Home Write Menulis Itu Hanya Butuh Kemauan, Lalu Lakukan!

Menulis Itu Hanya Butuh Kemauan, Lalu Lakukan!

Menulis Itu Hanya butuh Kemauan, Lalu Lakukan!

Menulis itu hanya butuh kemauan, kemudian melakukan. Tapi, kadang orang-orang sering terburu-buru dan berkata “Saya tidak bisa menulis, saya tidak berbakat menulis”.

Sekarang saya akan bertanya kepada anda, apakah menulis itu perlu bakat?

Atau menulis itu memang bakat yang dianugrahkan Tuhan sejak lahir?.

Saya rasa kok tidak ya.

Jika dipikir-pikir, menulis itu tidak perlu yang namanya bakat. Atau mungkin inilah kelemahan pendidikan di Indonesia yang kurang melatih siswanya untuk terbiasa menulis, atau mencintai menulis.

Atau mungkinkah sistem pendidikan di Indonesia menyebabkan para siswanya takut dengan menulis?. Sehingga ketika kita diberikan tugas oleh guru maupun dosen ini menjadi momok yang paling menyakitkan.

Uniknya lagi, di kalangan guru maupun dosen, atau bahkan wartawan yang pekerjaanya erat sekali dengan yang namanya menulis, itu pun kadang masih menjadi hantu yang menakutkan.

Dan saya rasa, permasalahan ini sangat menarik untuk dibahas.

Jadi, menulis bukanah soal bakat atau tidaknya.

Alangkah kerennya jika kita berfikir bahwa menulis itu soal keterampilan, kebiasaan yang harus terus dilatih dan di asah secara perlahan.

Artinya, menulis adalah kemampuan yang harus diasah secara rutin.

Untuk bisa menulis, maka harus banyak membaca.

Karena membaca dan menulis merupakan keahlian yang dapat diperoleh dari belajar dan berlatih secara rutin.

Menulis itu bukan soal bakat, menulis hanya butuh kemauan dan lakukan

Menulis itu bukan soal bakat, menulis hanya butuh kemauan dan lakukan

Saya yakin, semua orang yang normal pasti memiliki bakat menulis, kali ini saya akan bercerita sedikit kisah saya sewaktu masih disekolah dasar.

Pertama kali saya jatuh cinta, kenal dengan yang namanya cinta, itu saat saya kelas lima sd. Saya tidak pernah brfikir bahwa saya tidak bisa menulis.

Tetapi, nyatanya saya menulis, dan bisa menulis dan merangkai kata-kata cinta yang kemudian saya berikan kepada seseorang saat itu.

Atau coba anda bayangkan seseorang yang lagi kesepian. Dia tidak akan berfikir apakah dia bisa menulis atau tidak. Pokoknya, apa yang terlintas dalam benak pikirannya, itulah yang akan di tulis.

Buktinya anda sering membuat setatus di facebook, wa, tweeter, dan memberikan komentar-komentar kepada seorang sahabat anda saat anda kesepian.

Sebenarnya menulis itu tidak perlu bakat, meskipun mempunyai bakat yang sama dalam hal menulis, namun perkembangan setiap individu itu berbeda-beda.

Ini bergantung pada lingkungan, juga minat seseorang terhadap menulis yang akan terus mendorong bakatnya dalam menulis.

Tentu, minat saja tidak cukup. Minat itu harus dibarengi dengan upaya yang terus menerus, seperti banyak membaca, banyak bertanya, berpikir, dan berlatih secara rutin tanpa mengenal putus asa.

Memperbanyak Latihan

Perbanyak latihan

Setelah mempunyai minat menulis yang cukup, selanjutnya adalah memperbanyak latihan.

Untuk bisa menulis, kita harus berlatih secara berkesinambungan.

Langkah awal yang bisa saya sarankan adalah perbanyak membaca tulisan yang menjadi minat kita.

Karena saya sendiri mempunyai minat baca ketika saya suka dengan ngeblog.

Sambil membaca, maka kita dapat menyelami, mempelajari dan meniru gaya tulisan banyak penulis.

Setelah kita pelajari banyak gaya tulisan, kita bisa saja meniru gaya tulisan seseorang.

Cobalah pilih salah satu tulisan favorit anda kemudian bacalah, tiru gaya bahasanya. Setelah anda lancar menulis dengan gaya bahasa orang lain, cobalah untuk menulis dari hati dengan gaya tulis anda sendiri.

Saya yakin, yang akan muncul nanti bukan gaya tulisan orang lagi, tapi adalah gaya tulisan kita sendiri, meskipun masih sangat sulit, tetapi jangan berputus asa.

Cobalah pelajari lagi gaya tulisan berbagai penulis. Anda imajinasikan dan gabungkan semua gaya tulisan itu dalam angan-angan, lalu cobalah menulis.

Saya yakin akan muncul gaya tulisan yang khas. Gaya tulisan anda sendiri, gaya tulisan ciptaan anda sendiri.

Jika merasa masih buruk, jangan menyerah. Latihlah terus, sehingga Anda akhirnya menemukan corak dan gaya menulis yang khas.

Gaya tulisan yang sudah muncul ini harus terus dirawat, dikembangkan, dipupuk secara berkesinambungan dengan cara terus berlatih menulis tanpa mengenal batas akhir.

Di awal-awal menulis, pastilah kita sedikit malu-malu. Tentu saja, karena saya dulu juga begitu.

Seiring dengan seringnya saya menulis, akhirnya saya jadi percaya diri, tidak malu-malu lagi. Karena belum tentu mereka bisa menulis atau mau menulis seperti saya.

Anda akan kecanduan menulis

Anda akan kecanduan menulis

Bagi orang yang sudah terbiasa menulis, menulis itu ibarat candu rokok dan kopi. Jika tidak menulis bisa jadi akan sakit-sakitan, bingung apa yang mau dilakukan. Dan, akan sembuh ketika kita sudah menulis.

Orang yang sudah sampai taraf ini, menulis itu sudah menjadi kebutuhan, sehingga dimanapun, kapanpun ia akan selalu berusaha menulis sesuatu yang ia pikirkan dan rasakan.

Sesibuk apapun ia akan mencari kesempatan untuk menulis sesuatu, meskipun itu hanya satu atau dua kalimat. Atau bahkan itu tidak penting-penting amat.

Tanpa disadari, menulis itu merupakan suatu proses mengkombinasikan kegiatan membuat sistematika pada proses berpikir, mencurahkan renungan, proses penjiwaan dan kesabaran.

Dan akhirnya, tulisan ini sudah sampai ke tahap penutupan.

Menulis itu bukan soal bakat. Jangan malu untuk menulis, mari terus belajar dan mengasah kemampuan menulis.

Happy write

Tulis Komentar