Eka Tyas Werdiningsih, Pembuat Castaher, Camilan dari Bahan-bahan Herbal

Home industry camilan banyak diproduksi di Tuban. Namun, yang bahan bakunya tanaman herbal baru satu produk. Adalah Eka Tyas Werdiningsih, 50, yang menciptakan inovasi produk makanan ringan berbahan tumbuh-tumbuhan yang biasa jadi obat itu.

Daun sirih, daun kenikir, dan buah pare bagi sebagian orang adalah komoditas yang dikonsumsi untuk obat.

Pahit dan kurang menarik. Namun, di tangan Eka Tyas Werdiningsih, tanaman herbal tersebut bisa menjadi camilan yang lezat dan memiliki nilai jual tinggi.

Labelnya Castaher yang merupakan kepanjangan dari camilan sehat tanaman herbal. Pemasaran home industry ini sudah menembus berbagai kota di Indonesia hingga Eropa.

Ditemui di rumahnya Perumahan Widengan Permai blok B3 nomor 3, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Rabu (5/8), wanita paro baya yang akrab disapa Eka itu tengah sibuk membimbing dua pemilik usaha baru yang dilatihnya.

Ya, mendampingi sejumlah usaha kecil menengah (UKM) adalah kesibukan Eka di luar rutinitasnya menjalankan usaha. “Hampir tiap hari mendampingi teman-teman UKM baru untuk berwirausaha,” ujar dia.

Bagi ibu tiga anak itu, dunia kuliner bukanlah hal baru. Dia terjun sebagai pelaku UKM sejak pertengahan 2013.

Saat itu, dimulai dengan membuka usaha keripik olahan kulit ikan kerapu dan belut. Bisnis inilah yang ditekuninya hingga mendirikan UD Sumber Rejeki pada 9 Juni 2017. “Ide bisnis saya selalu memanfaatkan bahan baku yang banyak di pasar,” kata dia.

Ketika muncul ide membuat camilan herbal, yang pertama diolah adalah daun sirih. Eka menjelaskan, alasannya memilih daun sirih karena stok bahan baku tersebut sangat melimpah di Tuban.

Baca Juga : Dua Pemuda Tuban Ini Kembangkan Sayur Organik di Malang

Sementara daun sirih yang dijual di pasar peminatnya sangat minim. Hanya kalangan terbatas. “Muncul keinginan bagaimana cara daun sirih ini diminati anak muda,” ujarnya.

Berbekal pengalamannya, Eka mengolah daun sirih menjadi keripik. Dengan resep khusus, daun sirih yang identik dengan rasa pahit bisa lebih enak saat disantap.

Tentu, dengan tidak menghilangkan khasiat daun tersebut. Ide tersebut terus dia kembangkan hingga memunculkan produk herbal lainnya, seperti keripik daun kenikir dan buah pare. “Diolah camilan, buah herbal ini bisa dinikmati semua kalangan,” tutur dia.

Karena makanannya unik, Castaher begitu cepat meroket. Pemesannya tidak hanya lokal Tuban, namun juga dari berbagai kota. Antara lain, Ponorogo, Kediri, Gorontalo, Bandung, dan Jakarta.

Bahkan, beberapa perantau rutin membeli Castaher untuk dijual lagi di tempat perantauannya. “Ya, rutin dibeli salah satu konsumen dari Indonesia yang merantau ke Jerman,” kata dia.

Juara tiga kategori umum lomba Inovasi Produk Makanan Ringan Diskoperindag Tuban 2017 itu mengatakan, agar tidak menghilangkan khasiat makanan tersebut, dia menekankan untuk tidak menggunakan zat kimia.

Juga tidak menggunakan pengawet. Risikonya makanannya tidak bisa bertahan lama. Maksimal hanya sekitar tiga bulan. “Nah ini jadi kendala kalau kirim terlalu jauh,” kata dia.

Juara harapan Tuban Berinovasi 2019 itu mengatakan, di saat pandemi seperti sekarang ini, usahanya sangat terpukul.

Hampir seluruh reseller atau penjual produknya menghentikan pemesanan sementara waktu. Tiga pekerjanya sementara dirumahkan.

Permintaan menurun membuat Eka juga menyesuaikan produksinya. “Sekarang produksi sendiri dengan dibantu satu anak dan satu karyawan,” ujar koordinator daerah Industri Kecil Menengah (IKM) Jawa Timur wilayah Tuban itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here