Ngimami, Kerja Atau Ibadah?

  • Whatsapp
Ngimami

Selain menjadi babu di rumah makan Malaysia, saya juga mengupayakan kehadiran uang dengan menjadi imam di sebuah masjid di kawasan Abasia.

Masjid tempat saya ngimami tidak terlalu luas. Hanya berkapasitas ratusan jamaah. Itu pun safnya tidak selalu penuh.

Muat Lebih

Namun, dari jamaah yang hanya sekian itu, sering terjadi perselisihan. Antara lain, ada yang melayangkan protes karena ayat yang saya baca terlalu pendek, ada yang bilang katanya kepanjangan.

Kalau sudah seperti itu, bagaimana ngepasinnya? Ada juga yang berdebat tentang pengeras suara.

Sebagian meminta agar pengeras suara pakai yang dalam saja, takut mengganggu orang yang tidak jamaah. Ada yang meminta agar pengeras suara yang luar dipakai juga.

Katanya sayang kalau suara merdu saya hanya terdengar oleh yang jamaah saja, biarlah menjadi hiburan juga buat yang tidak jamaah, dan agar yang tidak berjamaah menjadi tergerak untuk ikut berjamaah.

Tapi semua itu, kata pengurus takmirnya sudah biasa. “Ini menjadi pelajaran buat kamu untuk ke depannya.

Untuk bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik.mKamu baru memimpin sedikit sekali orang. Dan nanti, jika sudah pulang ke negaramu, akan lebih banyak lagi keinginan-keinginan masyarakat yang lebih membingungkan. Maka, kesempatan ini manfaatkan dengan sebaik-baiknya.”

Selain bertugas sebagai imam, saya juga yang mengumandangkan azan dan ikamah. Di Mesir memang begitu. Yang azan dan ikamah, dia juga yang menjadi imamnya.

Saya menikmati. Kebetulan saya mempelajari banyak lagu azan. Mulai yang kemasjidilharam-masjidilharaman, hingga yang berlanggam Jawa.

Jamaah selalu memuji suara saya. “Padahal dia orang non-Arab, tapi lidahnya lebih fasih dari orang Arab asli.” Kadang, mereka juga merekues lagu apa yang akan saya azankan. Dan begitulah seterusnya.

Yang paling membingungkan sebagai imam adalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya. “Berapa gaji ngimami?”

Tidak dapat dimungkiri memang, dan niat saya memang bukan niat yang mulia. Bekerja. Bukan karena ada ayat yang melarang memperjualbelikan ayat. Karena konteks ayat memang bukan untuk itu.

Tapi, mau tidak mau saya harus menyadari, ngimami memang bukan pekerjaan. Bukan lahan pencarian uang.

Pada mulanya saya memang berniat untuk mencari uang lewat ngimami. Tapi, setelah saya tahu ternyata bayarannya tidak seberapa, saya banting setir niat saya. Menjadi niat ibadah.

Ibadah dalam kacamata saya tentu bermacam-macam. Ya mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari juga ibadah, kan.

Selain itu, saya juga banyak belajar tentang bersosialisasi dengan orang yang bukan siapa-siapa saya. Merajut persaudaraan dengan orang yang sebelumnya tidak kenal, itu juga ibadah.

Banyak amal dunia yang menjadi ibadah jika baik niatnya. Banyak sekali amal ibadah menjadi sia-sia karena salah niatnya. Pada akhirnya, semua itu bergantung pada niat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *