Beranda Islami Sejak Kapan Menikah Muda Menjadi Trend?

Sejak Kapan Menikah Muda Menjadi Trend?

Saya acungkan dua jempol bagi beberapa kawan yang telah diberi keberanian untuk menikah di usia muda. Itu luar biasa. Tapi menjadi tidak menarik lagi jika hal ini dikait-kaitkan dengan Agama, apalagi sampai memandang sebelah mata pada mereka yang belum kepikiran, atau mungkin belum punya keberanian, atau belum punya kemampuan, atau apapun, untuk menjalankan pernikahan sepertinya.

Masalahnya, entah sejak kapan, ini sudah menjadi trend. Lebih mencuat lagi sejak nikahane putra dari Kang Arifin Ilham.

Dakwah ngalor ngidul nggedabrus mengkampanyekan nikah muda, dengan alasan menghindari zina. Seakan-akan hidup ini hanya melulu soal bibir dan payudara.

Seolah-olah Agama hanya memperbincangkan tentang pen*s dan vagin*. Padahal itu hanya bagian kecil dalam kehidupan dan agama.

Dalam kitab-kitab fikih, bab Nikah selalu terletak pada bagian belakang kecuali kitab fikih pernikahan atau fikih persetubuhan.

Pertama, rata-rata bab Thaharah. Laiyo. Cewok durung resik kok wes ngomongno kawin.

Menikah adalah sesuatu yang baik. Ia merupakan sunnah Rasul yang dalam sebuah riwayat dikatakan, Siapa yang membenci, ia bukan tergolong umatnya yang patuh.

Namun yang sering disalahpahami adalah anggapan yang menduga bahwa pernikahan hanya untuk menghalalkan pelukan, ciuman, dan persetubuhan. Jika demikian, lalu apa bedanya dengan pelacuran? Iya.

Bedanya halal. Kalau bedanya hanya itu, hanya tentang halal, perempuan yang berkata, “Nikahi aku!” atau yang lagi booming, “Tinggalkan atau halalkan!” Sama sàja dengan ia berkata, “Cium aku. Peluk aku. Setubuhi aku!”.

Menikah itu baik. Sangat baik. Jika mampu lahir bathin, dan sudah pada waktunya, lakukanlah! Agama menganjurkan. Jika benar-benar belum siap, jangan dipaksakan.

Kalau libidomu terlalu besar, hingga melihat kucing mandi saja sudah berdiri, jangan lampiaskan dengan sabun atau semacamnya, tapi berpuasalah.

Baik berpuasa dalam arti sebenarnya, atau puasa dalam arti mengendalikan nafsu. Demikianlah tuntunan Agama.

Dan yang terpenting, jangan memandang rendah orang yang belum mampu melakukan kebaikan sebagaimana yang Anda lakukan.

Bukan hanya soal pernikahan. Dalam segala hal. Kasus yang sama, sering pula terjadi pada ibadah haji dan ibadah kurban.

Mari berbuat baik, tanpa merasa baik, apalagi menilai orang lain buruk.

Bagi yang belum diberi kesempatan menikah, baik karena masih menyelesaikan studinya, masih terlalu muda, atau apa saja.

Ngertio, Le! Anake Kang Arifin Ilham yang baru 17 tahun tapi sudah nikah itu, dirimu gak usah melu-melu baper. Kono duite akeh. Ora bingung masalah mangan.

Ora perlu jungkir walik molak-malik tetek lan bengek. Sek iso nerusno sekolah. Sek iso nggayoh karir lan cita-citane.

Tonggomu budal kaji tiap tahun, kurban sapi 30 buntut tiap tahun. Ora usah iri. Ora usah ngersulo. Sabarmu iku wes diganjar podo karo kaji lan kurban.

Urip digawe santai wae. Tenang. Relax. Semua akan indah kalau sudah ada duitnya. Demikian, Wa Allāhu A’lam. []

Tulis Komentar