Beranda Islami Menjaga Kewarasan dengan Iman

Menjaga Kewarasan dengan Iman

Menjaga waras

Selamat datang di blog kang santri | Hubungan antara keimanan dan ketenangan jiwa sebenarnya dapat dianalisa dan dibuktikan secara medis. Otak manusia berfungsi sebagai pengatur dan pengendali seluruh metabolisme tubuh.

Ada dua macam sistem syaraf di dalam otak manusia yang mengambil peran dalam fungsi tersebut: simpatetik dan parasimpatetik. Keduanya terhubung langsung pada pusat otak bagian atas dan kelenjar endokrin.

Perlu diketahui bahwa manusia tidak memiliki daya sedikitpun untuk mengendalikan metabolisme tubuhnya. Anda tidak mungkin bisa mengatur kekuatan dan kecepatan detak jantung anda sendiri.

Sebagaimana anda tidak sanggup mengendalikan sistem ernaan dan peredaran darah ke luruh tubuh. Pusat kendali untuk semua dapat pada otak bagian tengah yang biasa disebut hipotalamus.

Bagian hipotalamus itu sendiri terhubung dengan kelenjar yang disebut pituitari. Kelenjar ini bentuknya kecil sekali dan beratnya tidak lebih dari satu gram saja.

Meski begitu ia berperan sangat besar bagi tubuh manusia, sebab ia berfungsi sebagai pengatur dan pengendali kelenjar endokrin.

Artinya, benda kecil itulah yang menentukan secepat apa dan ke mana darah anda akan mengalir, juga kapan anda bisa berkeringat dan metabolisme tubuh yang lain.

Aktivitas kelenjar-kelenjar tersebut berhubungan sangat erat dengan kondisi kejiwaan seseorang. Karena secara otomatis perasaan gelisah, resah, sedih atau marah dapat meningkatkan produksi suatu kelenjar dan ketika jumlahnya berlebihan akan mengganggu keseimbangan tubuh.

Kelenjar atau hormon dalam jumlah yang terlalu banyak akan menimbulkan rasa sakit. Begitu pula berlaku sebaliknya, ketika seseorang menderita penyakit tertentu, yang diakibatkan oleh virus umpamanya, itu akan mengubah kondisi saraf dan berakibat pada terganggunya keadaan jiwa orang tersebut.

Di dalam otak manusia juga terdapat kelenjar yang disebut supraprenal. Kelenjar ini berfungsi memproduksi hormon kortisol dan adrenalin. Kedua hormon tersebut, diproduksi berdasarkan kondisi jiwa, yakni ketika seseorang berada dalam keadaan tertekan.

Dalam situasi yang mencemaskan supraprenal akan memproduksi hormon kortisol yang bisa memicu naiknya glukosa. Sedangkan hormon adrenalin dapat memicu naiknya tekanan darah.

Fungsi dan aktivitas sistem saraf simpatetik sangat berkaitan dengan produksi hormon adrenalin dan fungsi kelenjar suprarenal.

Semua fungsi saraf itulah yang bekerja keras ketika seseorang menghadapi situasi penuh tekanan, seperti ketika dilanda perasaan cemas, gelisah, marah atau takut.

Dr. Muhammad Duddin, dalam sebuah makalah ilmiah yang disampaikan di simposium mukjizat ilmiyah dalam Alquran, menyatakan bahwa tubuh dan jiwa memiliki hubungan yang sangat erat dan satu sama lain saling mempengaruhi.

Maksudnya, penyakit yang diderita oleh tubuh sangat erat dipengaruhi oleh kondisi jiwa. Gejala tersebut dikenal dengan istilah psikomatis disorder. Begitu pula sebaliknya, penyakit jasmani juga akan memberi pengaruh pada kondisi kejiwaan seseorang.

Dalam hal ini, sebagian analis menyatakan bahwa pesimisme yang dirasakan oleh seseorang akan bertambah semakin kuat ketika misalnya ia ditimpa penyakit seperti kanker. Keputusasaan dan kegelisahan bisa dirasakan semakin berat dan menekan ketika tubuh seseorang terserang penyakit.

Begitu pula pesimisme juga sangat erat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan lain seperti kesedihan, putus asa, kecenderungan menyendiri, kecewa dan lain sebagainya.

Berbagai penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang erat antar penyakit Kanker dan kegelisahan serta pesimisme.

Kanker akan menyebar dan berkembang lebih cepat ketika seseorang merasa putus asa dan pesimis. Semakin besar rasa pesimis semakin cepat sel kanker berkembang biak.

Keseimbangan Tubuh

Manusia dalam keadaan yang ideal jika semua jaringan dan metabolisme tubuhnya berjalan dengan seimbang. Keseimbangan tersebut, anda tahu, bisa didapatkan ketika anda berada dalam keadaan yang tenang.

Dalam situasi yang paling menekan sekalipun keseimbangan tubuh dan jiwa bisa terjaga apabila anda menghadapinya dengan sabar dan bijaksana.

Keseimbangan dan ketenangan seperti itu bisa diwujudkan jika manusia beriman kepada Allah dengan keyakinan yang benar.

Keyakinan tak tergoyahkan bahwa segala sesuatu di dunia ini berasal da Nya dan hanya akan kembali kepada-Nya.

Anda harus yakin bahwa segala musibah yang menimpa anda terjadi semata-mata karena kehendak Allah Swt, dan karenanya tidak dapat anda hindari.

Dan untuk setiap musibah itu Allah Swt menyediakan ampunan dan pahala yang berlimpah. Dengan keyakinan semacam itu maka anda akan dapat melewati keadaan sesulit apapun dengan tenang dan tawakal.

Karena jika pikiran anda hanya terhubung dengan Allah Swt, maka secara otomatis lepaslah keterkaitan anda dengan pemikiran-pemikiran lain yang bersifat duniawi.

Hal inilah yang kurang disadari oleh kebanyakan orang, terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar, sehingga mereka seringkali dihinggapi oleh stres dan gangguan kejiwaan lainnya.

Alih-alih kembali dan menyandarkan diri kepada Allah Swt, mereka lebih banyak melarikan dari kesulitan dan tekanan hidup pada obat-obatan terlarang.

Mereka menyadari bahwa telah mengambil dan yang sangat berbahaya bagi tubuh dan jiwa mereka sendiri.

Mendidik Akal

Karena itulah islam sangat memperhatikan pendidikan dan pelatihan jiwa sehingga manusia dapat senantiasa menjaga kesehatan tubuh dan jiwanya dengan cara yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam telah mengajarkan berbagai aturan dan syariat yang pada hakikatnya bertujuan untuk mendidik dan menyempurnakan jiwa.

Bagi seorang muslim akal merupakan faktor utama yang menentukan kekuatan iman. Allah Swt berfirman dalam surah Al-Mulk ayat 10:

“Dan mereka berkata, seandainya kami mendengar dan menggunakan akal, tentu kami tidak akan termasuk golongan yang celaka.”

Anda tahu, orang-orang yang tidak menggunakan akal sehatnya untuk menerima seruan ke jalan yang benar akan berakhir terpuruk dan penuh penderitaan di dalam neraka Sair.

Ajaran Islam mengatur, melatih dan mendidik akal sehingga manusia senantiasa mempergunakannya untuk mencari kebenaran dan berjuang untuk mencapai tujuan hidupnya yang sejati, yaitu ridha Allah Swt.

Penulis: Athoillah Santri Langitan.

Tulis Komentar