Kisah Inspiratif – Menyeka Air Mata

  • Whatsapp
Menutup Air Mata

Air mata yang terus mengalir itu dipaksanya berhenti mengucur ketika seseorang memencet tombol bel pintu tempat kerjanya.

Setelah menyeka kedua matanya dengan dua telapak tangannya, Anggun menyuruh pengetuk pintu untuk masuk.

Muat Lebih

Jiun, semang baginya dan  kawan seperjuangannya, masuk dan permisi untuk duduk di sebelahnya.

Mereka menyalakan rokok bersamaan, dan menghempaskannya bersamaan.

Dalam sekejam ruangan itu penuh dengan asap kelabu.

“Bersiap-siaplah, kawan saya hendak datang kemari. Layanilah dengan sebaik-baiknya. Ini adalah kali pertamanya ia jajan.”

“Malam ini saya mau libur dulu, Mas.”

“Tapi dia menginginkanmu, Anggun.”

“Kenalkan saja sama Sari. Sari lebih cocok untunk membelangi hidung pemula.”

“Saya sudah mengirim foto kalian berdua, dan dia lebih memilih. Maksud saya, dia hanya memenginginkanmu. Hanya kamu.”

“Mood saya sedang buruk, Mas.”

“Jangan kurang ajar, Anggun! Jika tidak ada saya, sudah lama kau akan mati kelaparan.”

Anggun mengubah posisi duduknya, menghadapkan tubuhnya ke arah Jiun, dan menyemburkan asap rokok yang telah banyak ia kumpulkan di mulutnya.

“Ada atau tidak ada Anda, kematian akan tetap datang. Jangan mengambil alih posisi Tuhan sebagai Pengatur kematian seseorang.”

“Cuih! Sejak kapan seorang pelacur menyebut kata ‘Tuhan’? Mau pindah profesi sebagai ustadzah?”

“Terserah Mas mau bilang apa. Malam ini saya ingin berhenti dulu, dan mungkin untuk selama-lamanya.”

“Saat ini, kawan saya sedang dalam perjalanan. Jangan gila, Anggun.”

“Baiklah. Ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Dan saya minta tiga puluh juta bersih.”

“Maksudmu, kamu mau beneran pindah profesi menjadi ustadzah?”

“Saya ingin hidup normal sebagai perempuan, Mas.”

“Malaikat mana yang sedang merasukimu, Anggun? Pelacur adalah perempuan yang paling normal. Pelacur adalah puncak hakekat seorang wanita.”

“Silakan keluar! Saya mau berdandan.”

**********

Di tempat yang disebut-sebut sebagai surga malam itu, Anggun belajar banyak hal tentang pelayanan surga. Ia diajarkan bagaimana menghargai dan memuliakan tamu. Badan harus bersih dan wangi.

Tidak boleh ada bau yang tak sedap, apalagi bekas sperma di badan bekas pelanggan sebelumnya.

Petugas kebersihan hanya bertugas mengganti sprai, merapikan meja dari gundukan minuman keras, menyapu lantai dari debu-debu, dan mengepel lantai dari sperma yang bercecer, atau yang masih membongkal di dalam kondom.

Selebihnya, adalah tugas masing-masing. Menyisir rambut, memakai bedak, bergincu, dan olah vokal perdesahan.

Yang terakhir itulah yang paling penting. Meski sudah bertahun-tahun melayani tamu, setiap mereka harus tetap melatih desahannya.

Jangan sampai desahan itu tidak mampu memuaskan tamunya.

Anggun sudah tampil cantik dengan bedak tebal dan gincu merah menyala, namun tidak menor dan tetap bersahaja.

Tidak lama setelahnya, bel pintu kembali berbunyi. Anggun berpose tidur miring dengan tangan kanan menyangga kepalanya.

Betisnya yang putih dan separuh pahanya dibiarkan terbuka.

Lalu pintu itu terbuka tanpa ada yang mempersilakan membukanya. Bersama Jiun, seorang lelaki berpakaian serba hitam lengkap dengan topi dan kacamata hitamnya berdiri di sampingnya.

Jiun menunduk setengah rukuk dan mengacungkan jempolnya. Pria itu masuk, dan Jiun kembali menutup pintu meninggalkannya.

Pria itu membuka topi dan kacamata hitamnya. Dua aksesoris yang terkadang dijadikan sebagai gaya-gayaan, dan di saat yang lain dijadikan sebuah penyamaran.

Anggun tersedak melihatnya, dan menahan kakakan tawa yang hampir meledak. Pria itu adalah manusia yang sering berbicara tentang banyak hal di televisi, termasuk soal agama.

Hanya saja, yang datang malam ini, melepas jenggotnya, tidak sebagaimana biasanya.

Anggun masih dalam posisinya. Hanya sedikit mengangkat roknya hingga tampak celana dalam merah mudanya.

“Boleh saya duduk?” Dengan sopan pria itu permisi.

Melihat keluguannya, Anggun semakin tak tahan menahan kocaknya. Tapi dalam rangka menghormat tamu, yang tampak di wajahnya hanya senyum manis, semanis-manisnya.

Anggun menjulurkan kembali roknya. Lalu duduk dan memberi ruang duduk untuk pria itu.

“Sudah tahu berapa tarif saya, Mas?”

“Tentu saja.”

“Apa tidak sayang, mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk memperoleh kenikmatan sesaat? Oh … atau jangan-jangan, tarif di sini tidak sampai seperempat tarifmu menjual agama?”

“Maksud Anda?”

“Saya yang seharusnya bertanya. Mas ke sini mau ngewe atau mau berdakwah? Kalau mau ngewe, jangan terlalu banyak basa-basi. Kalau mau berdakwah, yakin tidak tergoda dengan lekuk-lekuk tubuh saya?”

“Saya sudah membayar mahal. Tentu Anda tahu apa yang saya inginkan.”

“Apa Mas tidak takut. Oh, maaf, maksud saya, apa Pak Ustadz tidak takut di sekitar Pak Ustadz ternyata ada tujuh kamera tersembunyi yang langsung tersambung ke internet, lalu persetubuhan kita disaksikan oleh ratusan juta umat Pak Ustadz, dan termasuk di antaranya adalah anak dan istri Pak Ustadz? Atau, apa Pak Ustadz terlalu percaya pada saya, dan meyakini bahwa saya tidak akan menyebarkan bekas sperma dan seberapa ukuran kelamin Pak Ustadz kepada umat manusia?”

Pria itu menghela nafas panjang. Lalu dengan suara wibawanya ia berkata, “Saya punya uang untuk membungkam mulut Anda, atau mempercepat kematian Anda.”

Anggun tertawa. Benar-benar tertawa. Sekalian menuntaskan kelucuan yang sejak tadi ditahan-tahan.

“Pak Ustadz ini kawannya Mas Jiun atau kembarannya sih? Mirip banget loh. Sifatnya. Ancamannya.

Pak Ustadz tanggalkan di mana saja ilmu agama itu? Atau semuanya telah habis Pak Ustadz sedekahkan kepada manusia-manusia tua di masjid-masjid dan ibu-ibu pengajian di studio dan di layar televisi?”

“Saya tidak punya banyak waktu.”

“Siapa bilang waktu Pak Ustadz masih tersisa?”

“Jangan gila! Saya sudah membay …”

Belum habis kalimat itu terucap, Anggun segera melumat bibir pria itu dengan ganas, disertai gigitan manja di bibir atasnya.

Sekitar satu menit kemudian, Anggun melepasnya.

“Bagaimana? Masih kurang juga?”

Anggun lalu melepas seluruh busananya hingga tanpa sehelai benang pun tersisa.

Pria itu menelan ludah, sebelum kemudian memejamkan matanya. Ada guratan penyesalan terpancar di wajahnya. Anggun semakin geli dibuatnya.

“Tubuh saya lebih seksi dari tubuh Bu Ustadz ya?” Anggun telentang di pembaringan dengan posisi mengangkang.

“Pakai kembali pakaianmu!” Pria itu menundukkan pandangannya.

Anggun mengeluarkan sebilah pisau. “Pak Ustadz telah menggagalkan niat baik saya malam ini untuk membantu Izrail menunaikan tugasnya.

Tapi tidak apa-apa. Rupanya Tuhan sedang berbaik hati pada Pak Ustadz, dengan mengulur waktu kematian Pak Ustadz dan tidak mencabutnya saat Pak Ustadz belum sempat mencabut kelamin Pak Ustadz dalam vagina seorang pelacur.

Saya akan menawarkan niat baik saya yang lain. Jika Pak Ustadz mengharapkan uangnya kembali, saya akan usahakan. Tapi tidak bisa semuanya. Ada hak Mas Jiun dan hak pajak yang perlu diberikan.”

“Ti … ti … tidak perlu.”

Anggun kembali mengenakan celana dalam, kutang, kaos merah, dan rok hitamnya.

“Saya memang pelacur. Tapi tubuh saya hanya saya halalkan bagi orang yang benar-benar membutuhkan bimbingan.

Bukan orang yang telah menjadi pembimbing seperti Anda. Dan, yang paling penting dari itu semua, Bukan ilmu agama yang bisa dibanggakan di hadapan Penguasa alam raya, melainkan seberapa kuat ia menahan hawa nafsunya.”

Wajah pria itu memerah menahan malu. Ia kembali memakai topi dan kacamata hitamnya. Anggun membukakan pintu untuk tamunya itu, sebagai penghormatan terakhir untuk tamu yang terakhir.

Setelah pria itu keluar, Anggun memungut tas merah mungilnya. Juga sebilah pisau yang masih suci tanpa uapan darah.

Anggun membuka pintu, dan Jiun sudah berdiri tegak di hadapannya. Wajahnya yang menggarang, membuat Anggun tak tahan lagi menancapkan pisau itu di tepat di jantung Jiun, sebelum keluar sepatah kata.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *