Beranda Pendakian Pendakian Gunung Argopuro Jalur Terpanjang di Pulau Jawa

Pendakian Gunung Argopuro Jalur Terpanjang di Pulau Jawa

Pendakian Gunung Argopuro Jalur Terpanjang di Pulau Jawa

Pendakian Gunung Argopuro Jalur Terpanjang di Pulau Jawa | Indonesia adalah Negara yang kaya dengan kekayaan alam, gunung menjadi salah satu aset kekayaan negara kita. Untuk pendaki gunung, selain menjadi hobi, pendakian juga menjadi salah satu travelling paling murah dari semua jenis travelling.

Dalam artikel kali ini saya sedikit berbagi tentang perjalanan saya mendaki Gunung Argoupuro.

Gunung Argopuro sendiri menyandang status jalur terpanjang di pulau Jawa, maka tak heran jika mendaki kesini dibutuhkan waktu lumayan lama.

Di gunung ini terdapat tiga puncak seperti puncak rengganis, puncak hyang dan puncak utama yaitu puncak Argopuro.

Gunung ini terletak di antara kabupaten situbondo dan kabupaten probolinggo, biasanya para pendaki disini memakai metode lintas jalur yakni naik dari kabupaten situbondo tepatnya di desa baderan dan turun di kabupaten probolinggo tepatnya di desa bremi.

Perjalanan dimulai dari kabupaten lamongan menuju terminal bungurasih dengan tarif sebelas ribu per orang,dari terminal ini karena tidak ada bus jurusan situbondo maka ambilah bus jurusan banyuwangi dan mintalah turun di terminal besuki kabupaten situbondo dengan tarif 34 ribu rupiah.

Untuk mencapai basecamp anda di anjurkan sewa jasa ojek yang memang sudah tersedia untuk para pendaki menuju desa baderan dengan tarif 40 ribu rupiah,karena jarak antara terminal ke basecamp memang sangat jauh.

Perjalanan hari pertama

Setiba di basecamp langsung mengurus perizinan,di gunung ini dikenakan biaya per hari senilai 20 ribu rupiah perorang, karena saya dan teman teman mengambil waktu 5 hari maka 100 ribu rupiah perorang.

Dari basecamp juga disediakan ojek untuk menghemat tenaga menuju titik yang anda inginkan seperti makadam, batas hutan, mata air satu, mata air dua dan tarif juga tentunya berbeda tergantung pada titik mana yang anda tuju.

Pada saat itu saya dan teman-teman sepakat sewa jasa ojek menuju pada titik batas hutan dengan tarif 50 ribu rupiah dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit, memang mahal tapi sepadan dengan jarak dan medan yang ada.

Setelah sewa jasa ojek kami melanjutkan perjalanan sampai pada pos mata air satu untuk istirahat sejenak, setelah makan makanan kecil dan istirahat cukup kami melanjutkan perjalanan target hari pertama adalah mendirikan camp di mata air dua, selain adanya mata air juga memang di rekomendasikan untuk camp disitu untuk hari pertama.

Perjalanan hari kedua

Seperti kebiasaan yang sudah sudah, bahwa bangun pagi digunung adalah hal yang tidak mungkin, kami bangun tidur pukul 07:30 WIB.

Setelah masak dan sarapan kamipun packing barang dan kembali melanjutkan perjalanan,jalur yang sebelumnya lebar dan terbuka menjadi sempit dan dipenuhi semak belukar.

Hari kedua ini target perjalanan kami adalah cikasur yang konon katanya bekas lapangan pasukan belanda pada zaman penjajahan dulu.

Sebelum mencapai target kami melewati perbukitan yang mengharuskan untuk naik turun bukit dan sabana seperti sabana satu dan sabana dua.

Perjalanan dari mata air dua sampai sabana satu memakan waktu setengah jam dan lanjut dari sabana satu menuju sabana dua memakan waktu 1 jam setengah dalam perjalanan normal, dilanjutkan menuju cikasur dengan waktu satu jam setengah.

Setiba di cikasur kami pun kembali membangun tenda untuk bermalam di area ini, cikasur adalah sabana yang sangat luas dan perlu diingat bahwa di area ini terdapat zona merah yang artinya dilarang memasuki area tersebut.

Di area ini juga terdapat beberapa bangunan kuno yang sudah rapuh karena mengingat bekas persembunyian dan bandara pasukan belanda dulu dan tidak hanya bangunan saja beberapa hewan pun beberapa kali muncul di area ini seperti babi hutan, burung jalak dan burung merak.

Perjalanan hari ketiga yang menakutkan

Pendakian Gunung Argopuro Jalur Terpanjang di Pulau Jawa 2

Berbeda dengan gunung lainya yang harus bangun pagi karena summit,digunung ini kami bangun sedikit siang karena tidak mengejar summit yakni bangun pukul 06:00 WIB.

Setelah menikmati mentari pagi kamipun bergegas masak, sarapan, mandi dan packing. Karena sumber air di cikasur ini adalah sungai maka kami semua tidak ingin melewatkan mandi di gunung seperti pada gunung lainya.

Perjalanan dimulai dan jalur masih seperti kemarin yaitu harus naik dan turun bukit lagi juga semak yang masih sangat rimbun,tidak heran karena di pegunungan ini memiliki hutan yang bisa dibilang masih perawan.

Di hari ketiga ini target kami adalah rawa embik, disana juga terdapat sumber air.

Karena memang rekomendasi dari pengurus basecamp adalah mendirikan camp di tempat yang terdapat sumber airnya.

Karena jalur semakin kecil dan tertutup kamipun sampai di rawa embik dengan waktu lima jam perjalanan normal. Sebelum sampai di rawa embik kami sempat di kagetkan dengan suara auman harimau yang berada tepat di samping kami, sontak kamipun berhenti bingung antara takut dan lelah.

Dan untungnya Tuhan masih sayang dengan kami sehingga harimau pergi dan tidak menyerang, entah apa yang akan terjadi jika harimau tadi menyerang kami, mungkin beda cerita lagi.

Baca Juga: Pengalaman Mistis Pendakian Gunung Abang 2.152 Mdpl

Perjalanan hari ke empat

Perjalanan di hari ke empat ini adalah hari yang di tunggu karena perjalanan kali ini menuju tiga puncak yaitu puncak Rengganis, puncak Hyang dan puncak utama Argopuro.

Setelah bermalam di rawa embik di pagi hari pukul 09:00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju sabana lonceng.
Sabana lonceng berlokasi tepat dibawah tiga puncak yang akan kami naiki,dari rawa embik menuju sabana lonceng ini memakan waktu satu jam.

Setelah istirahat sejenak di sabana lonceng kami bergegas menuju puncak Rengganis, untuk sampai puncak membutuhkan waktu 15 menit, puncak ini konon dijadikan sebagai tempat bertapa oleh ratu Rengganis pada masa kerajaan dulu, maka tak heran jika terdapat sesajen di puncaknya.

Setelah puas berfoto kamipun turun dan melanjutkan perjalanan menuju puncak Argopuro dan untuk menuju puncak Argopuro dibutuhkan waktu setengah jam, jalur yang berbatu dan tingkat kemiringan yang hampir mencapai 90 derajat membuat kami harus extra hati-hati.

Dan yang kami sesalkan adalah tidak mengunjungi puncak Hyang dikarenakan tenaga kami yang sudah mulai menurun, tapi tidak apalah yang penting sudah mencapai puncak tertinggi ujar kami untuk menghibur diri.

Setelah lelah sedari puncak kami pun masak di sabana lonceng untuk makan siang,meskipun tidak merasa lapar kami tetap harus makan meskipun sedikit, karena kami tidak ingin kehabisan tenaga di perjalanan.

Perjalanan di lanjutkan setelah makan siang menuju taman hidup Argopuro yang sering disebut surganya Argopuro oleh banyak pendaki.

Taman hidup ini adalah danau yang terletak dibawah pegunungan Argopuro tepat pada jalur turun kami nantinya.
Perjalanan dari sabana lonceng menuju Taman Hidup mebutuhkan waktu 3 setengah jam waktu normal.

Jalur yang sebelumnya naik turun bukit berubah menjadi turun saja,tak jarang dari kami yang terpeleset beberapa kali karena jalur yang berpasir dan tenaga kaki yang sudah mulai lemah.

Sesampainya di Taman Hidup kami tidak langsung mendirikan tenda karena mata kami sudah terpanah melihat pemandangan Taman Hidup, sungguh sangat indah sampai kamipun lupa bahwa kami sudah lapar dan lelah.

Setelah puas menikmati Taman Hidup di sore hari kami mulai membangun tenda dan masak,kali ini kami harus bangun pagi karena tidak ingin melewatkan pemandangan mentari pagi muncul dari balik puncak Argopuro.

Perjalanan hari ke lima

Dan tibalah pagi menyambut sang mentari muncul dari balik pegunungan Argopuro,setelah puas menyaksikan keindahan pagi hari kami pun kembali masak, sarapan dan packing lagi karena ini adalah hari terakhir kami untuk perjalanan menuju basecamp bremi.

Untuk mencapai basecamp bremi dibutuhkan waktu dua jam dengan jalur yang melewati hutan lebat,hutan karet dan pemukiman warga desa bremi.

Perjalanan ini adalah rekor terlama kami berada di gunung dan hutan, memang sudah beberapa kali kami menggeluti kegiatan ini namun baru kali ini kami merasakan hal berbeda karena memang benar-benar menyatu dengan alam dan hewan yang ada.

Itulah cerita perjalanan kami di pegunungan Argopuro jangan lupa tetap jaga sikap jaga lisan.
Yuk ketempat yang belum pernah kita tuju,salam Lestari.

Tulis Komentar