Beranda Inspirasi Menjahit Kembali Niat Yang Tersobek By Anas Khoirudin

Menjahit Kembali Niat Yang Tersobek By Anas Khoirudin

menjahit

Manusia hidup di duna ini tentu sudah memiliki lakon sesuai takdir yang sudah ditentukan. Selain itu manusia berjalan diatas dunia ini, juga memiliki tujuan. Entah apapun itu, pasti setiap mansia memiliki tujuan dan titik yang dibidik.

Jika mengambil gambaran yang lebih mudah, anak sekolah itu juga harus ada niatnya. Anak sendiri sekolah harus memliki landasan untuk apa ia sekolah?. Sedangkan sang wali atau orang tua,juga memiliki titik bidik sendiri atau niat untuk menyekolahkan anaknya.

Seumpama, anak niat sokalah yang tinggi agar mendapat pengetahuan, ilmu serta pengalaman yang banyak. Sedangkan sang wali/orang ta menyekolahkan anak yang tinggi agar menjadi manusia atau agar menjadi manusia yang berpendidikan atau yang lainnya. Terserah mereka meniati pekerjaannya.

Sedikit lepas dari gambaran. Kita dalami lagi tentang niat, karena betapa pentingnya sebuah niat. Tentu, kita sudah tahu kalau setelah gedebukan hidup di alam dunia. Nanti kita akan menjumpai kehidupan kekal yang bernama akhirat.

Dalam konteks islam, segala sesuatu pekerjaan yang dikerjakan mempunyai tujuan dan niat  masing-masing. Adakalanya mengerjakan sesuatu untuk kepentingan ukhrowiyyah(Akhirat) dan kepentingan dunyawiyyah (Dunia).  Dunia dan akhirat juga memiliki praktek atau pekerjaan sendiri-sendiri.

Contoh jika pekerjaan dunia secara dzahir, sepertihalnya mencari uang, bekerja dan lain-lain. Sedangkan pekerjaan akhiratnya seperti mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, haji dan lain-lain sebagainya. Itupun juga secara dzahiryyah-nya.

Sedangkan dari segi batin, pekerjaan dunia seperti berkerja, mencari uang, dan lain-lainnya dapat menjadi pekerjaan ukhrowi secara hakiki jika diniati untuk menafkahi anak isteri, diniati untuk berbuat baik hasinyal nanti, diniati untuk naik haji hasilnya nanti. Atau yang lainnya.

Sebaliknya pekerjaan ukhrowiyyah seperti sedekah, naik haji, bezakat dan yang lainnya, menjadi  pekerjaan dunyawiyyah jika niat mereka belok. Seperti sedekah hanya untuk medapat pujian, naik haji hanya untuk mendapatkan panggilan pak haji atau ibu hajjah. Dan sebaigainnya.

Namun, yang tahu itu semua hanyalah yang melakukan pekerjaan, apa niatnya melakukan hal sedemikian rupa. Banyak pekerjaan dunia menjadi akherat dan banyak pekerjaan akherat menjadi dunia. Itu semua hanya gara-gara niat.

Dan yang melucuti sekaligus membelokkan hal baik menjadi buruk hanyalah kita sendiri, karena niat mereka yang kurang pas atau tidak cocok. Dan yang bisa mengubah pekerjaan yang terlihat hina sekaligus sepele menjadi baik juga kita sediri. Itupun karena niatnya juga.

Maka dari itu, jika pekerjaan yang baik namun menjadi buruk kareka Kita sendiri yang sering menyobek-nyobek niat. Dan niatpun menjadi tersobek, bukan sobek. Jika sobek ada kalanya pelaku yang menyobek dan tidak. Beda dengan tersobek. Jika tersobek sudah ada hal atau pelaku yang membuatnya sobek.

Jadi, jika niat itu tersobek. hanya saja terlihat sobek. Sebab, yang menyobek-nyobek niat hanyalah kita. Dan kita sendiri belum tentu menyadari kalu kita sedang menyobek sebuah niat yang lurus tersebut. Makanya, kita sering mengeklaimnya sobek, bukan tersobek.

Padahal sejatinya kitalah pelaku penyobek niat kita, karena hawa nafsu yang melalaikan segalanya. Hingga karenanya, niatpun lalai kita sobek daan kita belokkan kearah yang keblusuk. Dan kita masih juga belum mengakui kesalahan yang kita buat, dengan pembelokan dan menyobek niat ini.

Tulis Komentar