Pengertian Qiradh, Riba dan Pinjam Meminjam

  • Whatsapp
Pinjam

Usaha untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan khususnya pendidikan agama islam senantiasa terus dikembangkan melalui pengkajian berbagai komponen pendidikan. Perbaikan dan penyempurnaan kurikulum, bahan ajar manajemen pendidikan, proses belajar mengajar dan lain-lain sudah banyak dilakukan.

Tujuan utamanya adalah untuk memajukan pendidikan nasional dan meningkatkan hasil pendidikan, tidak terkecuali bidang pendidikan agama islam.

Perbaikan dan penyempurnaan sistem pembelajaran merupakan upaya yang paling nyata dalam meningkatkan proses dan hasil belajar para siswa sebagai salah satu indikator kemajuan dan kualitas pendidikan.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar.

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses  yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar upaya tersebut diarahkan kepada kualitas pembelajaran sebagai sebuah proses yang diharapkan dapat menghasilkan kualitas hasil belajar siswa. Maka degan ini kita akan membahas tentang Qirad, Riba dan Pinjam-meminjam.

Penulis sebelumnya minta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun pembahasan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, karena penulis hanyalah manusia yang lemah. Dan semoga makalah ini dapat diterima oleh dosen pengampu dan juga semua peserta diskusi.

Pengertian Riba
Menurut bahasa, riba memiliki beberapa pengertian yaitu:
a. Bertambah (الزيادة) karena salah satu riba adalah meminta tambahan dari suatu yang dihitungkan.
b. Berkembang, berbunga (النَّمُ), karena salah satu perbuatan riba adalah pembungakan harta uang atau yang lainnya yang dipinjamksn kepada orang lain.
c. Berlebihan atau mengelembung.

Macam-macam Riba
Menurut pendapat sebagian ulama’ riba itu adabeberapa macam:
a. Riba fadli ialah menukarkan dua barang sejenos dengan tidak sama.
b. Riba qardi ialah utang dengan syarat ada keuntungan bagi yang memberi utang.
c. Riba yad ialah berpisah dari tempat aqat sebelum timbang terima.
d. Riba nasa’ ialah disyaratkan salah satu dari kedua barang dipertukarkan ditagguhkan penyerahannya.

Sebagian ulama’ hanya membagi tiga macam saja, yaitu riba fadli, riba yad, riba nasa’, riba qardi termasuk dalam riba nasa’.

Dalam islam dikenal dua bentuk riba: berada dalam wilayah utang piutang yakni riba nasiah, dan yang satu lagi berada dalam wilayah jual beli yang disebut dengan riba fadhal. Penggunaaan kata pertama ialah  secara hakiki dan penggunaannya terhadap yang kedua adalah majazi.

Hukum Riba
Adapun dasar haramnya riba nasiah adalah kuat dan tegas sekali baik dari al-qur’an hadis dan juga ijma’ dasar al-qur’an terdapat dalam beberapa ayat diantaranya adalah:
Firman Allah al-Baqarah ayat 275:

أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمالرِّبَا

Artinya:Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Adapun dasar hadis Nabi begitu banyak, di antaranya adalah hadis dari Jabir menurut muslim dan juga diriwayatkan al-Bukhari yang berasal dari Abu Juhaifah;

لعن رسو اللّه صلى اللّه عليه وسلم اكل الربا وموكله وكتابه وشاهديه وقال هم سواء

Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang mewakilinya, penulisnya dan dua orang saksinya, Nabi berkata; “Mareka semua sama”.

Adapun dasar hukum dari haramnya riba fadhal memang tidak ditemukan secara khusus dalam al-Qur’an. Dasar hukumnya ditemukan dalam beberapa hadis nabi, diantaranya adalah dari Abu sa’id al-khudri menurut riwayat yang muttafaq ‘alaih.

ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تبيوا اذهب بالذهب الاا مثلا بمثل ولا تشفوا بعضها على بعض ولا يتبعوا الوقار باالورق الا مثلا بمثل ولا تشفوا بعضها من بعض

Sesungguhnya Rasul Allah SAW. Telah berkata :”janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali bila sama ukuranya. Janganlah kamu melebihkan sebagian terhadap sebagian lain. Janganlah kamu menjual uang kertas kecuali sama jumlahnya dan janganlah kamu lebihkan sebagian terhadap sebagian lain.

Begitu pula hadis Nabi yang lebih luas cakupanya dari ‘Ubadah bin Shamit menurut riwayat Muslim:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الذهب بالذهب والفضة بالفضة وا لبر با البر واالشعير باالشعير وا التمر با التمر وا لملح با لملح مثلا بمثل سواء بسواء يدا بيد فاذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد

Rasul Allah SAW. Telah bersanda : “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama ukuran dan timbanganya dan tunai.

Bila jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu asalkan secara tunai”.
Walaupun keharaman riba fadhal dalam hadis tersebut diatas terbatas pada 6 jenis barang saja, namun dapat diperluas kepadasemua jenis barang yang dapat ditakar dengan timbangan dan takaran berdasarkan qiyas.

Alasan hukum dari riba ini adalah tidak sesuainya tindakan tersebut dengan prinsip Islam yang menyuruh umatnya untuk menolong sesama umat tanpa pamrih.

Tindakan ini pun hanya kesenangan dan kerelaan di satu pihak sedangkan Islam menghendaki kesenangan dan kerelaan timbal balik. Tindakan ini juga akan dapat merusak kehidupan orang yang terpaksa.

Demikianlah beberapa contoh bentuk muamalah dilarang oleh islam. Bila suatu transaksi sudah berlangsung sesuia dengan persyaratan tersebut di atas apa pun bentuk dan jenisnya dan tidak terdapat larangan yang jelas dari Nabi dan tidak menyalahi prinsip umum yang ditetapkan dalam al Quran, maka transaksi jual- beli tersebut adalah sah.

Jual-beli yang sah itu secara garis besar dapat dikelompokkan pada beberapa bentuk. Bila jual – beli dilangsungkan menurut harga yang sudah ditentukan  atas dasar harga bebas pasar yang ditentulan oleh persediaan dan penawaran ; tidak terkait pada harga pembelian semula disebut jual-beli musawamah.

Bentuk lain adalah harga jual beli dikaitkan kepada harga pembelian setelah ditambahkan biaya pengangkutan dan penyimpanan. Bila harga jual disepakati melebihi harga beli dalam jumlah tertentu sebagai keuntungan, disebut dengan jual beli murahabah.

Bila harga jual yang disepakati sama dengan harga beli sebelumnya, disebut tawliyah Bila harga jual beli disepakati adalah krang dari harga beli sebelumnya, dinamai jual beli wadhi’ah.

Hal-hal yang Menimbulkan Riba
Jika seseorang menjual benda yang mugkin mendatangkan riba menurut jenisnya seperti seorang menjual dari salah satu dari dua macam mata uang, yaitu mas dan perak atau sejeni makanan yang atau bahan makanan seperti beras, gabah dan gabah dan yang lainnya, maka di syaratkan:

a. Sama nilainya (tamasul)
b. Sama ukurannya menurut syara’ baik timbangannya, takarannya maupun ukurannya.
c. Sama-sama tunai (taqabuth)di majelis akad.

Pengertian Mudharabah
Mudharabah adalah bahasa penduduk irak dan qiradh atau muqaharadhah bahasa penduduk Hijaz. Namun, pengertian qiradh dan mudhaharah adalah satu makna.

Mudharabah bersal dari kata al-harab, yang berarti secara harfiah adalah bepergian atau berjalan . Sebagaimana firman Allah:

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Dan yang lainnya, bepergian di muka bumi mencari karunia Allah (AL-Muzamil: 20)
Selain al-dhrab, disebut juga qiradh yang berasal dari al-qrdhu, berarti al qath’u (potongan) karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungannya. Ada pula yang menyebut mudharabah atua qiradh dengan muamalah.
Jadi, menurut bahasa, mudharabah atau qirad berarti al-ath’u (potongan), berjalan, dan atau bepergian.

Menurut istilah, mudharabah atau qiradh dikemukakan oleh ulama sebagai berikut:

a. Menurut para fuqaha, mudharabah ialah akad antara dua pihak (orang) saling menanggung,salah satu pihak menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk diperdagangkan dengan bagian yang telah ditentukan dengan keuntungan, seperti setengah atau seperiga dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

b. Menurut Hanafiyah, mudharabah adalah memandang tujuan dua pihak yang berakad yang berserikat dalam keuntungan (laba), karena harta diserahka kepada yang lain punya jasa mengelolah harta itu. Maka mudharabah ialah:

عَقْدٌ عَلَى الشِّرْكَةِ فِرّبْعِ بِمَالٍ مِنْ اَحَدٍ  الْجاَنِبَيْنِ وَعَمَلٍ مِنَ الأَخَرِ

“akad syirkah dalam laba, satu pihak pemilik harta dan pihak lain pemilik jasa.”
c. Malikiyah berpendapat bahwa mudharabah ialah:

عُقْدُ تَوْ كِيْلِ صاَدَرَمِنْ رَبِّالْمَالِ لِغَيْرهِ عَلَى اَنْ يَتَّجِرَ بِخُصُوْصِ النَّقْدَيْنِ (الذّهَبِ وَ الْفِضَّةِ)

“akad perwakilan , dimana pemilik harta mengeluarkan hartanya kepada yang lain untuk diperdagangkan dengan pembyaran yang ditentukan (mas dan perak)”
Rukun dan Syarat Mudharabah

Menurut ulama’ Syafi’iyah rukun-rukun qirad ada enam yaitu:
a. Pemilik barang yang menyerahkan barang-barangnya
b. Orang yang bekeja yaitu, orang yang mengolah barang yang diterima dari pemilik barang
c. Aqad mudharabah di lakukan oleh pemilik dengan pengolahan barang.
d. Mal, yaitu harta pokok atau modal.
e. Amal, yaitu pekerjaan pengelolaan harta sehingga menghasilkan laba.
f. Keuntungan.

Menurut Syyid Sabiq, rukun mudharabah adalah ijab dan qobul yang keluar dari orang yang memiliki keahlian.

Syarat syarat sah mudharabah adaah sebagai berikut:

a. Modal atau barang yang diserahkan itu berbentuk uang tunai. Apabila barang itu berbentuk mas atau perak batanga (tabar), mas hiasan atau barang dagangan lainnya, mudharabah tersebut batal.

b. Bagi orang yang melakukan akad disyaratkan mampu melakukan tasharruf, maka dibatalkan akad anak anakyang masih kecil, orang gila, dan orang orang yang dibawah pengampuan.

c. Modal harus diketahui dengan jelas agar dapat dibedakan antara modal yang diperdagangkan dengan laba atau keuntungan dari perdagangan tersebut yang akan dibagikan kepada du belah pihak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

d. Keuntungan yang akan menjadi pemilik pengelola dan pemilik modal harus jelas persentasinya, umpamanya setengah, sepertiga, atau seperempat.

e. Melafazkan ijab dari pemilik modal, misalnya aku serahkan uang ini kepadamu untuk dagang jika ada keuntunganakan dibagi dua dan kabul dari pengelola.

f. Mudharabah bersifat mutlak, pemilik modal tidak, mengikat pengelola harta untuk berdagang di negara tertentu, pada waktu-waktu tertentu, sementara di waktu lain tidak karena persyaratan yang mengikat sering menyimpan dari tujuan akad mudharabah yaitu keuntungan.

Bila dalam mudharabah ada persyaratan-persyaratan, maka mudharabah tersebut menjadi rusak (fasid) menurut pendapat al-Syafi’i dan malik. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Ahmad Ibnu Hanbal, mudharabah tersebut sah.

DAFTAR PUSTAKA

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), 57.
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (bandung: Sinar Baru Algensindo Offeset, 2012), 290.
Amin Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2005), 209.
Abdul Rahman Ghazaly Dkk, FiqihMuamalah (Jakarta: Kencana, 2010), 247.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *