Cerita Ngaji di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir

  • Whatsapp
Ngaji di Universitas
Muhhamad Nuchid

Sebelum ke Mesir, saya hanya tahu bahwa al-Azhar adalah universitas. Ternyata, yang lebih azhar justru masjid dan ruwak-ruwaknya. Meski demikian, universitas alAzhar tetaplah bagian yang tak terpisahkan dari al-Azhar.

Pembelajaran antara di ruwak dan di kampus pun sama. Bedanya mungkin hanya, kalau di ruwak yang dikaji adalah kitab-kitab klasik, sedangkan di kampus yang dikaji adalah kitab-kitab kontemporer.

Muat Lebih

Tetapi, sama-sama ngaji. Tidak ada beda baik di ruwak maupun di kampus. Yang ngajar sama-sama kiai, cara mengajarnya pun sebagaimana umumnya kiai.

Tidak ada makalah. Tidak ada presentasi. Tidak ada skripsi. Benar-benar ngaji. Nuansa kengajiannya lebih kental lagi jika yang mengajar adalah dosen yang sudah sangat sepuh, bahasa yang digunakan Arab amiah, tanpa pengeras suara, dan separuh mahasantri lelap dalam tidurnya.

Pernah, ada dosen yang sudah sangat sepuh, marah sekali tatkala ia ngajar, separuh yang diajarnya tidur, seperempatnya bermain gawai, dan seperempat lainnya melamun.

Saya tidak termasuk semuanya. Karena, saya yakin ada keberkahan di sana.

Ada seorang mahasiswa yang menanggapi kemarahan Dosen. Entah dari mana asal negaranya, yang pasti ia bukan dari Arab. Ia berkata, “Jangan salahkan kami! Anda berbicara begitu banyak menggunakan bahasa yang tidak kami pahami.”

Dosen sepuh itu merunduk sejenak. Dengan pandangan yang menghadap tanah. “Keluar ….” katanya dengan nada rendah. “Pulanglah ke negaramu, dan kamu akan mendapati bahasa yang kamu pahami. Keluar!”

Mendadak, saya langsung ingat Bapak. Dulu, setiap Bapak memarahi saya, tidak pernah dia menatap mata.

Bapak bilang, dia sangat menyayangi saya, dia tidak mau menatap mata saya karena takut kebencian tertanam di tatapan kami.

Bapak juga takut, jika mata kami bertemu, akan tersirat doa yang buruk.

Lama, hingga ada yang mengabarkan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah keluar kelas, baru dosen itu mengangkat kepalanya.

“Yā Syabāb, Isma‟ūnī! Jika kalian menghindar dari sesuatu yang tidak kalian pahami, maka bagaimana kalian akan memahami? Jika kalian telah berusaha memahami, dan saya sudah berusaha memahamkan, dan kalian tidak paham-paham juga, maka terlepaslah kita dari kewajiban.

Paham bukanlah tuntutan, hasil bukanlah yang diharapkan. Tuhan sangat menghargai proses. Itu sebabnya, para nabi tidak ada yang diperintahkan mengislamkan kaumnya, yang diperintahkan oleh-Nya hanya berdakwah.

Urusan hidayah, Tuhanlah yang mengaturnya.

“Sebagai pengajar, tugas saya adalah membacakan pelajaran. Sebagai murid, tugas kalian adalah mendengarkan. Lalu hasilnya, kita pasrahkan pada Tuhan. Anā Qāri‟ wi Enta Sāmi‟ wa Allāh al-Hādī.”

Dosen itu kemudian berkisah. Ada seorang ulama sufi yang sangat dekat dengan Tuhan. Ia teramat mencintai murid-muridnya, dan ingin selalu tahu kabarnya, bahkan ketika sang murid sudah meninggal dan tertanam di kuburan.

Pada suatu malam, sufi itu menggali sembilan kuburan muridnya. Masing-masing tubuh dipisahkan dengan kepalanya. Lalu, satu persatu ditusukkan tombak pada setiap kepala. Tiga kepala pertama, tombak tidak dapat masuk pada telinga. Lalu sufi itu berkomentar “Hādzā Mardūd” dan melemparnya. Tiga kepala berikutnya, tombak itu tembus dari telinga kanan ke telinga kiri. Lalu sufi itu berkomentar “Hādzā Mardūd” dan melemparkannya.

Tiga kepala selanjutnya, masuk dari telinga kanan dan berhenti di tengah-tengah. Sufi itu kemudian berkata “Hādzā Maqbūl” sambil meletakkannya dengan sangat hati-hati.

Ketika itu, ada salah satu murid dari sufi tersebut yang menguntit dan mengintip dari balik semak-semak.

Sufi itu sudah tahu, lalu memanggilnya dan menjelaskan terkait apa yang disaksikannya.

“Tiga kepala yang telinganya tidak dapat ditembus tombak adalah murid-muridku yang saat kuajar, dia tidak memperhatikan.

Tidak ada yang masuk ke telinganya, apalagi sampai hatinya. Tiga kepala berikutnya yang tombak tembus dari telinga kanan ke telinga kirinya adalah murid-muridku yang saat kuajar, ia mendengar sekadar mendengar.

Tapi tidak memberi dampak apa-apa. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Semuanya Mardūd.

Tiga kepala sisanya yang tombak masuk dari telinga kanannya lalu berhenti di tengah-tengah, adalah murid-muridku yang ketika kuajar, ia mendengar dengan saksama, dengan hati yang terbuka.

Sehingga apa yang didengar, bersama hidayah Tuhan masuk dalam hatinya.”
Ada sesuatu yang baru saya sadari. Dari tadi sang Dosen berkisah tidak menggunakan bahasa Arab Fusha. Dan, saya memahami.

“Hai, kamu!” Tiba-tiba Dosen menunjuk muka saya. Saya celingak-celinguk, memastikan bahwa memang saya yang ditunjuk. Jari telunjuk saya letakkan di hidung, lalu Dosen mengangguk, “Iya, kamu.”

“Labbayk, Yā Duktūr ….”

“Apakah kamu bersedia saat kamu mati, kugali kuburmu, lalu kupenggal kepalamu, dan kutusukkan tombak di telingamu?”

Kengerian mencekam. Tapi orang-orang tertawa. Begitu sang Dosen ikut tertawa, saya kemudian menyadari, bahwa dia sedang melucu.

“Maaf, Duktur. Bukan saya tidak bersedia, tapi saya tidak yakin Duktur masih hidup saat saya mati,” gumam saya dalam hati.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *