Home Cerita Penikmat Nostalgia

Penikmat Nostalgia

Penikmat Nostalgia

Nostalgia memang tidak pernah gagal membuat seseorang tersenyum dan tertawa sendiri seperti orang gila. Dan jika penostalgia tidak pandai menguasai gejolaknya, niscaya ia akan hanyut dalam arus kenangan bersama air matanya.

Persis satu tahun aku di pesantren, kejadian yang luar biasa dahsyat menghampiriku. Sebuah mimpi yang bukan saja mengerikan, tapi juga menggelikan, dan juga memberi sensasi kenikmatan yang tak terbayangkan. Mimpi basah.

Bersama guru matematika. Namanya Nur Azizah.

Bu Nur, demikianlah sapaan akrabnya, adalah seorang gadis cantik yang baru saja lulus S-2 dari universitas ternama di Surabaya.

Dia guru baru yang menggantikan Pak Nasrul mengajar matematika di kelas kami. Sejak mimpi itu, aku selalu dag-dig-dug-der setiap jadwal dia mengajar.

Ketika dia menulis, aku tidak pernah memerhatikan apa yang ditulis, tapi pandanganku justru terfokus pada jemarinya yang indah itu.

Ketika dia menjelaskan pelajaran, tidak terdengar olehku apa yang dibicarakannya, karena fokus pandanganku terpusat pada gerak bibir basahnya yang mengalahkan segalanya, juga payu dara besarnya itu.

Mungkin ini yang oleh banyak orang sering disebut-sebut dengan cinta. Aku jatuh cinta. Sepertinya.

“Anak ini benar-benar parah,” komentar Yayang setelah kuceritakan mimpi itu, “tidak punya sopan santun. Masa mimpi basah sama guru.”

“Namanya juga mimpi, Yang.” Bejo membelaku.

“Tapi mimpinya itu membawanya untuk jatuh cinta, Jo.”

“Di mana letak kesalahan seseorang yang jatuh cinta, Yayang?”

“Bu Nur itu sudah tua. Kalau tidak salah, usianya sudah dua puluh sembilan. Sudah hampir kepala tiga. Jauh, jika dibanding Tawa yang baru tiga belas tahun. Yang baru sekali mimpi basah. Kalau Tawa nikah di usia dua lima, berarti Bu Nur sudah usia …” Yayang menggerakkan jemarinya, menghitung-hitung.

“Empat puluh satu,” sahutku.

“Iya, itu. Kamu hanya akan mampu menikmati making love di malam pertama, kedua, ketiga, dan mungkin beberapa malam setelahnya saja. Kemudian, tidak lama setelah itu, yang ada hanyalah ketidakharmonisan. Karena pertumbuhan perempuan itu lebih cepat, sementara laki-laki semakin tua akan semakin bergairah. Apalagi sejak semula pasanganmu itu sudah lebih tua. Ketika dia sudah mengalami metamorfosis …”

Baca Juga: 6 Cerita yang Akan Mengubah Cara Anda Melihat Kehidupan

“Metamorfosis?” koreksiku memotong celotehnya.

“Metamorfosis itu sudah tidak bisa haid lagi, karena sudah tua.”

“Menopause, kali!”

“Iya, itu maksudku. Nah, ketika dia sudah mengalami menopause, sementara kau masih berada pada puber kedua, atau yang di dunia medis disebut dengan …”

“Perimenopause.”

“Iya, itu. Kan lucu … Lalu mau kau lampiaskan di mana anumu itu?”

“Pernikahan tidak melulu soal bersetubuh, kan?”

“Ya, memang. Tapi itu yang paling utama. Dan, perbedaan usia yang sejauh itu selisihnya bukan hanya berdampak pada urusan ranjang, tapi juga soal perbedaan sudut pandang, karir, kepemimpinan, kematangan jiwa, kematangan fisik, dan masih banyak hal lainnya.

“Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah?”

“Itu kan Rasulullah. Kamu kan … Ah, entahlah. Lagi pula, memangnya Bu Nur mau menunggumu sampai dua belas tahun lagi?”

“Aku akan menikahinya selepas lulus Tsanawiyah.”

“Jangan gila! Di usia segitu, memangnya kamu sudah bisa begituan?”

“Setiap yang sudah menikah pasti bisa. Itu ilmu ladunni. Otomatis.”

Perdebatan terus berlanjut. Sebenarnya aku sendiri merasa, tema ini terlalu dewasa untuk usia kami.

Tulis Komentar