Para Pembenci Aturan Pesantren

  • Whatsapp
Pembenci aturan
@mbae.ngguyu_

Tak ada orang yang suka diatur, maka tak ada orang yang cinta dengan peraturan. Bahkan bayi pun, ketika orangtuanya mencoba mengatur-ngatur, memberikan makanan yang tidak ia sukai, ia akan merengek menangis, menolak sekuat tenaga, meskipun itu demi kebaikannya.

Apalagi orang dewasa. Namun, begitulah hakikat peraturan. la muncul karena alasan dasar yang begitu mulia: kebaikan kita.

Muat Lebih

Semua peraturan, alasannya sama. Aturan agama, aturan sekolah, aturan pondok, hingga aturan keluarga.

Maka semakin kita membencinya, semakin besar pula keburukan menimpa. Sayangnya, alasan kebaikan itu tertutup rapat-rapat dibalik wajah peraturan itu sendiri.

Sehingga membuat kita seringkali lupa, atau bahkan berusaha lupa, bahwa dibalik wajah menjengkelkan peraturan itu, ada senyum manis kebaikan yang tersimpul, menuntun kita sedikit demi sedikit menuju kesuksesan dan kebahagiaan.

Begitu sulit mencintai peraturan. Kita boleh saja sesumbar mematuhi semua peraturan atas kesadaran sendiri, namun itu tak akan bertahan lama.

Satu-dua minggu berjalan, setelah itu kita akan kembali lagi pada kebiasaan lama.

Maka karena sulitnya menumbuhkan rasa cinta, wajah peraturan yang menjengkelkan, bersolek menjadi garang.

la menambah satu hal lain yang dibenci manusia: rasa takut. Maka ia tambahkan hukuman untuk menjerat para pelanggar batasannya.

Selepas itu, peraturan semakin kokoh. Satu atau dua orang yang sengaja maupun tidak sengaja melanggarnya, akan mendapat hukuman, dan akan membuatnya jera.

Sehingga orang itu akan kembali sadar, bahwa itu telah melanggar batas. Sementara yang lain, yang belum pernah akan berhati-hati.

Dari sini maka terbagilah manusia menjadi dua kelompok. Satu kelompok yang berusaha patuh peraturan. Mereka akan terbiasa mematuhinya meski kada satu atau dua kali terpeleset.

Kelompok ini mendapatkan bonus dari pembiasaanya, (Rasa disiplin). Sedangkan satu kelompok lain, mereka tak menghiraukan rasa sadar yang muncul dari hukuman yang menjeratnya.

Ia hanya mementingkan kepuasan sementara daripada kebaikan masa depanya, hingga hilang rasa takut kepada hukuman itu sendiri. Mereka sering disebut pembangkakng.

Namun, meski sampai rasa disiplin tumbuh, peraturan kadang masih terasa menjengkelkan, hukuman masih terasa menakutkan.

Belum ada rasa cinta, hingga sering kali kita bosan, kemudian bertanya-tanya “Adakah guna dari semua hukuman dan rasa takut ini?.”

Hingga ketika kita sadar dan terbebas dari semua peraturan itu, ketika rasa disiplin itu hilang sedikit demi sedikit dari raga, kita akan mulai merasa kehilangan, kehampaan, semua rasa benci dan takut itu telah berubah menjadi rindu. Maka itulah cinta. (Mantan Santri Mbelink)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *