka tidak salah pula pendapat yang mengatakan bahwa Allah telah menyediakan rezeki dan memberikannya pada siapa saja yang bernyawa, bekerja maupun tidak. Jika pun ada beberapa orang yang mati kelaparan, itu memang sudah habis jatah umurnya.

Bukankah banyak juga orang yang mati karena terlalu banyak makan? Dan ini jumlahnya lebih banyak.

Dikisahkan, pada suatu pagi, Ibrahim bin Adham hendak bersarapan roti. Roti yang sudah ada di hadapannya itu tiba-tiba diambil oleh seekor burung.

Ibrahim mengikuti ke mana arah burung itu pergi. Burung itu masuk ke dalam hutan. Dan Ibrahim benar-benar terkejut ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, ternyata roti yang digondol burung itu, disuapkan pada seorang pria telanjang yang diikat pada sebuah pohon.

Pria itu bercerita bahwa dia dulunya adalah seorang hartawan, kemudian dirampok dan diikat di tengah-tengah hutan.

Namun, setiap hari selalu ada burung yang menyuapinya makanan dan minuman untuk dia bertahan hidup.

Kisah lain mengungkapkan, az-Zahid, seorang penempuh jalan menuju Allah, ingin mengetahui sendiri bagaimana Allah memberi rezeki pada makhluk-Nya.

Ia bersembunyi di dalam gua yang terletak di tengah-tengah gurun sahara. Kelaparan telah melandanya, namun ia tetap bertahan untuk memperoleh jawaban dari yang ia penasarankan.

Kemudian datanglah rombongan musafir yang beristirahat di dalam gua tersebut. Mereka menyaksikan betapa nelangsanya orang yang duduk meringkuk di sebuah sudut gua dalam keadaan payah itu.

Musafir tersebut menawarinya makanan, tetapi az-Zahid diam tidak menghiraukan. Mereka menyangka orang yang ditemuinya sudah terlampau lapar sehingga ia tidak dapat berbicara.

Mereka memberikannya minuman, Az-Zahid tetap tidak bersedia membuka mulut. Hingga akhirnya para musafir itu mengambil sebuah besi untuk membuka mulut dan giginya.

Lalu dituangkanlah minuman itu ke dalam mulutnya. Az-Zahid tersenyum. Mereka tertawa.

Demikianlah aneka kisah yang pernah dialami oleh orang-orang saleh untuk membuktikan betapa Allah Yang Mahakasih telah menyediakan rezeki kepada semua makhluk-Nya.

Malah tidak jarang kita temui, manusia-manusia durhaka yang tidak mengindahkan tuntunan-Nya, diberikan lebih banyak kekayaan daripada mereka yang taat beribadah.

Kendati demikian, meskipun Islam tidak mensyariatkan miskin dan kaya, tetapi Islam mewajibkan penganutnya untuk bekerja.

Sehingga  haram hukumnya, dan dosanya sangat besar orang-orang yang berprofesi sebagai pengangguran, kecuali atas alasan yang syar’i. Bekerja bukanlah untuk meraih harta, tetapi bekerja adalah untuk meraih pahala.

Orang kaya tidak lebih mulia dari orang miskin, demikian juga sebaliknya. Mereka memiliki hak yang sama untuk meraih ridha Tuhan.

Suatu ketika, sahabat-sahabat yang miskin mengeluh pada Rasulullah saw. karena kemiskinannya. Karena mereka sama-sama beribadah, tetapi orang kaya bisa bersedekah, dan orang miskin tidak bisa.

Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Setiap bacaan tasbih adalah sedekah. Setiap takbir adalah sedekah. Setiap tahlil adalah sedekah. Memerintahkan kebaikan adalah sedekah.

Mencegah kemungkaran adalah sedekah. Menyalurkan syahwatnya di jalan yang halal adalah sedekah. Setiap ruas tulang berpotensi untuk bersedekah.

Berbuat adil adalah sedekah. Membantu mengangkat beban orang lain adalah sedekah. Kalimat yang baik adalah sedekah. Setiap langkah menuju salat adalah sedekah. Menyingkirkan kotoran di jalan adalah sedekah.”

Begitulah kedudukan kaya dan miskin. Keduanya memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan.

Memiliki porsi yang sama dalam beramal baik. Keberhasilannya adalah bergantung usaha masing-masing.

Ada orang yang tidak siap melarat, sehingga ia banyak mengeluh, mudah berputus asa dan mengambil yang bukan haknya.

Ada orang yang tidak siap kaya, sehingga ia memiliki rasa angkuh dan sombong kepada sesamanya.

Di zaman akhir, tidak akan ada lagi orang yang miskin.

Tidak ada lagi orang yang bersedia menerima sedekah. Dan pada saat yang sama, semuanya menjadi miskin. Sehingga tidak ada lagi kaya miskin. Tidak ada lagi kehidupan. Ketika itulah dunia akan hancur. Demikian, Wa Allāhu A’lam.

Tulis Komentar